Berbuatlah kebaikan, agar dunia ini terus berputar

smileMatahari menyengat cukup panas siang itu. Saya memilih berjalan kaki untuk kembali ke kosan. Kondisi hati sedang cukup puas, baru saja bertemu dengan rekan bisnis di suatu tempat yang tidak jauh dari kosan. Ternyata pusat penangkaran semut kroto yang selama ini saya cari hanya berlokasi beberapa blok dari tempat tinggal selama ini. Berbincang-bincang dengan empunya usaha, saya mendapat gambaran yang cukup memuaskan tentang tata cara pengelolaan usaha ini. Tapi itu saya bahas nanti saja.

Saya masih berjalan, menyusuri trotoar jalan Kaliurang. Namun dahaga di tenggorakan tidak bisa diajak kompromi lagi. Ia minta dipuaskan segera. Maka dengan segera saya menghampiri toko kelontong terdekat, saya ucapkan salam, empunya toko muncul dari balik pintu. Ia adalah seorang pria baya keturunan Tionghoa, mengenakan kaus kutang dan celana pendek.

“Ya dek silahkan,” ucapnya ramah, dengan senyum merekah.

“Minum ada pak?”

“Oh iya! Ini silahkan,” katanya menunjuk sebuah kulkas.

Dengan rakus aku mengambil sebotol minuman dingin.

“Berapaan pak?”

“Oh 3500 dek. Mau lagi yang lain?”

“Oh enggak pak, makasih ini aja,” kuserahkan selembar uang.

“Kuliah atau kerja dek?” ia mulai berbasa-basi dengan ramahnya.

“Saya kuliah pak.”

“Oh kuliah dimana?”

“Di UGM pak”

“Ooh, ya yaa,” katanya mengangguk-angguk puas, tersenyum seraya memberikanku kembalian. “Ya sudah bagus, semoga sukses ya dek,” katanya dengan keramahan yang sama.

Pikiranku yang dari tadi melayang-layang tentang bayangan usahaku ke depan seketika buyar. Entahlah, sepertinya tidak ada yang istimewa dari bapak ini. Namun keramahannya, senyumnya, basa-basinya, memicu reaksi endorfin di syaraf otak. Aneh.

Ya, mungkin sudah naluri alam bawah sadar manusia untuk merasa nyaman diperlakukan ramah. Apalagi senyum itu, kenapa terbayang terus ya?

Seketika teringat dengan keramahan Mbak Urap, seorang ibu-ibu di dekat kosanku yang membuka usaha warung nasi rames. Ia selalu senang menyambutku tiap kali datang ingin makan siang di sana. Ia selalu tahu makanan dan minuman kesukaanku, kadang ia langsung mempersiapkannya tanpa aku perlu meminta.

“Aduh maaf maas, ayam gorengnya belum jadi, masih telur dadar aja. Gak papa ya? Minumnya masih es teh tawar kan?” Ia pernah berujar begitu di suatu hari.

“Kamu suka banget ya sate kulitnya? Gih ambil satu gratis,” katanya di lain hari.

Aku jadi tertawa sendiri mengingat itu. Mbak Urap pun menjadi cerita tersendiri di kalangan teman-temanku yang sering makan di sana.

“Iiiih Hamzaaah, suka ya ama mbak Uraaap? Hamzah seleranya emang yang kayak gitu yaa?” goda seorang teman suatu kali.

Aku hanya tertawa saat itu. Ya, Mbak Urap memang tidak muda, tapi juga tidak tua, benar-benar masih pertengahan ibu-ibu. Dan dia agak bermasalah dengan selera berpakaiannya, seringkali ia hanya mengenakan celana jeans yang terlalu pendek, dan kerah baju yang terlalu rendah. Hahaha.

Tiap siang, Mbak Urap buka warung rames dekat kosanku, tiap malam, ia membuka warung tenda penyetan di depan tempatku bekerja. Tiap selesai kerja jam 9 malam, aku akan menyempatkan makan di sana.

