[Mozaik Blog Competition 2014] Menulis: Apa, Kenapa, Bagaimana

MBC-2014s-300x170

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id

Kenapa menjadi penulis? Apa alasanmu ingin menjadi penulis? Pertanyaan yang diajukan oleh lomba ini lumayan sulit untuk dijawab. Akan lebih mudah menghadapi pertanyaan seperti: Bagaimana usahamu untuk menjadi penulis? Nah, jawabannya akan bersifat lebih teknis dan jauh lebih sederhana untuk dijawab.

Sama halnya dengan bertanya: apa sih yang dimaksud dengan “penulis”? Sulit sekali menjawabnya. Perlu dilakukan riset mendalam dan referensi bertumpuk untuk mencari definisi ontologis yang tepat untuk mendefinisikan apa itu penulis. Lebih mudah mengatakan: ini penulis dan itu bukan penulis ketimbang menjabarkan: penulis adalah…

Pertanyaan yang sederhana namun filosofis, bisa membuat kita meremehkannya, namun akhirnya kita malah gagal menjawab pertanyaan sesederhana itu.

Halo, namaku Hamzah Zhafiri. Aku adalah mahasiswa cum pengangguran terselubung. Aku numpang lahir di Bekasi pada tanggal 11 September 1993. Sejak kecil aku tinggal di kota Bogor, dibesarkan oleh dua orangtua dan hidup bersama seorang adik perempuan. Hidup sebagaimana remaja biasa, aku punya teman, punya hobi, dan punya banyak makanan yang membuat badanku bengkak semi-permanen. Sehabis lulus SMA, aku merantau ke Yogyakarta untuk kuliah. Ya. Datar sekali hidup.

Aku suka menulis. Cerpen, puisi, novel jadi-jadian, esai, kritik, opini, dan sejenisnya. Bila kita menyederhanakan definisi “penulis” sebagai sekedar “orang yang suka menulis”, bolehlah secara pragmatis aku memberi label diriku sendiri penulis. Meski aku cukup yakin gelar itu akan dianggap lebih sakral oleh beberapa orang.

Nah, dalam lomba yang bertajuk “writer wannabe” ini, aku diminta untuk curhat tentang apa, kenapa, dan bagaimana perihal ambisiku menjadi penulis. Sekali lagi, sangat membingungkan menjawab pertanyaan itu, apalagi menceritakannya. Tapi akan lebih mudah untuk menuliskannya, karena ini adalah lomba menulis, dan harusnya aku suka menulis bukan?

Harus mulai dari mana ya?

Bila aku menjadi penulis terkenal kelak, aku bisa membayangkan wartawan paparazzi akan bertanya: “Sejak kapan kamu suka menulis, Hamzah?” Pertanyaan “kapan” sudah pasti merujuk pada waktu, sehingga akan sangat repot menjawabnya. Sudut paling gelap dalam relung memori ini harus kubongkar-bongkar guna menemukan jawabannya. Kenapa si wartawan sok kenal itu tidak bertanya: “Kapan novel kelimamu terbit Hamzah?” “Kapan antologi puisimu launching Hamzah?” “kapan film yang diangkat dari novel ketigamu, yang dibuat oleh sineas Riri Riza itu, akan tayang, Hamzah?” “Kapan kamu akan melamar Maudy Ayunda, Hamzah?”.

Tapi oke, sedikit bernostalgia, sepertinya boleh juga menggali kembali sejarah tentang kapan dan bagaimana merangkai kata bisa menjadi sesuatu yang menarik bagiku. Dimana aku harus memulai?

Mungkin dimulai saat aku masih kelas dua SD. Pernah suatu hari ibu guru memberi kami tugas untuk membuat sebuah karangan bebas. Dengan modal nekat, aku menulis ngasal tentang sebuah cerita fiksi paling ngawur. Dikisahkan dalam cerita itu, bagaimana aku dan keluargaku akan pergi tamasya ke Amerika. Namun, aku tidak menceritakan bagaimana kami liburan di sana, tempat apa yang kami kunjungi, dan siapa yang kami temui. Kenapa? Karena aku memang tidak pernah ke Amerika, meski cerita ini fiksi, kita tidak bisa menceritakan apa yang tidak pernah kita alami, bukan? Tapi aku menceritakan bagaimana saat menuju bandara, kami naik mobil menuju terminal bus, lalu berganti naik bus di terminal, baru menuju bandara. Karena memang hanya sebatas itu yang pernah benar-benar aku alami.

