Keping Terakhir

puzzle-pieces-3 

Aku suka permainan puzzle. Unik sekali bagaimana kita diuji untuk mengingat bentuk sebuah gambar utuh, dan kemudian menyusun kembali gambar itu dari keping-keping yang tercecer.

Filosofis. Kita belajar bahwa sebuah figur akan indah bila ia lengkap. Jika ada satu kepingnya saja yang tidak ada, maka gambar itu tiada elok. Tidak ada yang lebih hina daripada segambar puzzle yang kehilangan sekeping bagiannya. Gambar itu hanya akan diludahi dunia, lantas masuk dalam keranjang sampah.

Saat aku kecil, aku bisa menghabiskan berjam-jam membongkar-pasang koleksi puzzleku. Aku meminta hadiah puzzle pada ibuku tiap kali aku berulang tahun. Tidak pernah minta hadiah lain. Bukan karena ekonomi kami melemah sejak ayah meninggal, tapi karena hanya permainan puzzle yang aku suka. Sederhana saja.

Pernah suatu kali ibuku membelikan gameboy mutakhir yang sedang populer di sekolahku. Teman sekelasku iri dan selalu memohon padaku untuk meminjamnya. Ironis, aku malah malas memainkannya. Alat bodoh itu hanya kumainkan untuk bermain puzzle. Bentuk permainan puzzlenya elektronik, aku tidak suka. Tidak lama, gameboy itu kuberikan pada temanku yang tidak mampu membelinya. Aku kembali pada puzzleku yang tradisional.

Ibuku tidak keberatan. Dia senang melihat anak laki-lakinya begitu menyenangi permainan yang mengasah otak. Terhitung sejak aku berumur tujuh tahun sampai aku berusia delapan belas, dia selalu memberiku setumpuk puzzle sebagai hadiah ulang tahun. Aku akan selalu kegirangan menerimanya, seolah baru pertama kali menerima benda ajaib itu. Sehari-semalam aku menyelesaikan puzzle-puzzle itu tiap tahun.

Suatu hari di ulang tahunku yang ke-delapan belas, ibuku mengalami kecelakaan dalam perjalanan membelikan puzzle hadiahku. Di samping tubuhnya yang sekarat, di kamar rumah sakit yang terasa pekat, ibu memberikan puzzle terakhir itu padaku. Sebuah puzzle bergambar bentuk hati berwarna merah muda.

Aku segera membongkar keping-kepingnya dan berjibaku menyusunnya kembali. Saking asyiknya sampai aku tidak menghadiri pemakaman ibu. Kukerjakan terus puzzle itu dengan berlinang air mata, berhari-hari lamanya. Belaian dan pelukan saudara dan teman-temanku yang memintaku untuk beristirahat tidak kugubris.

Aneh, untuk pertama kalinya aku tidak bisa menyelesaikan sebuah puzzle. Tiap kali aku menyusun gambar itu keping demi keping, aku terisak melihat sosok hati yang makin terbentuk. Aku selalu jatuh pingsan sebelum gambar itu selesai.

Sejak kejadian itu, anehnya aku tidak berbalik membenci puzzle. Malah akhirnya aku makin mencintai permainan ini. Salah satu alasannya adalah karena kamu juga mencintainya, dan aku mencintaimu.

Singkat cerita, ibu meninggalkanku dan aku dirawat oleh pamanku. Ia tidak bisa menggantikan peran ibu, tapi ia merawat dan menyekolahkanku dengan baik. Meski tentu, ia tidak pernah membelikan puzzle sebagai hadiah ulang tahunku.

Tahun-tahun berlalu, hidup berjalan dengan semu, hingga akhirnya kita bertemu di bangku kuliah. Kau kakak kelasku saat itu, seorang mahasiswi cantik idola kampus. Di tengah kejaran banyak lelaki-lelaki tampan, kau malah tertarik melihat aku, seorang mahasiswa pendiam yang duduk di kursi belakang namun selalu mendapat nilai bagus.

Suatu hari kamu mengunjungi kosanku dan mendapatiku sedang bermain puzzle. Kamu pun ikut bermain untuk mengakrabkan diri denganku. Lama-kelamaan, kamu pun jatuh cinta pada permainan itu, dan aku jatuh cinta padamu. Sederhana sekali.

