Secangkir Kopi yang Pecah di Pagi yang Hujan

46761-Coffee-And-Rain

(sebuah cerpen)

Sebenarnya aku juga agak kesulitan merangkai cerita ini. Hujan ringan membangunkanku di Sabtu pagi. Kemudian saja aku teringat akan hujan-hujan lainnya yang pernah turun di siang, sore, maupun malam hari. Aku teringat akan obrolan-obrolan ringan yang membuat lupa waktu. Aku merindukan hidangan enak di restoran mewah yang mengisi makan malam kita beberapa jam yang lalu.

Hujan di pagi hari memang selalu menggoda siapapun untuk menarik selimut dan kembali tidur. Tapi entah kenapa pagi ini aku ingin bergegas bangun. Kumasak sepanci air panas untuk kemudian kularutkan dalam bubuk kopi hitam pekat. Dua butir telur ayam kupecahkan di atas wajan. Dengan segera kuangkat dan kuhidangkan di piring, aku suka telur setengah matang yang masih mengepul panas.

Bersamaan dengan itu pun aku berandai-andai, jika saja kamulah yang pagi ini menyiapkan sarapanku, aku tidak keberatan makan telur dadar gosong sekalipun.

Sembari menyeruput kopi, kuambil sebuah kartu tebal di atas meja makan. Sebuah kertas dengan desain indah dan mewah, yang merupakan undangan pernikahanmu. Namamu nangkring manis di sana, bersama nama lelaki yang akhirnya bisa kau cintai. Acaranya akan mulai dua jam lagi dari sekarang.

Sejak aku pertama mengenalmu di bangku SMA, kepalaku sering dipenuhi adegan tentang kehidupan rumah tangga kita jika misalnya kita menikah. Aku membayangkan tentang bulan madu kita ke pantai yang mungkin dikacaukan oleh hujan badai, tentang menunggaknya tagihan keperluan rumah tangga kita, tentang nakalnya anak-anak kita yang membuat kita sering dipanggil kepala sekolah, dan lain sebagainya.

Semuanya terasa indah jika aku melaluinya bersamamu.

Berandai-anda di saat muda itu memang enak. Namun, di saat muda pun aku ingat akan jawaban pertama dan terakhirmu, yang lantas menentukan arah pergaulan kita sepuluh tahun ke depan. Sebuah kata “tidak” yang cukup tegas. “Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta padamu,” katamu tegas.

“Terima kasih,” jawabku.

Besoknya pun kita masih sering berlari melewati hujan sepulang sekolah. Aku masih sering bertandang ke rumahmu dan bahkan main di kamarmu. Kita mendengar lagu rock kesukaanmu keras-keras dan melompat-lompat di atas kasurmu. Katamu, kau senang jika aku main ke rumahmu. Karena hanya di saat aku datang ke sini, ayahmu tidak membentak dan memukuli ibumu.

Itukah kenapa kau menolakku? Apakah kau membenci lelaki karena perbuatan ayahmu pada ibumu? Kamu tahu, menjadi lesbian adalah preferensi seksual yang sangat aku maklumi.

“Tidak,” jawabmu. “Aku masih tertarik pada laki-laki, hanya saja memang bukan kamu.”

Baiklah.

Aku tidak tahu kenapa teman-temanmu jadi mencibirmu karena masih berteman denganku. Mereka bilang kau keterlaluan, karena masih dekat denganku kendati telah menolakku mentah-mentah. Aku juga tidak paham kenapa teman-temanku juga memintaku untuk menjauhimu serta mencari perempuan lain. Mereka bilang, aku seperti berusaha memelihara anjing yang sudah mati. Memperjuangkan sesuatu yang memang sudah tamat.

Mereka hanya tidak paham bahwa kita memang masih membutuhkan satu sama lain. Aku mencintaimu dengan perasaan yang mendalam. Aku membutuhkan keberadaanmu, karena aku hanya bisa bernafas dengan udara yang kau hembuskan. Hanya dengan begitu aku bisa hidup.

Sementara kamu? Kamu jelas membutuhkanku. Kamu membutuhkanku di rumahmu tiap waktu agar keluargamu damai tanpa kekerasan. Kamu membutuhkan pundakku kapanpun kamu ingin menangis karena dizalimi nasib dan lelah menafsir jalangnya dunia. Kamu membutuhkanku agar ayahku tetap mempertahankan ibumu bekerja di perusahaannya, demi menghidupi kamu anak tunggalnya.