Kontan, karanganku menjadi perbincangan para orang tua murid. Panjang tulisanku mencapai dua halaman, paling banyak diantara teman sekelasku. Ibuku menunjukannya pada teman-temannya. Aku pun seketika jumawa. Baru belakangan aku sadar mereka semua geli karena ceritaku yang konyol bukan main.

Dalam kesempatan lain, aku pernah menulis cerita tentang dua ekor tupai yang tinggal di hutan. (Aku lupa apakah ini tugas sekolah atau bukan.) Syahdan, tupai tersebut terganggu karena habitat mereka dirusak oleh seorang manusia yang mendirikan rumah di tengah hutan. Demi balas dendam, mereka pun menjahili manusia dengan melempari batu, menyebabkan jendela rumahnya pecah. Sang manusia yang marah, lantas melempari balik para tupai dengan ikan mentah. Tupai pun dengan cerdik menangkap ikan-ikan itu. Mereka justru merayakan kemenangan mereka dengan memakan ikan itu bersama.

Kali ini kurasa ide ceritaku membaik. Tentu saja, untuk ukuran anak kelas tiga SD. Ibuku suka menceritakan tentang karanganku ini pada teman-temannya di telepon. Baru belakangan ini saja aku bertanya-tanya: apakah tupai makan ikan?

Di kelas empat SD, aku melahirkan sebuah cerpen kreatif mandraguna. Kuberi judul “Kambing yang Rakus”, yang bercerita tentang seekor kambing yang begitu rakus karena selalu makan berlebihan. Suatu hari, sang kambing melihat manusia pemburu. Ia pernah dengar, manusia suka menangkap binatang untuk dipelihara dan diberi makan sepuasnya. Maka dengan bodohnya, si kambing malah meminta untuk ditangkap. Maka tertangkaplah si kambing, dan dibawalah ia ke rumah manusia untuk dijadikan sate. Lucu bukan?

Beralih ke SMP, aku tidak menulis banyak. Aku malah menjadi pembaca yang baik. Inilah saat yang juga cukup bersejarah. Menginjak kelas 2 SMP, aku dikenalkan dengan novel Laskar Pelangi oleh teman sekelasku. Sebuah novel inspirasional karangan Andrea Hirata. Awalnya aku tidak tertarik, tapi setelah aku meminjam buku itu dari temanku, aku pun ikut keranjingan. Aku dan temanku mendiskusikan novel menarik itu sepanjang hari, setiap hari.

Suatu hari, teman sekelasku itu (sebut saja Dhanes, bukan nama samaran, alias itu memang nama aslinya) memberi kabar mengejutkan: Ia memiliki alamat email Andrea Hirata, sang penulis Laskar Pelangi dan berhasil melakukan kontak dengannya! Aku pun meminta email itu dan bergegas ke warung internet. Dengan bersemangat, aku menuliskan surat untuk si Ikal a.k.a Andrea. Saking bersemangat, kuceritakan secara runut bagaimana ceritanya aku bertemu dengan novel itu karena dikenalkan teman sekelasku, bagaimana kami berdiskusi serius tentang cerita novel itu, dan bagaimana aku akhirnya menerima alamat Email ini dan kini bergegas ke warung internet terdekat. Aku menekan tombol “kirim” setelah menyunting tajam tiap kata yang aku tuliskan.

Di luar dugaan, Andrea membalas cukup cepat. Ini jawabannya: “Hamzah, aku suka membaca ceritamu, seperti cerpen. Kubaca berulang-ulang. Salam untuk Dhanes ya.”

Dia suka tulisanku?  Padahal menurutku lebih seperti surat penggemar yang norak. Tapi tidak apa. Aku dan Dhanes bersorak girang. Kami mendapat undangan untuk menemui Andrea di bandung dalam salah satu talkshownya.

Singkat cerita, talkshow diadakan di mall Paris van Java, Bandung. Berduyun-duyun para penggemar Laskar Pelangi membawa bukunya masing-masing untuk mengantri meminta Andrea menandatanganinya. Saat tiba giliran Dhanes, yang mengantri tepat di depanku, Andrea bertanya:

“Namanya siapa?”