Kamu menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatku pergi hang out seperti anak muda tiap malam minggu. Menggantikan kebiasaanku bermain puzzle di kamar tiap malam. Aku pun menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatmu betah memainkan puzzle berjam-jam lamanya. Ternyata bermain berdua jauh lebih asyik. Kita bahkan bisa memainkan dua sampai tiga puzzle secara bersamaan.

Pernah suatu kali aku bermain puzzle sendirian. Saat sudah hampir selesai, aku sadar ada satu keping terakhir yang hilang. Aku sangat sakit hati melihat gambar di papan itu berlubang tepat di tengahnya. Sungguh tidak elok, hampir-hampir aku menangis.

Tidak lama kemudian, di tengah hujan lebat, aku mendengar ketukan di pintu. Di situlah kamu, membawa keping terakhir itu. Ternyata secara tidak sengaja kamu membawanya saat terakhir kali kita bermain. Sambil basah kuyup dan menangis kamu bercerita bagaimana kamu nekat berlari menerjang hujan untuk mengembalikan kepingan ini. Hanya karena kamu tahu betapa aku mencintai permainan ini dan akan sakit hati melihat gambar di papan puzzle yang tidak sempurna.

Aku mengambil kepingan itu dari tanganmu dan membantingnya ke lantai. Kupeluk tubuhmu yang basah kuyup dengan raga dan jiwaku. Betapa naifnya aku. Kaulah kepingan berhargaku dari dulu.

Sambil mengeringkan rambutmu dengan handuk, kuceritakan bahwa puzzle yang kepingnya terbawa olehmu itu adalah puzzle kesukaanku. Itulah puzzle bergambar hati berwarna merah muda yang terakhir kali diberikan ibuku.

Awalnya, aku selalu jatuh pingsan sebelum bisa menyelesaikannya. Tapi beberapa hari silam, kau memilih puzzle itu di antara semua koleksiku untuk kita mainkan bersama. Karena hanya puzzle itu yang kepingannya belum utuh. Awalnya, aku takut menangis dan pingsan di depanmu. Tapi entah kenapa, bersamamu aku bisa menyelesaikannya dengan mudah.

Kontan, mukamu memerah mendengar ceritaku. Malam itu, kita menyeduh kopi dan berbincang-bincang tanpa bermain puzzle.

Besoknya, aku memintamu untuk membawa kepingan itu seterusnya Sementara papan puzzle bergambar hati itu kubiarkan berlubang di tengah. Kuletakkan ia di meja belajar.

Tiap kali kau datang ke tempatku, kepingan yang kau bawa itu akan kupasang di petaknya. Sehingga bahagialah aku melihat gambar hati yang utuh, menandakan kau ada bersamaku.

Saat kau beranjak pergi, kau ambil kembali kepingan itu. Agar aku merasakan rindu tiap kali melihat papan puzzle bergambar hati yang berlubang. Aku belajar untuk menikmati kerinduan di tengah ketidakberadaanmu. Kebersamaan baru terasa nikmat bila ketidakberadaan telah kita rasakan.

Saat reaksi hormon di antara kita mencapai kulminasinya, kubawa saja kau ke panggung pelaminan. Pernikahan kita begitu cepat dan sederhana, semudah memainkan puzzle berukuran kecil. Dengan modal seadanya, aku membeli rumah dan sebuah motor untuk memulai rumah tangga kita.

Keping yang biasanya kamu bawa itu pun telah kutempel secara permanen di petaknya. Kupajang puzzle hati yang utuh itu di ruang keluarga. Tidak masalah bila kita sedang tidak berdua, entah ketika aku sedang pergi kerja ataupun kamu sedang pergi belanja, puzzle itu akan tetap utuh. Menandakan bahwa kita berdua utuh di hati masing-masing.

Tentu, sebagai dua orang dewasa, kita tidak punya waktu lagi untuk bermain puzzle. Tapi kadang di tengah malam, saat aku baru pulang dari kantor dengan kelelahan, kau menyambutku dengan membongkar kepingan puzzle hati itu di lantai. Kontan rasa lelah setelah bekerja seharian hilang begitu saja. Kita bermain sepanjang malam sambil menikmati masakan camilan buatanmu.

..