“Aduh, abis pulang kerja yaa? Pasti capek,” katanya sambil menghidangkanku segelas teh.

Lalu di saat yang lain, pernah aku dengan malu-malu bilang bahwa aku belum dapat membayar makanan yang baru aku makan, maklum, akhir bulan.

“Ooh, gakpapah! Lain kali aja bayarnya! Santai aja ama ibu sih,” katanya.

Dan saat pengembalian hutang, “Oh, memangnya ada hutang ya kamu? Ah ibu sudah lupa, hahahaha.”

Kadang ia bercerita tentang suaminya, atau anaknya, jadilah kami senang bergosip.

Apa persamaan antara seorang pria baya Tionghoa pemilik toko kelontong dan Mbak Urap?

Keramahan manusia bagi saya adalah aktivitas yang entah kenapa memicu reaksi kimia yang unik. Intonasi suara dan gestur gerak tubuh yang bersahabat dari seorang subjek seketika bisa meningkatkan endorfin dan memperbaiki mood subjek lawannya.

Tidak heran ada istilah bahwa “senyum itu sedekah yang paling murah.” Ia murah karena memang tidak berbayar, hanya bermodal sedikit gerak otot di pipi. Namun kurva yang terbentuk di bibir itu menjadi sebuah sinyal visual dengan makna simboliknya tersendiri. Teringat dengan teori Interaksionis-simbolik di perkuliahan: “Kata-kata hanyalah suara dari mulut dan lidah, ia bisa memiliki makna karena konstruksi pikiran manusia semata.”

Ya, senyum pun hanyalah kurva di bibir, pikiran manusia saja yang membudayakan itu sebagai sebuah simbol positif.

Namun, simbol tersebut bukanlah sesuatu yang semu. Senyum diberikan seseorang karena dari dalam hatinya tentulah ada hasrat afeksi pada orang yang diberikan.

“Mbak Urap tuh ramah sama kamu karena kamu makan di warung dia zah,” canda seorang teman.

Oh ya? Lalu kenapa dia pernah menyarankanku makan di tempat lain saat masakan di warungnya belum selesai dimasak? Kenapa dia tidak menyuruhku menunggu sejenak selagi ia memasak?

“Memang enak zah makan di tempat Mbak Urap, rasanya seperti dianggep anak sendiri,” ujar teman yang lain.

Ya, aku percaya kalau itu. Mbak Urap menyayangiku, dan juga pria toko kelontong itu, atau siapapun yang pernah melempar senyum padaku. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, karena diperlakukan dengan baik oleh orang adalah kemewahan yang tidak pernah bisa diukur.

Ya, mewah sekali. Kenapa? Pernahkah anda membayangkan hidup di daerah yang keras? Di medan perang misalnya, dimana orang-orang berusaha membunuh anda? Di ruang kriminal bawah tanah misalnya, dimana orang-orang berusaha berbuat jahat pada anda? Dimana kekerasan fisik, verbal, seksual, dan mental menjadi makanan sehari-hari? Kurang mewah apa bila kita punya orang di sekitar kita yang mau tersenyum, apalagi berbuat baik untuk kita?

Kalau sudah begini saya jadi balik bertanya, sudahkah saya bersedekah dengan senyum? Sialnya, belum selalu terealisasi. Suntuknya kehidupan masih menggoda saya untuk kerap memberi ekspresi tidak sedap pada orang-orang di sekitar saya. Lucunya, saya paling sebal kalau ada orang yang mukanya suntuk di hadapan saya. Jadi ya, sama-sama tahulah posisi kedua belah pihak.

Saya selalu mencoba menyempatkan diri, sesingkat apapun, untuk mengajak bicara tiap bocah pengamen yang datang mengamen pada saya. Ya, bicara santai, berbasa-basi, menawarkan makan bersama bila mau, atau minimal, tersenyum padanya dan memberinya uang secukupnya.

