Cerdas Pilah Informasi

images

Pesta lima tahunan itu akhirnya terulang kembali. Rakyat Indonesia secara demokratis kembali harus memilih siapa yang akan memimpin bahtera negara ini. Hal tersebut bukan perkara gampang, tentu kita tidak mau memiliki nahkoda dan kru kapal yang tidak cakap, lantas kapal ini harus karam dan tenggelam di tengah lautan.

Indonesia punya sejarah panjang dan berliku dalam menjalani kehidupan berdemokrasinya. Tengok saja buku pelajaran sejarah kita, yang versi siswa SMP pun tidak masalah. Di sana akan kita temukan cerita tentang Demokrasi Terpimpin maupun Liberal, tentang Orde Lama dan G30/S, tentang Orde Baru dan bagaimana kita nyaris punya presiden seumur hidup, hingga terakhir Reformasi 1998 saat pemilu multi-partai pertama kali bergulir. Secara khusus, sangat menarik mengamati bagaimana Pemilu kita berkembang. Di mana Parpol peserta Pemilu yang tadinya mencapai puluhan, kini menciut hingga tinggal dua belas, namun gegap-gempitanya makin semarak dari lima tahun ke lima tahun.

Ya, rakyat Indonesia sedang belajar berdemokrasi. Persis seperti negara-negara dunia ketiga lainnya yang, menurut ramalan Huttington, memang akan terkena “ombak demokrasi”. Masyarakat makin berani berkampanye dan beraspirasi. Apalagi dengan didukung keajaiban dunia moderen bernama internet, dan seiring dengan itu lahir pula media baru bernama socmed, membuat ruang diskusi, pertukaran informasi, dan aspirasi makin luas saja. Argumen dan kontra argumen dilemparkan dari segala arah. Namun, sudahkah kita cukup bijak dalam menikmati mewahnya hidangan demokrasi ini?

indexJika kita membuka facebook, nyaris mustahil tidak bertemu dengan materi kampanye yang di-share oleh teman-teman kita sendiri. Materi tersebut bisa datang dari mana saja. Baik media berita nasional yang resmi, lalu media berita yang mungkin kurang resmi (biasanya memiliki basis keagamaan tertentu), blog individu, portal berita warga (citizen journalism), atau bahkan sekedar notes dan status facebook seseorang. Fakta dan opini tercecer kemana-mana, tercampur aduk seperti gado-gado. Bahkan berita yang mengaku “fakta” pun ternyata sering sekali tidak terverifikasi, namun sialnya tetap diamini. Begitulah, konsekuensi logis dari abad moderen adalah apa yang disebut Bill Kovak sebagai “banjir informasi” (Information Overload).

Lantas, apakah keindahan banjir informasi adalah sesuatu yang haram? Tentu tidak. Asalkan digunakan dengan benar dan dikonsumsi dengan bijak. Caranya pun cukup sederhana. Mulailah dengan selalu skeptis atas informasi yang beredar. Cari referensi sekunder bila perlu. Membaca informasi dari media resmi nasional mungkin akan lebih baik ketimbang membaca situs blog pribadi yang penuh dengan teori konspirasi dan sensasional. Tentu tidak bisa dipungkiri juga bahwa media formal pun punya tendensi tertentu dan seringkali tidak berimbang. Maka itu, penting juga untuk mengawasi politik masing-masing media. Adakah di antara mereka yang disokong kekuatan tertentu? Nah!

Kita pun perlu giat dalam mencari informasi sendiri, jangan sekedar merujuk pada status facebook teman kita. Mulailah untuk mencari tahu sendiri: apakah benar Jokowi terlibat dalam korupsi Bus Transjakarta? Apakah benar Prabowo menculik aktivis? Belakangan banyak tulisan opini atas jalannya debat capres-cawapres yang diadakan beberapa waktu lalu. Para pendukung Jokowi menilai capres mereka unggul dalam acara itu, argumen mereka disertai dengan cuplikan transkrip debat tersebut. Hebatnya, pendukung Prabowo pun melakukan hal yang sama. Tidak ketahuan siapa sesungguhnya yang unggul. Sehingga, daripada merujuk pada salah satu dari opini mereka, kenapa tidak kita tonton saja sendiri debatnya dan nilai sendiri?

Social media MarketingDengan kekuatan besar, kita punya tanggungjawab besar, itu kata pamannya Spiderman. Begitu pula dengan menikmati demokrasi. Tidak bisa kita menikmati limpahan informasi dan kebebasan berekspresi tanpa tanggung jawab untuk menggunakannya dengan bijak.

Akhir kata, kitalah yang memilih nahkoda daripada bahtera yang kita tumpangi. Memilih pemimpin yang menurut kita tepat adalah hak kita, bahkan tidak memilih pun masih menjadi hak kita. Menjadi cerdas dalam berdemokrasi adalah kemestian bagi kita sebagai warga negara.

 

 

 

Hamzah Zhafiri Dicky. Mahasiswa Sosiologi UGM. Kepala Biro Humas Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung UGM.

1174660_3537502653718_2096522608_n

 

Versi lebih pendek dari opini ini telah dimuat di koran Kompas edisi Jum’at, 20 Juni 2014 dalam rubrik “Mahasiswa Bicara” di tajuk “Indonesia Satu” (tajuk Kompas yang mengulas Pemilu). Ini adalah tulisan asli yang belum disunting sama sekali, baik oleh penulis maupun redaktur Kompas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s