Kronologi Kosmik (Bagian 1)

537901_10200601991396315_1345591063_n

 

Pertama-tama, saya bingung harus cerita dari mana. Saya pun juga bingung apa yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Hidup yang saya jalani satu tahun terakhir ini agak absurd. Saya tidak paham bagaimana fenomena-fenomena kosmik yang terjadi secara acak dalam hidup ini ternyata terkoneksi satu sama lain dengan amat unik, teratur, dinamis, dan multidimesional.

Awalnya, saya mengira saya hanyalah aktor kecil dalam jagad kosmos kehidupan saya, sehingga saya hanya perlu mengikuti arahan sutradara bernama “nasib”. Namun akhirnya, saya mulai percaya bahwa sayalah sutradara dalam hidup saya sendiri.

Percayalah, jika anda punya keyakinan dan cita-cita yang teguh, maka seluruh semesta akan mematuhi komando anda dan memainkan perannya masing-masing. Seperti yang terjadi pada saya setahun terakhir ini. Dalam narasi ini, saya ingin menceritakan kisah sederhana yang saya alami selama setahun ini. Tentang kejadian yang terjadi dan orang-orang luar biasa yang saya temui dan bagaimana seorang anak laki-laki udik telah dibimbing oleh alam semesta untuk menjalani hidupnya dengan baik.

Tidak istimewa barangkali, tapi bagi saya, sepenggal kisah ini yang telah banyak merubah perspektif saya pada hidup. Bagi yang belum kenal siapa saya, halo, saya adalah Hamzah Zhafiri Dicky, mahasiswa UGM semester 6 (saat tulisan ini dibuat). Selamat membaca J

Kosmik 1

Awalnya, ada sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggam. Dikirim oleh Aisya Dianmar Adzani, mahasiswi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga teman saya dari SD. Aisya ini, atau saya memanggilnya Dani, mengajak saya untuk bergabung di kelompok KKN yang tengah ia bentuk.

1341077256665729460_300x168.75KKN adalah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata, sebuah kuliah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa UGM. Inti dari KKN ini adalah, mahasiswa UGM membentuk (atau dibentuk) sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa mahasiswa berlainan jurusan. Nantinya kelompok ini (yang maksimal berjumlah 30 mahasiswa) akan melakukan pengabdian di sebuah daerah yang masih terbelakang dan memberdayakan masyarakat daerah tersebut. Periode KKN normal adalah dua bulan. Sederhana bukan?

Syahdan, begitulah saya, Hamzah Zhafiri Dicky, yang saat itu adalah mahasiswa Sosiologi UGM semester 5, menerima tawaran Aisya dengan senang hati. Saat itu, masih ada satu tahun lagi sebelum masa KKN dilangsungkan. Sebenarnya ada dua pilihan untuk menjalani KKN: Pertama, membentuk kelompok dari jauh hari. Kedua, menyerahkan diri untuk diploting oleh UGM pada kelompok tertentu.

Pilihan yang kedua jelas tidak enak. Saya baru akan memiliki kelompok saat satu bulan sebelum terjun lapangan. Tentunya bagi saya sangat tidak nyaman bila harus bekerja selama dua bulan bersama orang yang baru sebentar saya kenal.

Sehingga pilihan pertama saya pilih tanpa pikir panjang. Alasannya jelas: agar saya lebih punya waktu untuk mempersiapkan diri selama setahun dengan programnya, dan punya waktu untuk mengenal anggota kelompoknya.

Sedikit tentang Dani, seperti yang saya bilang tadi, dia adalah teman saya sejak SD. Saya tidak terlalu dekat dengannya saat SD dulu, tapi kedua ibu kami entah kenapa dekat sekali seperti saudara. Kami pun sering mengunjungi rumah masing-masing. Di kelas 4 SD saya pindah sekolah, begitu juga dengan Dani. Kami tidak pernah bertemu lagi selama sepuluh tahun sejak itu. Kecuali ibu kami yang lagi-lagi masih nampak seperti saudara.

Sepuluh tahun kemudian saya masuk UGM dan bertemu lagi dengannya. Ibu kami pun senang luar biasa. Saya dan Dani pernah pulang kampung bersama ke Bogor. Keluarga saya pun main ke rumah keluarga Dani, dan sebaliknya, Dani berkunjung ke rumah saya dan menunjukkan keahliannya membuat pizza. Cukup mengharukan, setelah sepuluh tahun lamanya berpisah, saya akhirnya bisa bermain kembali dengan teman SD saya. Keluarga besar kami berdua juga sudah saling mengenal. Tanteku adalah kakak kelas ibunya Dani saat kuliah.

