Hadiah Paling Indah

images

Kali ini ia akan lahir. Pasti. Malam ini. Tidak boleh ditunda. Ia akan lahir bersamaan dengan terbitnya fajar. Proses penciptaannya tidak boleh dipecah jadi beberapa malam, harus jamak dan tuntas sempurna sekaligus dalam satu hari satu malam. Sesampaiku di kamar nanti, akan kuletakan kantong plastik ini di meja belajar. Kaosku yang lengket dengan keringat akan kulucuti dan kujatuhkan di lantai. Jendela kubuka sedikit, biar tidak pengap.

Seorang lelaki muda mengintip dari jendela yang kubuka. Dialah Rei, tetangga kosanku, temanku satu-satunya di bangku kuliah. Orangnya tampan, mungkin itulah yang dia gunakan untuk bermain wanita. Ekspresinya datar tidak terkejut, bahkan nampaknya agak jenuh, melihat aku mengeluarkan benda-benda di plastik yang tadi kutaruh di meja.

“Mau mulai yang baru lagi?” tanyanya sinis.

Kuiyakan tanpa berkontak mata dengannya. Setelah memalingkan mukanya dari jendela, aku yakin ia sekarang sedang berjalan masuk ke kamarku. Sandal jepitnya akan ia lepas dengan serampangan di depan pintu. Kemudian, ia akan merebahkan diri di kasurku dan mulai menyalakan rokok. Begitulah, gerakan yang sama setiap malam bila ia melihatku sedang asyik dengan proyek kecilku.

“Sekarang apa yang mau kamu buat?” tanyanya dengan nada bosan.

“Kalung.”

Ia mendengus meremehkan. Kudiamkan saja. Padahal kalau aku mau, aku bisa mengusirnya sekarang, karena selain ia pasti akan mengejekku, bau rokoknya benar-benar mengganggu.

Tapi biarlah, apa yang dikerjakan tanganku kini lebih penting. Tali ini harus kupotong dengan presisi yang tepat, agar bila ia melingkar akan menjadi kalung simetris di lingkar leher seseorang. Hiasan di ujung kalung itu juga harus dipilih dengan cermat. Aku perlu memilih komposisi yang tepat. Apa yang bagus? Sekotak kaca resin mini dengan bunga kecil di dalamnya? Sebuah gantungan besi berbentuk abstrak? Sepotong gading putih mungil? Banyak sekali pilihan. Yang pasti, ini akan menjadi hadiah paling indah. Kuucapkan itu terus-menerus seperti mantra dua bulan terakhir ini.

“Kenapa gak beli kalung biasa saja di Malioboro? Kan banyak tuh yang bagus,” kata Rei lagi, masih dengan kesinisan yang sama.

Hadiah paling indah tidak akan semurah barang pasar,” kataku ketus. Mengucapkan tiga kata hadiah paling indah dengan penekanan yang tidak wajar.

“Ya sudah, beli saja kalung emas di Toko Semar! Kan mahal banget tuh!” kilahnya.

Kulirik dia dengan delikan paling sadis. “Hadiah paling indah harus dibuat dengan…tanganku…sendiri,” kataku, mengucapkan kata-kata itu satu per satu dengan penekanan berdesis. Rei terdiam.

Ya. Jelas harus dengan tangan sendiri. Tidak boleh diwakilkan tangan orang lain. Gerakan tangan paling tulus akan melahirkan hadiah paling indah. Tidak hanya tangan. Kaki yang berjalan tanpa lelah di Pasar beringharjo hari ini juga sangatlah berjasa. Kolaborasi paha dan betis itu mengabaikan ngilu yang mengejang di otot mereka. Hanya demi menemukan belanjaan yang tepat seharian.

“Kalung emas memang bagus dan mahal Rei, tapi… Kalung emas hanya akan menjadi indah sebagai hadiah, jika dan hanya jika sang pemberi hadiah adalah pengrajin kalung emas. Atau penambang emas. Atau orang yang memang terlibat secara tangan, kaki, dan keringat atas terciptanya kalung emas itu. Kamu tentu paham maksudku,” kataku.