Tahun-tahun kembali berlalu,hingga akhirnya pagi ini datang. Aku terbangun dari tidurku. Seperti biasanya, kasurku dingin karena hanya ada satu orang yang menidurinya. Kuraba bagian kasur di mana kau biasanya berbaring. Kau tidak ada di sana. Sebuah keping yang hilang dari tempatnya, sakit rasanya.

Selagi aku menyeduh kopi dan menyulut rokok di meja makan, kulirik papan puzzle di ruang keluarga. Gambar hati berwarna merah muda itu kembali berlubang di tengah-tengah. Keping yang hilang itu memang sengaja kulepas agar dapat kukubur bersama jenazahmu tahun lalu.

Aku tidak dapat memberimu anak karena alasan biologis. Kau tidak keberatan. Malah kau pikir itu lebih baik, sehingga kita tidak perlu menangis bila anak kita meninggal, dan anak kita tidak perlu menangis bila kita meninggal. Semakin sedikit keping-keping yang kita punya dalam hidup ini, barangkali lebih baik. Bisa menghemat persediaan air mata.

“Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan bersedih menyaksikan kepingnya hilang,” katamu riang, saat kita bercengkerama di malam bulan purnama beberapa tahun silam.

Ternyata nasib membuatku kalah dalam taruhan itu. Sel kanker itu sungguh-sungguh membunuhmu. Kini aku terpaksa hidup dengan sebuah figura bergambar hati yang tengahnya berlubang. Apa boleh buat. Kita memang tidak bisa memaksakan keberadaan apapun dan siapapun dalam hidup ini. Kita hanya bisa menerimanya dan berpasrah pada hidup.

Sambil menyeruput kopi, kubelai papan puzzle itu di bagian lubangnya. Sensasi itu masih sama. Sakit. Karena hilangnya sebuah keping dari seluruh kesatuan. Kelebat wajah ibuku dan kamu terlintas di pikiranku hampir setiap hari.

Hujan kembali turun di malam minggu. Aku terduduk di kursi roda, menyaksikan rintik-rintik air dari balik jendela.

Seiring dengan menuanya waktu, kujual semua rumah dan harta bendaku. Kuhibahkan uangnya untuk Panti Jompo ini, dengan imbalan aku boleh tinggal di sini. Aku hanya butuh orang untuk merawat tubuh renta yang sudah akan kadaluarsa ini. Pamanku sudah lama meninggal. Aku tidak punya anak ataupun keponakan untuk merawatku atau kuwariskan sesuatu.

Hujan turun semakin lebat. Airnya membasahi jendela yang sedari tadi kupandangi. Titik-titik air di jendela itu membentuk pola mistis, seperti puzzle abstrak yang tidak mungkin disusun.

Suara rintik hujan meresonansi di dalam relung-relung kepalaku. Seketika, sekelebat gambar-gambar terpampang dalam ingatanku. Gambar-gambar puzzle yang pernah kumainkan, ratusan jumlahnya, masih kuingat bentuk semuanya. Masih kuingat bagaimana awalnya ia hitam kosong hingga perlahan-lahan petaknya terisi, keping demi keping, menjadi gambar yang indah.

Lalu aku teringat gambar puzzle hati yang legendaris itu, yang kuterima dari tangan ibu yang sekarat dan kuselesaikan bersama tanganmu. Kini puzzle itu kuletakkan di pangkuanku. Salah satu dari sedikit benda kenangan yang tidak ikut kujual, karena memang tidak akan laku. Wajah ibu dan wajahmu seketika menjadi sesosok gambar puzzle yang kususun sekeping demi sekeping dalam ruang imajinerku.

Hujan ini pun mengingatkanku tentang kamu yang mengantar keping itu sembari kehujanan bertahun-tahun silam. Aku yakin kamu akan datang lagi malam ini. Maka itu, dengan duduk di kursi roda, tepat di depan pintu, aku menunggu.

Kupeluk erat sang puzzle berhati bolong. Aku yakin pintu itu akan terketuk, beberapa menit lagi dari sekarang. Kau pasti akan mengantarkan keping terakhir itu dan mengajakku menyelesaikan puzzle ini lagi untuk selamanya, mungkin di tempat lain.

 

 

Yogyakarta. 19 Juni 2014.

Hamzah Zhafiri Dicky

Penulis yang sedang menyusun keping-keping kehidupannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s