Begitulah, keajaiban kosmik yang pertama. Ajakan Dani untuk bergabung ke kelompoknya adalah awal dari kisah mistis ini.

Kosmik 2

Waktu itu malam hari, sehabis Maghrib atau Isya kalau tidak salah. Saya kelimpungan mencari Dani dan teman-teman kelompok KKN lainnya. Malam ini, kami akan melaksanakan rapat di suatu tempat di selasar gedung Grha Sabha Pramana (semacam Great Hall di UGM). Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya kutemukan juga mereka.

Rapat sudah dimulai. Pesertanya sekitar 10 orang.

Diskusi sedang berjalan. Perkenalan singkat kulakukan. Sekilas aku paham bahwa kelompok ini memang baru mau dibikin. Inisiatornya adalah Riri, mahasiswi Antropologi UGM, dan Bintang, mahasiswa Ilmu Komputer UGM. Keduanya adalah orang asli Ponorogo, dan KKN yang akan kami ajukan ini memang bertempat di Ponorogo.

Riri, adalah orang yang paling berapi-api dan aktif. Ia pun bercerita: yang menjadi sorotan utama dalam KKN ini adalah pemberdayaan masyarakat penderita retardasi mental. Konon, di Ponorogo, tepatnya di dusun Karangpatihan, terdapat banyak sekali masyarakat yang menderita keterbelakangan mental. Masalah di desa ini ternyata telah lama menjadi sorotan pemerintah dan media. Bagaimana tidak, jumlah penderita retardasi mental atau tunagrahita di Karangpatihan cukup banyak. Hal ini tidak hanya berakibat pada isu kesehatan penduduknya, namun juga produktivitas ekonomi desa tersebut. Banyak analisis yang menerangkan bagaimana sejarah Karangpatihan bisa dilanda kelahiran tunagrahita tersebut. Kemenkes konon juga pernah turun tangan untuk melakukan riset penyelidakan di sana. Beberapa hipotesisnya antara lain: bisa jadi karena maraknya perkawinan silang di sana, atau rendahnya konsumsi pangan bergizi di kalangan penduduknya.

Program-program pun mulai kami pikirkan, dari mulai pemberdayaan ekonomi, pengembangan pendidikan, penyuluhan kesehatan, sampai pendampingan medis bagi para penderita tunagrahita. Salah seorang anggota kami, Fira, adalah mahasiswi Psikologi. Dialah pencetus dari dari poin yang terakhir. Kami pun percaya dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki Fira, ia pasti bisa mencetus pemberdayaan utama bagi tunagrahita. Sayang, Fira adalah satu-satunya mahasiswi Psikologi di sini.

Sepulang saya dari rapat tersebut, sebuah pesan singkat muncul kembali di telepon genggam, dari Aisya: “zah, kamu ditunjuk jadi bendahara ya.” Aku hanya terbengong.

Kosmik 3

Dengan persiapan lebih dari setahun, saya yakin bisa mempersiapkan diri dengan baik. Mesin pencari internet saya gunakan untuk mempelajari sosok Karangpatihan. Di situlah saya menemui sebuah nama: Eko Mulyadi. Beliau adalah kepala desa Karangpatihan yang berjuang memberdayakan desanya dari keterpurukan. Dari sebuah narasi blog yang saya temui, saya mempelajari bahwa mas Eko memberdayakan para tunagrahita dengan mengajari mereka budidaya ikan lele. Hasilnya pun lumayan, para tunagrahita bisa memiliki kolam lele sendiri dan memanen hasilnya dengan baik.

Bintang pun menyempatkan diri untuk datang ke Karangpatihan ketika dia sedang pulang ke rumahnya di Ponorogo. Dia pun berdiskusi dengan mas Eko terkait kondisi di Karangpatihan dan harapannya bila kami benar melakukan KKN di sana. Transkrip diskusi Bintang dengan mas Eko diperlihatkan oleh Bintang di grup facebook KKN kami, saya pun semakin bersemangat untuk mempelajari Karangpatihan lebih lanjut.