“Tidak, tidak paham,” Rei menguap. “Kemarin aku pulang dari Semarang. Kubelikan pacarku sebungkus lumpia (jelas bukan aku yang memasaknya) dan kubilang bahwa itu asli Semarang. Padahal aku baru membelinya di depan gang kosan. Dia menjerit-jerit senang dan menciumiku semalaman. Itu hadiah paling indah bukan?”

Aku menggeleng-geleng kesal. Pembicaraan ini tidak menarik untuk dilanjutkan. Rei tertidur di kasurku dengan rokok masih menyala di tangannya.

.

.

.

Hadiah paling indah, bagaimana ia akan tercipta? Tentunya tidak hanya sekedar tangan ini.

Ia akan tercipta berkat saripati serbuk biji kopi yang larut dalam secangkir air mendidih. Kopi itu akan kuseduh untuk mencegahku tidur. Tentu saja, agar aku bisa tetap bangun dan menciptakan hadiah paling indah.

Hadiah ini akan tercipta atas balok-balok es batu yang dijejalkan dalam sebuah ember besar. Kakiku akan kubenamkan di ember itu, gigitan dinginnya akan mencegahku tidur dengan cara yang cukup sadis.

Hey boy, ember apa itu di kolong mejamu?” Rei masuk ke kamarku lagi, barusan ia baru keluar untuk buang air. Jam menunjukan pukul dua pagi.

“Ember berisi es batu.”

“Gunanya?”

“Sama seperti kopi ini.”

Rei menghempaskan tubuhnya ke kasur. Kukira ia akan mengejekku lagi, ajaibnya tidak.

“Siapa namanya, eng… Dina?” tanyanya.

“Siapa itu Dina?”

“Calon pemilik kalung itu, siapa namanya? Aku lupa. Dina?”

“Rina.”

“Oh, aku lebih suka Dina. Lebih sederhana dan jelas.” Rei mulai menyalakan rokok lagi.

“Dia tidak peduli kamu menyukai namanya atau tidak.”

“Dan dia tidak peduli hadiahmu itu indah atau tidak.”

Anehnya, aku tertawa. Kita berdua tertawa.

“Cobalah boy. Cerita lagi padaku bagaimana ceritanya kamu bisa jatuh cinta pada gadis nan beruntung bernama Din…eh Rina ini,” untuk pertama kalinya Rei memintaku bercerita. Tapi, memang apa yang bisa aku ceritakan?

.

.

.

Namanya Rina, bukan Dina, aku tahu kamu akan lebih mudah menyebut nama yang kedua. Dunia fakta memang tidak selalu mudah diterima.

Rina. Perempuan remaja biasa. Teman sekelasku di SMA dulu. Dia bukan makhluk unggulan di bidang manapun. Dalam rangking pelajaran, ada sederet nama yang berada di atasnya. Soal olahraga, ia sering dipilih terakhir dalam pembentukan tim futsal, bersaing dengan seorang siswi lain yang kaki kirinya pincang. Soal kecantikan, aduh, dia harus agak berhati-hati bila berjalan bersama siswi-siswi lain. Salah-salah, ia bisa dikira pengasuh yang membawakan bekal makanan.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Kami berkenalan di sebuah warung saat berteduh menunggu hujan sepulang sekolah, ditemani sayup-sayup Maghrib. Sejak itu, kami jadi sering pulang bersama. Hari-hari selanjutnya, kami sering makan di kantin bersama. Saling meminjam catatan dan ngobrol santai saat jam olahraga karena tidak ada yang mau main futsal dengan kami.

Tidak ada yang istimewa mungkin pikirmu, namun di situ istimewanya. Kamu tahu aku memang tidak biasa berteman di sekolah. Hanya dia barangkali, teman jalanku dalam berpulang. Hanya dia teman makanku di kantin. Hanya dia temanku semasa SMA.