“Dh.. dh… Dhanes…” (Dia memang gagap, bukan karena gugup)

“Ooh” sambil membubuhi tanda tangannya di buku Dhanes “Dhanes yang mana ya?”

“Dh.. dh.. Dhanes dari Bogor”

“ooh, Dhanes!” tiba-tiba Andrea terlihat paham.

Aku yang berdiri di belakang tidak mau ketinggalan.

“Aku Hamzah! Hamzah dari Bogor juga!” sambil menunjuk diri sendiri dengan girang bin alay.

“Ooh Hamzah!’ serunya. Dia mengenali kami! Dua orang bocah norak yang menghantui Emailnya!

Kami berdua langsung ditarik ke depan untuk duduk bersama Andrea. Perbincangan kilat kami lakukan karena bagaimanapun masih banyak yang mengantri di belakang kami. Saat selesai, Andrea berbicara dengan teman sebelahnya seraya menunjuk kami berdua dan berkata:

“Mereka berdua saingan”. Dia tahu bahwa aku dan Dhanes adalah sesama pegiat sastra di sekolah kami.

 Email terakhir yang ia kirim padaku setelah itu begitu membekas: “Salam untuk Dhanes ya zah, dan jangan berhenti menulis.” (atau kira-kira bunyinya begitu. Sudah lama sekali. Emailku sudah corrupt dan hilang).

Silahkan baca cerita lengkapku dengan Andrea dalam tulisan di blogku yang berjudul “Aku dan Andrea, Cerita Unik Dari Masa Lalu

Pertemuan dan perkenalanku dengannya mungkin menjadi inspirasi terbesar untuk aku menulis sampai saat ini. Andrea meyakinkanku bahwa bahkan seorang anak kampung melayu udik yang pendidikannya tidak berhubungan dengan menulis, bisa menjadi penulis kondang. Substansi dari apa yang ia tuliskan di novel-novelnya pun mencerminkan hal yang sama: seorang anak kampung miskin di sebuah ujung dunia tak bernama, bisa mencuat ke permukaan peradaban dunia. Bagai gunung berapi yang menolak untuk mendekam di bawah laut, maka meledaklah ia, memuntahkan magma menjadi lava, agar kegagahannya bisa dipandang dunia.

Inspirasi yang lain? Tentu ada. Ada yang sifatnya jauh lebih ideologis. Misalnya, ketika aku bertemu dengan Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer saat SMA. Tetralogi Buru adalah sebuah epos tetralogi (empat) novel roman sejarah yang terdiri dari: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat novel ini konon merupakan refleksi kehidupan Tirtho Adhi Soerjo (TAS), aktivis organisasi pribumi di era kebangkitan nasional. Karakter TAS dalam novel ini, yang dipanggil Minke, adalah seorang pribumi Jawa berpendidikan Eropa yang gerah melihat kehidupan terpuruk masyarakat pribumi Hindia Belanda. Ia menilai, gerakan intelektual merupakan hal terpenting untuk menggagas gerakan kebangsaan. Gerakan tersebut dapat dimotori, dan harus, dengan pergerakan keorganisasiaan. Lahirlah Sjarikat Prijaji, yang merupakan organisasi gerakan bagi kaum pribumi priyayi pertama.

Membaca novel fiksi yang dipadu dengan latar belakang historis dari sejarah seorang sosok, bahkan bangsa, merupakan pengalaman yang baru. Pramoedya dengan cerdas mengawinkan konsep sejarah, romantisme perjuangan, dan ironi penjajahan, dalam bungkus estetika sastra. Melalui Pram, aku pun belajar bahwa menulis bukanlah sekedar fantasi. Tidak bisa kita sekedar menuliskan kata-kata hanya sekedar memainkan retorika, tanpa ada tujuan yang jelas. Sekedar buang air besar, lantas tidak tahu kemana “air” itu pergi.

Menulis itu ideologis! Haruslah ada tujuan yang jelas dalam menulis. Haruslah kita tahu orang yang membacanya, dan apa yang menjadi tujuan kita bila tulisan kita terbaca. Mencapai tujuan yang nyata! Merdeka!!! (Yeaah!)