Rapat demi rapat berlalu dengan stagnan bersama kelompok baru ini. Tidak banyak hal yang terjadi karena masing-masing dari kami punya kesibukan sendiri dan tidak semuanya selalu bisa menyiapkan waktu untuk ikut rapat. Tapi dua nama itu selalu saya ingat: Karangpatihan dan Eko Mulyadi.

imam-prasodjo

Imam Budi Prasodjo

Kosmik 4

Februari 2014, saya pulang ke Bogor untuk menikmati libur semester. Dan jika saya sedang menikmati pulang, tidak lupa saya berkunjung ke Jakarta, bertemu dengan eyang, eh, pakde Imam Budi Prasodjo.

Siapakah beliau? Siapa ya? Aih, singkatnya, pertama beliau adalah kakak dari ibu saya. Kedua, beliau adalah dosen Sosiologi UI dan sudah cukup terkenal sebagai tokoh LSM. Ketiga, beliaulah yang menyesatkan saya untuk berkuliah di jurusan yang saya jalani sekarang. tiga yang lalu, saat saya sedang berjuang mati-matian untuk menempuh SNMPTN, dialog ini terjadi:

“Pak, ini Hamzah mau ngomong sama kamu!” kata ibu Gitayana Prasodjo, istri pak Imam. Sang suami yang dipanggil pun mempersilahkan aku duduk di ruang keluarganya. Entah kesamber petir apa, suasana jadi agak serius.

“Pakde, aku mau kuliah nih. Enaknya jurusan apa ya?” kataku memelas.

“lha, kamu maunya apa?”

“Aku udah riset, aku mungkin mau ngambil Kesejahteraan Sosial. Ini cocok dengan minat aku untuk bekerja di LSM atau departemen pemerintah yang mengurusi pemberdayaan masyarakat.” Kataku mantap.

Beliau pun tersenyum dan memberiku nasihat yang tidak akan pernah aku lupa:

“Kesejahteraan Sosial, di luar negeri disebut Social Work, adalah jurusan yang memang mempelajari pemberdayaan masyarakat di lapangan secara aplikatif. Intinya kamu jadi pekerja lapangan. Work! Itu memang bagus. Tapi…”

Tapi?

“Tapi pakde saranin kamu masuk Sosiologi. Kenapa? Karena Sosiologi itu induknya Social Work. Di Sosiologi bukan hanya pekerjaan lapangan yang dipikirkan. Tapi kamu akan diajari untuk menjadi perumus kebijakan di level atas. Kamu bisa menyusun kebijakan strategis yang bukan hanya pemberdayaan lapangan, tapi lebih luas, yaitu arah pembangunannya sendiri.”

Dan singkat cerita, di sinilah saya tiga tahun kemudian. Sudah semester 6 di Jurusan Sosiologi UGM. Saya masih ingat dengan baik saat dulu menerima pengumuman bahwa saya tembus SNMPTN, Pak Imam bangga luar biasa pada saya.

Dan kini, pada Februari 2014. saya kembali menemui beliau dengan kondisi yang cukup serius:

“Pakde, aku pamit, mau KKN.” Kataku memelas.

“Oh, KKN dimana?”

“Di Ponorogo pakde.” Sekilas aku menjelaskan tentang Ponorogo dan kondisi di sana, tentang Karangpatihan dan Eko Mulyadi, serta rencana-rencana sok mulia yang terpikirkan oleh sel otak saya yang kerdil.

“Oh iya! kalau tidak salah si bapak itu dapat penghargaan Kick Andy Heroes tahun ini.” Kata pak Imam.

Aku tidak paham maksud pakdeku ini apa. Tapi dengan penjelasan lebih lanjut dari beliau, aku mulai paham.

Jadi ceritanya, pakdeku ini menjadi juri di acara penganugerahan Kick Andy Heroes 2014. Tahu kan? Acara di Metro TV itu lho. Dan usut punya usut, mas Eko ternyata diangkat menjadi pemenang penghargaan itu.

“Eh, tapi kamu jangan bilang-bilang dulu ya! Ini masih rahasia!” Katanya panik.

Hihihi. Aku jadi geli. Setahuku tahun lalu di Kick Andy Heroes 2013 pak Imam lah salah satu orang yang mendapat penghargaan itu. Sekarang beliau menjadi juri untuk tahun 2014. Dari peserta terus jadi juri. Huehehehe.