“Wah romantis sekali,” Rei bersiul-siul puas. “Dan ini saatnya untuk meminta hubungan lebih daripada teman, boy! Aku sempat mengira kamu gay. Tidak pernah ada perempuan di kampus yang menarik hatimu, bahkan matamu.”

Aku tertawa hambar. “Rina lesbian. Aku pernah melihatnya berciuman dengan pacarnya di laboratorium Biologi. Pacarnya adalah kakak perempuanku yang cantik itu.”

Rei melongok. Mulutnya terbuka seperti ikan mas mangap. Ada keheningan cukup lama. Dia pastilah syok, entah karena kasihan padaku yang jatuh cinta pada perempuan lesbi, atau karena kakak perempuanku yang sudah lama ia taksir, ternyata juga lesbi.

“Aku tidak bermasalah dengan orientasi seksual manapun Rei. Kakakku tetap kakakku yang kucinta. Aku dan Rina tetap sahabat yang saling mencintai. Hubungan kasih sayang tidak perlu selalu dilandasi relasi seksual bukan?” kataku enteng.

“Aku kasihan padamu sobat,” kata Rei. “Kamu tahu pacarku Melinda? Dia cantik bukan? Begini. Malam minggu besok aku akan membawanya ke kosanmu. Kemudian aku akan pergi bersama teman-temanku. Silahkan kamu dekati dia dan… ya kamu tahu sendiri. Melinda paham kok. Kami sudah biasa melakukan permainan liar khas Kaisar Caligula bersama pasangan-pasangan lain. Apalagi saat pesta ganja. Tidak ketahuan lagi yang mana pasangannya siapa.”

“Terima kasih Rei. Murah hati sekali kau mau meminjamkan pacarmu sendiri seperti mainan saja. Melinda memang gadis paling cantik di kelas kita, tapi bukan hal seperti itu yang aku mau. Aku bukanlah kamu. Dan Rina bukanlah Melinda.”

“Oke oke, maaf bila aku menyinggung perasaanmu. Kamu sudah kuanggap saudaraku sendiri, boy. Dan sebagai laki-laki brengsek, apalagi yang bisa aku berikan?”

Aku terdiam. Dia melanjutkan.

“Setiap hari selama dua bulan aku mengamatimu membuat berbagai macam kerajinan tangan: gelang, anting, gantungan kunci, ikat kepala, figura, pembatas buku, dan bahkan sesuatu yang aku sendiri bingung itu benda apa. Tiap pagi karyamu selalu selesai, tapi kau membuangnya ke tempat sampah karena merasa itu tidak cukup indah. Diam-diam aku mengambilnya dan mencoba menjualnya ke toko cideramata. Sudah dua ratus ribu masuk ke kantongku. Para turis bule sangat menyukai karyamu. Sepertinya kamu salah masuk jurusan kuliah. Harusnya kamu jadi seniman dari dulu.”

Aku mencibir. “Ambil saja uangnya kalau kamu mau. Aku hanya ingin menciptakan hadiah paling indah.”

“Aduh boy, aku bisa gila mendengar hadiah-paling-indahmu yang berulang-ulang itu.”

Perbincangan selesai.

.

.

.

“Bangunlah boy, waktunya sarapan.” Suara Rei membangunkanku.

Dengan sangat berat aku membuka mata. Aku sudah berbaring di kasurku dengan berpakaian. Selimut hangat menyelimutiku. Bantal di bawah kepalaku diletakan begitu tepat hingga posisiku berbaring sangatlah nyaman. Rei duduk di kursi sebelah kasurku. Semangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat mengepul di meja belajarku.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku.

“Jam sepuluh pagi. Kau jatuh tertidur seperti mati tadi subuh dengan kalung itu masih di tanganmu. Aku panik, kukira kau sungguhan mati. Sudah dua bulan kau tidak tidur normal boy. Hari ini boloslah kuliah.”