Di bangku kuliah, aku mencari wadah untuk belajar menulis lebih lanjut. Tidak sulit untuk menemukan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang jurnalistik. Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung UGM namanya. Di organisasi ini, aku belajar lebih lanjut tentang menulis, terutama tulisan jurnalistik. Satu-per-satu aku menulis berita-berita seputar peristiwa kampus; isu-isu yang beredar, acara yang diadakan, kejadian yang terjadi, dan lain-lain. Tulisan jurnalistik adalah sebuah bentuk tulisan non-fiksi, tidak bisa disamakan dengan cerpen atau novel yang biasa aku baca. Ia harus menceritakan sesuatu yang nyata, yang fakta, tanpa ada satu pun bentuk karangan di dalamnya.

Aku juga menemukan bahwa jurnalisme bukan sekedar bidang kerja. Ia adalah sebuah misi “kenabian” yang mulia. Tanpa bermaksud mengatakan bahwa “jurnalis” mutlak adalah utusan Tuhan, kita tentu paham bahwa seorang wartawan mengemban tugas mulia untuk menyampaikan informasi. Publik punya hak untuk mengetahui kenyataan, dan hak tersebut wajib dipenuhi oleh seorang wartawan.

Tidak terhitung momen-momen indah saat aku tunggang-langgang mengejar narasumber, berdesak-desakan di tengah demonstrasi yang aku liput, dan malam panjang yang harus dilewati demi menulis berita. Di sinilah aku belajar mempercayai kekuatan kata-kata. Karena berkat tulisan seorang wartawan, publik jadi bisa mengetahui apa yang kita lihat dan mereka tidak lihat.

Begitulah. Menulis adalah sebuah kemestian. Bukan sekedar hobi, namun sebuah kewajiban. Bukan sekedar kewajiban, namun kodrat sebagai manusia yang lahir dari dan kebudayaan. Bukankah penemuan besar manusia adalah bahasa? Dan bukankah bahasa, yang merupakan media komunikasi, selain bisa diucapkan secara verbal, juga bisa dituliskan dalam lambang-lambang yang disebut tulisan? Dan bukankah tulisan amat besar perannya dalam penulisan sejarah manusia? Tidaklah berlebihan bila aku menyebut bahwa menulis adalah kodrat alamiah manusia sebagai makhluk berakal.

Masih banyak yang bisa aku tuliskan tentang sumber-sumber inspirasiku dalam menulis. Tidak semuanya bisa aku tulis secara mendalam di sini. Sangat sulit untuk menceritakan bagaimana Putu Wijaya pernah mengunjungi sekolahku, membacakan syair dan cerpen di hadapan kami, dan menekankan betapa pentingnya sastra dalam hidup kami.

Tidak bisa aku menceritakan bagaimana seorang Taufik Ismail selalu hadir tiap kali ada pernikahan di keluarga besarku. Dimana ia akan memberikan wejangan bijak bagi kedua mempelai melalui pembacaan puisi. Inilah yang membuatku mencintai puisi dan syair. Aih. Begitu arif, begitu indah dan bijak puisinya, membuatku ingin cepat menikah juga.

Kemudian tidak bisa pula aku menceritakan bagaimana di bangku kuliah aku bertemu mahasiswi bernama Dewi Kharisma Michelia, penulis handal yang lebih suka disebut cerpenis/novelis ketimbang sastrawan. Ia berkali-kali menulis cerpen yang dimuat di Tempo maupun Kompas. Terakhir, ia menulis novel yang diterbitkan Gramedia. (Judulnya Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, cari saja) Meski aku tidak pernah secara langsung terlibat untuk menulis cerpen dengan bimbingannya (karena minder tentu saja), diskusiku dengannya selalu berlangsung seru, dan memberiku banyak sekali input berharga.

Nah, akhirnya aku keceplosan juga kan menyebutkan semuanya?

Aku yakin menulis bukanlah “mainan” orang yang suka menulis saja. Karena terlepas dari kita suka atau tidak, tidak mungkin kita tidak menulis. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan kulit belangnya. Manusia mati, apalagi yang akan ia tinggalkan kalau bukan pemikirannya, yang tertuang dalam apa yang ia tulis, dan tulisan itu akan terus terukir abadi bagi manusia lain yang membacanya jutaan tahun ke depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s