 

36501_10200323184628174_1948677762_nKosmik 5

“Hamzah, ayo cepet!” kata bude Gita. Saya berjalan terseok-seok karena baru saja mengganti baju di toilet. Sekarang ini kami sedang di studio Metro TV. Dengan sekali jurus, pakde Imam memberikan aku satu kursi penonton di syuting malam penganugerahan Kick Andy Heroes itu. Disertai juga dengan kesempatan untuk bertemu mas Eko di belakang panggung nantinya. Oh, senangnya.

Bukan pertama kalinya aku menyaksikan studio TV, dari kecil aku juga sudah sering melihat bapakku yang sutradara memimpin sebuah syuting. Tapi tetap saja, melihat sebuah acara TV langsung di studio itu sensasinya sangat beda.

Dalam acara malam ini, para tokoh-tokoh inspirator yang selama ini banyak dihadirkan oleh acara Kick Andy akan dipilih beberapa di antaranya untuk diberikan penghargaan spesial.

Pak Imam bersama Romo Mudji, Komarudin Hidayat, dan Yenny Wahid adalah juri yang akan menentukkan siapa yang berhak mendapat penghargaan tersebut.

Dalam acara itu, turut hadir juga sejumlah tokoh seperti Jusuf Kalla, Boediono, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Mahfud MD, dan Abraham Samad. Satu per satu mereka akan secara simbolis memberikan penghargaan kepada para pemenang.

Jusuf Kalla maju pertama, diawali pidato singkat, beliau memberikan penghargaan tersebut pada Dr. Lie Agustinus Darmawan, seorang dokter yang menggagas “kapal rumah sakit”. Seperti namanya, kapal ini adalah rumah sakit yang mengapung dan memberikan bantuan medis bagi masyarakat pesisir pantai.

Abraham Samad kemudian maju dan menganugerahi Slamet Suriawan Sahak, seorang pria dari Desa Ijo Balit, Kecamatan Labuhan Haji Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Daerah tempat pak Slamet ini tinggal konon memang memprihatinkan, lokasinya sangat kering tandus dengan luas 1200 hektar. Kemudian bapak Slamet bergerak memobilisasi warga untuk membuat jalur pengairan dengan membelah bukit yang besar agar menjadi aliran sungai ke desa. Tidak tanggung-tanggung, butuh 30 tahun untuk pak Selamet menuntaskan misinya.

hero-profil-06-eko

Eko Mulyadi

Kemudian ibu Yenny Wahid tampil, diawali dengan pidato singkat, kemudian diputarlah dokumentasi singkat tentang Karangpatihan dan bagaimana seorang pemuda desa bernama Eko Mulyadi mengajari penduduk keterbelakangan mental untuk membudidaya lele. Usaha mas Eko awalnya ditertawakan banyak orang, namun dengan usaha yang tekun, ia pun berhasil.

Wah, luar biasa. Saya beruntung mendapat mitra seperti ini di KKN nanti. Hari dimana saya menerima ajakan dari Aisya beberapa bulan yang lalu merupakan hari keberuntungan saya.

Selama acara itu pun saya jadi merenung sendiri. Orang-orang yang hadir di atas panggung itu, tidak semuanya berlatar orang-orang akademis, kebanyakan justru masyarakat biasa yang hanya ingin lingkungan tempat ia dilahirkan menjadi lebih baik, entah kondisi fisik maupun masyarakatnya. Tidak ada dari mereka yang melakukannya demi uang, kekuasaan, apalagi demi memenangkan penghargaan ini.

Mereka adalah pahlawan tanpa publikasi, hanya karena kebetulan saja Pak Andy menemukan mereka, maka cerita mereka terekspos. Tapi aku yakin pahlawan seperti mereka ada banyak sekali di luar sana. Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Bukankah itu yang dibutuhkan bangsa ini? Beribu tangan-tangan “kecil” di tiap-tiap ruang lokal yang menyusun peradaban Indonesia, balok-demi-balok menjadi monumen raksasa?

Kosmik 6

Singkat cerita, syuting berakhir. Semua tamu-tamu dan tokoh-tokoh yang hadir di acara saling bersalaman dan menjalin relasi. Hampir saja saya ingin iseng menyandung kaki Boediono saat dia lewat di sebelah saya. Lumayan, siapa tahu saya digebukin Paspampres dan masuk TV.

