Di Sebuah Senja

20130909_180024

Foto langit senja yang diambil saat puisi ini lahir

Senja di Yogyakarta.

Tak peduli kau pujangga atau pemuda.

Kau pasti bisa melakukannya.

Syair dan sajak.

Gurindam dan pantun.

Gambarkan siluet merah itu.

Suarakan kicau camar itu.

—————————————————————————————————————————————————

Lalu apa?

Toh semua akan dibunuh waktu.

Setelah semua yang dibuai nikmat yang palsu.

Harapan yang mengintip sesaat bagai matahari di ufuk barat, lalu hilang di telan khatulistiwa.

Nantinya juga gelap akan mengonsumsi terang dengan kejamnya,

Akhirnya darah juanglah yang menciprati jalan-jalan kota.

———————————————————————————————————————————-

Tapi senja?

Ya nikmati saja, apa salahnya.

Tidak dosa kan dicatat malaikat bila hati mengikuti hasratnya.

Toh mata hanya ingin terbuka dan memandang tanda-tanda.

Jika nanti malam telah tiba, kelopak akan menyelimutinya.

Jika pula ia terbangun esok pagi, pria yang akan terbangun bukanlah orang sama yang kau temui tadi malam

——————————————————————————————————————————————

9 September 2013

Grha Sabha Pramana

Di bawah siluet surya yang tenggelam dan bulan sabit yang benderang dan langit yang terbelah antara senja dan malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s