Apa yang salah? Bertahun-tahun kita menjalani hubungan seperti itu.

Bahkan ketika kita duduk di bangku kuliah, tidak ada yang benar-benar berubah. Kita tetap dekat dan saling menjaga. Aku tetap di sini menemanimu, tidak pernah benar-benar terpikir untuk mencari perempuan lain.

Aku ingat pernah bertanya padamu suatu hari: mana yang lebih menyakitkan? Kehilangan orang yang mencintai kita, atau tidak pernah dicintai sama sekali? Dengan tegas kamu mengatakan, lebih sakit kehilangan orang yang mencintai. Jauh lebih enak jika kita tidak pernah dicintai siapapun sekalian.

Penjelasanmu cukup rumit. Katamu, memang miris jika tidak pernah ada orang yang benar-benar mencintai kita. Neraka macam apa itu? Namun, kehilangan yang kita cinta adalah pengalaman terburuk dalam hidup kemanusiaan.

Taruhlah kita menemukan kekasih yang cocok, apa yang akan terjadi? Kelak orang yang mencintai kita tersebut akan mati meninggalkan kita, atau ia pergi karena akhirnya lebih mencintai orang lain. Kalau sudah begitu, neraka terasa jauh lebih nikmat.

Hingga akhirnya sepuluh tahun berlalu, sampai undangan pernikahanmu ini kuterima. Kita pun masih bisa makan malam berdua di restoran hotel yang mewah tadi malam. Kita sudah lama tidak berjumpa, kesibukan karir di saat dewasa membuat kita agak lupa bertegur sapa. Tapi toh, malam ini kita kembali menghabiskan waktu bersama. Kita berbincang panjang lebar dan menertawakan masa muda kita yang indah.

Kau pun menyerahkan kartu undangan itu, sembari juga menceritakan tentang calon suamimu. Kau bercerita bagaimana kalian bertemu. Sederhana saja, kau mendaftar kerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ritel kecil, dan laki-laki yang kelak akan jadi suamimu itu adalah atasanmu.

Kalian berpacaran setelah dua bulan kau bekerja, dan kalian memustuskan menikah setelah enam bulan berpacaran. Sesederhana itu. Bertentangan dengan prinsipmu, kau pun kini mengambil seorang kekasih, yang artinya mengambil resiko untuk kehilangan orang yang mencintaimu kelak, ketimbang tidak pernah dicintai sama sekali. Sepertinya hidup memang terlalu sesak jika dijalani sendirian, katamu.

Kau pun juga dikagetkan oleh pilihan yang kau buat sendiri. Betapa misteriusnya perasaan cinta, katamu. Kau merefleksikan apa yang telah terjadi pada kita berdua selama ini. Sudah sepuluh tahun kau mengenalku, berteman baik denganku, bahkan kau tahu betapa aku memujamu, namun kau tetap tidak bisa jatuh cinta padaku. Sementara calon suamimu itu baru mengenalmu dua bulan, dan baru berpacaran denganmu enam bulan, dan cukup dengan itu kau sudah merasa yakin bahwa kau telah jatuh cinta.

Sembari kau bercerita, kau memandang lampu kristal di langit-langit restoran dengan tatapan menerawang. Betapa kamu heran menyaksikan dinamika hatimu sendiri. Betapa kau bingung membenahi kompleksitas rasa yang menjangkitimu selama ini. Namun, akhirnya semua itu selesai setelah kau tahu siapa yang memang bisa membuatmu jatuh cinta.

“Bagaimana denganmu?” kau tanya balik padaku. “Kudengar kau telah menjadi arsitek terkenal sekarang. Klienmu sudah bukan lagi orang lokal, kudengar kau sampai diperebutkan oleh investor dari Qatar dan Eropa. Hidupmu sukses seperti mimpi. Apa akhirnya kamu berhasil menemukan perempuan lain selain aku?”

Aku tersenyum tipis, dan menggeleng pelan.

