Bus Terakhir

rio2006_10

Mesin besar itu berderung seperti geraman binatang buas, tubuhnya mulai berjalan perlahan. Aku duduk di dalamnya, bersama seorang teman di sebelah. Langit sore sudah menyelimuti, kabut menggumpal di sana-sini, dan rintik hujan mulai menyertai.

Suasana semacam itu, entah sudah berapa kali saya alami. Duduk di dalam sebuah bus, merasakan angin menampar wajah, memperhatikan kelebatan pemandangan dari jendela. Lampu jalanan, kendaraan-kendaraan, perumahan, dan orang-orang, semuanya berkelebat cepat seraya bus ini melaju.

Teman di sebelah mulai berceloteh, saya hanya menanggapi seperlunya, karena kepala saya sedang berkelana ke alam pikir lain.

Bus ini, dia akan mengantarkan saya pulang dari sebuah pertemuan besar dalam salah satu organisasi yang saya ikuti. Organisasi ini, hanyalah satu dari tiga organisasi yang pernah saya ikuti selama berkuliah. Sudah tidak terhitung jumlah saya naik bus pulang-pergi demi kegiatan organisasi-organsasi tersebut. Dari mulai peserta pelantikan, hingga panitia pelantikan, dari mulai peserta musyawarah besar, hingga menjadi panitianya, dari mulai menjadi peserta diklat, hingga panitia diklatnya. Semua dilakukan berkali-kali, pelantikan-mubes-diklat, di semua organisasi. Tiap kali berangkat, kami pasti berangkat dengan riang gembira di dalam bus, tiap kali pulang, pasti kami lelah dan lesu, muka kami pucat dan mengantuk. Tapi puas.

Sekarang, sudah dua tahun umur kuliah saya, ini tahun ketiga. Masa keorganisasian saya memang sudah ditakdirkan untuk berakhir. Semua pengalaman, semua ilmu, semua waktu berharga, dan semua persahabatan yang telah saya dapatkan, tidak ada lagi yang bisa saya ucapkan selain terima kasih banyak. Romantisme militansi yang saya alami di tiap kerja-kerja yang saya lakukan bersama kalian, akan menjadi kenangan paling indah.

Diam-diam saya tebarkan pandangan ke seisi bus, teman-teman saya terlihat letih, ada yang menguap, banyak yang mulai tertidur. Seketika ingatan saya memutar ulang pemandangan serupa ketika menaiki bus bersama teman-teman di organsasi lain. Indah sekali, dan terlalu menjengkelkan untuk dilupakan.

Teman di sebelah saya masih berceloteh, namun masih tidak saya acuhkan. Ia pun heran, apa yang membuat wajah saya begitu sedih. Saya katakan, alasannya ya karena bus ini. Ini adalah sekian kalinya saya menaiki bus untuk urusan organisasi, dan mungkin ini bus yang terakhir. Hari-hari esok tidak akan lagi menjadi hari kepengurusan organisasi. Hari-hari esok akan menjadi langkah baru dalam menentukan langkah karir dan akademik.

Saya mencoba mengambil nafas dengan tenang dan menerawang keluar jendela. Sensasi visual yang berkelebat itu masih membuaikan. Lampu jalanan, perumahan, kendaraan, dan orang-orang, berlalu cepat dalam pandangan seiring dengan bus yang berjalan cepat. Otak masih dengan seenaknya menampilkan rekaman tentang bus-bus sebelumnya.

It brings the memory back ya?” kata teman itu.

“iya”, jawabku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s