Saya cukup tahu bocah pengamen itu pastilah sering diberi muka sinis orang lain yang ia ngamenkan. Orang-orang sok berduit itu, dengan sok berkuasanya, memberi receh kecil pada sang bocah. Beruntung bagi si bocah, recehan itu mungkin bisa ia gunakan untuk menghindari amuk ayahnya yang pemabuk, atau memberi makan ibunya yang sakit, di gubuk mereka yang reyot.

Menyapa ramah seorang bocah pengamen tentu akan lebih dari cukup untuk membuat hari-harinya bahagia. Sejenak biarlah ia lupa akan Pamong Praja yang memburunya, atau preman jalanan yang memalaknya.

Tersenyumlah pada supir bus yang memaki-maki kita di jalanan, kendati ialah yang ugal-ugalan dalam berkendara. Kita tidak pernah tahu berapa setoran yang harus ia bayar pada juragannya hingga ia begitu kalap. Belum lagi aparat lalu lintas yang melakukan pungutan liar.

Berbuat baik, atau minimal tersenyum pada orang lain, menjadi sebuah perbuatan mulia karena kita tidak pernah tahu, bahwa jauh di dalam hati seseorang, ada kisah pertempuran tidak manusiawi yang tidak akan pernah bisa kita ketahui.

Ya, inilah kenapa perbuatan baik menjadi sesuatu yang bersifat esensial dalam hidup berperikemanusiaan. Manusia adalah makhluk sosial, ia selalu membutuhkan orang lain. Bukan hanya secara ekonomis seorang tukang kayu membutuhkan petani untuk mendapat beras, dan sebaliknya petani membutuhkan tukang kayu untuk mendapatkan kayu. Namun secara humanis, kita selalu membutuhkan makhluk sespesies untuk berinteraksi, beremosi, dan bertukar endorfin.

Aih, indahnya dunia bila kita bisa berbuat kebaikan. Membantu yang kesusahan. Memaafkan dari sejak dalam hati. Atau minimal, saling memberi senyum, bukankah itu cukup?

Bila saya terkesan menggurui anda, tentu itu bukan maksud saya. Justru sayalah satu-satunya yang sedang saya gurui sekarang. Karena seringkali saya tidak melakukan hal-hal yang saya sebut di atas.

Saya ingin mengajak (dan ajakan ini saya rujuk terutama untuk diri sendiri) agar kita senantiasa berbuat baik satu sama lain.

Argh, retoris-klise-normatif sekali. Tapi begitulah, pasalnya, saya percaya bahwa kebaikanlah yang membuat dunia ini berputar pada porosnya.

Suatu hari, seorang tukang koran membantu memperbaiki mobil seorang pengusaha yang mogok di tengah jalan. Besoknya, sang pengusaha menyantuni si tukang koran, dan memberi hibah modal usaha bagi ratusan tukang koran di kota itu. Besoknya, salah seorang tukang koran berhasil memiliki usaha percetakannya sendiri, dan memberi lapangan pekerjaan bagi banyak pengangguran. Dan masih banyak besok-besok lain yang akan lahir hanya karena kebaikan satu orang tukang koran. Hari besok yang penuh kebaikan untuk dunia yang layak dihuni manusia.

Besok mungkin saat yang tepat untuk memulai berbuat baik, atau minimal tersenyum, pada siapapun. Membuat orang melupakan kesedihannya dan ikut berbahagia, meski hanya sekejap saja, jelas adalah perbuatan paling mulia di muka bumi.

Kalau sudah begini, jadi ingin mengutip kata-kata eyang Ian Maclaren:

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle”

PS: Ya, itu adalah kata bijak dari Ian Maclaren, penulis Skotlandia, bukan Plato. Cek saja di http://quoteinvestigator.com/2010/06/29/be-kind/ for your information aja sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s