“Aku masih jatuh cinta padamu, hingga hari ini, dengan perasaan yang masih sama seperti saat aku pertama kali melihatmu di bangku SMA. Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya,” kataku pelan

Kau terdiam, aku pun terdiam. Sejenak hening dan kita berdua tenggelam dalam benak masing-masing. Hingga akhirnya aku berdiri dan berjalan menjauh. Kubuka pintu balkon dan berdiri di tepi beranda, angin malam mengelus mukaku lembut. Gedung ini adalah karya pertamaku, sengaja kubuat ada restoran di lantai sepuluh agar bisa kubuat balkon cantik ini, dengan sudut pemandangan  yang baik karena menghadap secara presisi ke arah jantung gemerlapnya cahaya kota. Aku ingat saat pertama kali membuat rancangan untuk balkon ini, yang entah kenapa kupersiapkan untuk melamarmu kelak.

Kau berlari menyusulku.

“Kenapa?” katamu panik.

“Aku tidak bisa mencintai perempuan lain, sebagaimana kau tidak bisa mencintaiku. Kamu mencintai calon suamimu, sebagaimana aku pun mencintaimu. Masuk akal bukan?”

Cahaya bulan menerangi balkon tempat kita berdiri. Aku membuang muka dan mengalihkan mataku pada gemerlapnya cahaya kota.

“Boleh kuminta satu hal terakhir darimu?” kataku akhirnya.

“Boleh saja,” katamu segera.

“Bolehkah aku memelukmu?”

Kami pun berpelukan, seperti sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu. Namun, diam-diam kuelus punggungmu seperti kekasih. Kau diam saja. Bahkan kucium lehermu mesra, seolah-olah kulit lembutmu adalah alasan terakhirku untuk hidup. Kau tidak melawan.

“Maafkan aku,” bisikmu sedih di telingaku. “Aku tidak mau menyiksamu lebih lama lagi, sudah sepuluh tahun. Tolong jangan buat aku mendorongmu dari balkon ini agar kau mati dan tidak lagi kusakiti. Tolong, carilah perempuan lain.”

Aku pun melepas pelukan kita, dan masih aku menggeleng.

“Aku tidak merasa tersakiti,” kataku. “Aku menikmati tiap detik dimana kau masih hidup. Jadi, tolong jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup di dunia dimana kau ada.”

Kamu terdiam, bisu.

“Lagipula, pernikahanmu tidak akan merubah apapun bukan?” kataku ceria. “Maksudku, kamu masih mau jalan-jalan dan makan bersamaku bukan? Ajak saja suamimu. Kita perkenalkan padanya tempat-tempat nongkrong kita di kota ini.”

Kamu tersenyum tipis.

Sebelum pulang, aku pun memintamu untuk memiliki anak yang banyak. Karena aku ingin sekali menggendong anak yang bermuka mirip denganmu. Dunia akan lebih indah jika makin banyak orang yang memiliki rupa sepertimu. Oh ya, aku lupa ya bilang bahwa kamu sangat cantik? Percayalah, jika nanti aku punya umur yang lebih lama darimu atau suamimu, aku akan merawat dan menjaga anak-anakmu seolah mereka anak-anakku sendiri.

Beberapa jam kemudian, seperti di awal narasi ini tadi, hujan pagi membangunkanku. Dalam diam aku menikmati telur mata sapi setengah matang bersama secangkir kopi panas. Rasanya sepi sekali hidup di rumah sebesar ini sendirian. Aku memimpikan dirimu ada di sini menyiapkan sarapanku dan mengemas bekal untuk anak kita. Aku bahkan membayangkan anak kita akan berlarian liar di rumah ini dan memecahkan guci mahal kesayanganku yang kubeli dari Taiwan. Namun, itu tidak akan pernah terjadi.

Hening.

Kuseruput kopiku lagi, baru aku sadar bahwa aku lupa memasukkan gula. Aku benci kopi tanpa gula. Rasanya menjijikan. Dengan kesal kulempar cangkir kopiku ke tembok. Bunyi pecahannya menggema di seluruh ruangan, memecah keheningan yang menyiksaku bertahun-tahun, serpihan belingnya bertebaran di lantai.

Aku mengunyah telur mata sapiku sambil menggerutu.

“Ya, daripada minum kopi tanpa gula, lebih baik tidak minum kopi sama sekali.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s