“Hadiah paling indah! Dimana?” aku terduduk dalam satu sentakan.

“Sudah jadi,” Rei mengangkat tangan kanannya dengan ceria. Ia melilitkan kalung itu di pergelangan tangannya. DI ujung kalung itu tercantol hiasan berupa besi mengkilat berbentuk persegi panjang pipih. Kira-kira panjang dan lebarnya empat kali tiga sentimeter. Ada dua kata yang terukir di besi pipih itu.

“Tertulis di sini: ‘Admarina Amanah’ itukah nama panjangnya? Ada ukiran berbentuk motif bunga-bungaan menghiasi sekeliling ukiran nama ini. Bagaimana caranya kamu bisa mengukir di besi sedemikan rapih hanya dengan sebatang paku?” Rei terheran.

Aku merebahkan diri kembali ke kasur. “Jual itu ke turismu, itu tidak cukup indah.”

“Semua kerja kerasmu semalaman sia-sia lagi kalau begitu?”

“Tidak sia-sia. Semakin hari kemampuanku semakin terasah. Pasti suatu hari nanti akan tercipta hadiah paling indah.”

“Kenapa tidak kau berikan saja sih? Ini sudah cukup bagus. Ayolah kuantar kau ke rumahnya! Kita berangkat sekarang!”

Rei mulai naik pitam. Tiap malam dia memang selalu menemaniku membuat hadiah ini. Pastilah dia tidak sabar melihatku memberikannya pada Rina.

“Dia tidak tinggal di rumah manapun Rei. Dia sudah meninggal.” Jawabku enteng.

Lagi, mulut Rei mangap lebar seperti ikan koi tidak diberi makan tujuh generasi.

“A…A…Apa…kapan…bagaimana…lantas kenapa…” Benak Rei pastilah ditimbuni banyak pertanyaan. Ia bingung, kasihan, dan mungkin juga kesal sekaligus.

“Sekitar dua bulan yang lalu kudengar kabar itu. Dia sudah pergi, satu-satunya teman makanku di kantin, teman bermainku di waktu istirahat, teman jalanku sepulang sekolah. Terakhir kali aku bicara dengannya di telepon, ia menceritakan dengan bersemangat tentang kegiatannya di kampus. Tentang perlombaan yang berhasil ia menangkan. Dua puluh menit setelah ia menutup telepon, nyawanya diambil oleh sebuah mobil ngebut di jalanan.” Mataku memanas, hidungku kembang kempis, aku yakin air mataku mulai keluar.

“Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Tidak sempat berterimakasih padanya karena mau menjadi temanku. Tidak pula dapat kuletakkan karya tanganku di tangannya sebagai cideramata penanda cinta sederhana yang paling tulus.” Aku pastilah menangis sekarang, seperti bayi.

“Lantas, kenapa?” Rei mengangkat kalung itu lagi dengan tangan bergetar.

“Apa yang aneh? Hidup itu kekal. Mati hanyalah perpindahan kita dari hidup ini ke hidup di dimensi semesta lain. Bila kuletakkan hadiah paling indah itu di batu nisannya, dia akan melihatnya bukan? Meski aku tidak bisa melihat dia.” Kujawab dengan santai dan wajar, sewajar mengatakan bahwa ikan bila tidak diberi air akan mati.

Rei menggeleng lemah. “Dia sudah melihatmu dari dulu sobat. Dia sudah melihat kau keluyuran tiap siang belanja pernak-pernik. Dia melihat kau tiap malam tidak tidur demi melampiaskan cintamu dalam bentuk karya tangan.”

“Rei, kira-kira apa ya hadiah paling indah yang bisa aku buat?” Pertanyaan yang konyol untuk diajukan pada seorang Rei.