Tanpa sadar, saya menciut di sudut studio, merasa kerdil di antara orang-orang besar dan terpandang. Sebelum akhirnya ibu Gita menarik saya.

“Ayo! Katanya mau ketemu mas Eko!”

Para peraih penghargaan yang sedang bersuka cita itu berkumpul di ruangan artis yang tertutup. Ibu Gita dengan berani menarik saya dan menerobos masuk. Lagi-lagi saya merasa sangat amat kerdil diantara orang-orang yang sudah banyak berprestasi itu. Mereka semua saling bercengkerama dan menceritakan pengalamannya masing-masing di bidang yang telah mereka geluti selama ini.

“Oh iya, ini mas Eko, ini keponakan saya Hamzah,” kata Pak Imam memotong. Seluruh majelis terdiam.

Dengan kecanggungan luar biasa, saya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa UGM yang berniat melakukan KKN di Karangpatihan. Untuk itu, saya memohon bantuan dan dukungan mas Eko sebagai kepala desa yang sudah terbukti berprestasi di sana.

“Oh ya? Bagus! Kayaknya kemarin ada juga anak yang main ke rumah saya bilang mau KKN.” Kata Mas Eko ramah.

“Waktu itu teman saya ada yang main ke tempat mas Eko, namanya Bintang,” kataku.

“Iya iya! Itu dia Bintang! Oh jadi itu teman kamu? bagus deh! Saya juga sudah punya rencana untuk memajukan Karangpatihan. Seperti misalnya membangun sistem teknologi IT desa yang bagus.” Mas Eko antusias.

“Lho, jadi kalian sudah saling kenal?” tanya pakde Imam.

“Iya pak Imam, mereka ini memang berniat KKN di daerah saya. Nanti mereka akan tinggal bersama saya.” Kata Mas Eko. “Eh, saya minta nomermu mas.”

Sweet. Pucuk dicinta ayam KFC tiba! Aku kira aku yang bakal harus meminta kontak mas Eko, ternyata sebaliknya.

Para majelis di ruang artis pun senyum dan manggut-manggut. Aku langsung melipir ke sudut kecil ruangan karena merasa udik.

Keberuntungan saya tidak berhenti sampai di situ. Saya mendapat bingkisan goody bags dari Kick Andy. Isinya adalah 1001525_10203446195621425_156529578_nmerchandise berupa kaos KIck Andy serta sebuah buku profil para pemenang Kick Andy Heroes 2013. Seperti yang diduga, pak Imam ada di situ sebagai peraih penghargaan itu tahun lalu. Tapi yang membuat saya heran adalah nama penulis buku itu: Wisnu Prasetya Utomo. Kenapa sepertinya pernah dengar?

Kosmik 7

“Begitulah Rifa, beruntung banget aku bisa dateng di Kick Andy itu dan ketemu Mas Eko. Lumayan juga masuk TV dikit.” Kataku.

Dini hari jam 12 malam aku ngobrol lewat telepon dengan temanku, Arifanny Faizal, mahasiswa Hukum UGM, temanku di Pers Mahasiswa Balairung.

“dan yang paling bikin aku kaget, tadi aku cek facebook dia, dan ternyata memang bener. Penulis buku profil tokoh Kick Andy Heroes 2013 itu beneran mas Wisnu, alumni Balairung itu. Wah, semuanya jadi pas begini.”

Yup, aku tidak tahu maa yang kebetulan dan mana yang takdir.

Dari awal aku merasa hanya kebetulan saja diajak ikut KKN ke Ponorogo oleh Aisya, temanku sejak SD. Lalu ternyata pakdeku, pak Imam Prasodjo, selaku juri Kick Andy Heroes telah mengenal mas Eko Mulyadi, kepala desa berprestasi di daerah KKNku. Dan seolah jadi pemanis ini semua, orang yang menulis buku Kick Andy Heroes 2013 adalah mas Wisnu, kakak angkatanku di organisasi Pers Mahasiswa yang kuikuti.

Si Arifanny, atau kupanggil Rifa, berkata dari seberang telepon sana.

“Dunia memang sempit.”

Ya, sempit… atau mungkin petualanganku berikutnya akan sangat menyenangkan.

me

Hamzah Zhafiri Dicky, fuckyeaaah

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s