“Bila kamu membuat aksesoris kerajinan tangan, itu hanya akan bermakna bagi batu nisannya saja. Cobalah buat sesuatu yang lebih kekal. Karya literatur misalnya. Sebuah surat cinta atau puisi dan prosa. Ceritakan bagaimana kau mencintai dia setulusnya. Tidak peduli apa orientasi seksualnya dan apa dia masih hidup atau tidak. Agar orang lain bisa membaca ceritamu dan tahu bagaimana caranya mencintai dengan tulus.”

Aku terperangah. Shakespeare di alam baka pun pasti juga menangis terharu. Ternyata bisa juga ia berpikir mendalam dan romantis.

“Ide yang bagus!” aku langsung bangun dan hendak keluar kamar untuk membeli buku panduan menulis prosa. Tiba-tiba Rei menarikku kembali hingga aku terjengkang ke kasur.

“Kamu tidak akan kemana-mana boy!”

“Apa-apaan kamu!” aku meronta. Dia mencengkeram kedua bahuku dan berkata tajam.

“Malang sekali nasibmu. Jatuh cinta pada seseorang yang lesbian dan sudah meninggal pula.” Dia menggeleng takjub. “Kalaupun dia masih hidup, dia lesbian dan kau tidak bisa mengencaninya. Kalaupun dia hetero, dia sudah mati dan sudah tidak punya daging untuk kau kencani. Tapi tiap malam kau…”

“Mohon maaf Rei,” potongku tegas. “Tidak semua orang itu seperti kamu yang memaknai puncak dari sebuah cinta adalah hubungan badan. Cobalah berpikir tanpa memakai selangkanganmu,” hardikku dengan sarkastik. Kukira dia akan marah. Ternyata tidak.

Rei mengangguk. Ia mengakui?

“Kamu akan tetap di kamar ini boy, kamu harus istirahat. Kusita kunci kamarmu. Kukunci pintumu dari luar. Panggil aku kalau perlu apapun. Habiskan bubur sarapanmu, nanti siang akan kubelikan makanan lagi. Dan tidak usah mencoba kabur bila tidak mau berkelahi denganku.”

“Kamu mau mengurungku di kamarku sendiri?”

“Kalau tidak begitu bagaimana caranya aku yakin kamu akan istirahat dan tidak keluyuran mencari bahan untuk hadiah paling bodohmu itu?”

Kita berdiam cukup lama.

“Kenapa kamu lakukan ini?” aku heran.

“Kamu selalu merasa bahwa Rina adalah satu-satunya temanmu. Kamu mencintainya dan menganggap dia mencintaimu. Cinta yang tulus tanpa modus seksual apapun. Indah sekali! Dua bulan ini aku ikut begadang menemanimu menciptakan hadiahmu yang paling konyol. Di kampus kau menjadi sasaran bully semua orang karena kau sangat pemalu dan selalu menutup diri. Aku pun selalu datang melindungimu. Dan sekarang aku menolongmu dari ancaman dirimu sendiri yang terobsesi menyiksa diri. Ya! Sama-sama!” Rei melengos pergi keluar.

Kupanggil dia ketika dia hampir membuka pintu.

“Rei, apakah kamu…”

“Tidak! Aku tidak gay! Dasar laki-laki cengeng!” Katanya seraya tertawa dan menutup pintu. Suara pintu terkunci terdengar dari luar.

Sedetik kemudian aku tertawa. Keras sekali. Karena pertama, aku tidak berniat menuduhnya gay. Kedua, dia tidak tahu kalau aku punya kunci duplikat di lemariku. Ketiga, aku merasa bodoh sekali tidak menyadari sesuatu yang sangat jelas, bahwa aku tidak pernah sendirian.

Sepertinya, hari ini aku akan benar-benar beristirahat di kamar. Aku akan berpura-pura sungguhan terkunci. Sudah dua bulan aku tidak tidur nyenyak. Hadiahmu akan selesai besok, Rina…

.

.

.

Hamzah Zhafiri Dicky

Menulis untuk mengisi waktu senggang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s