Alternatif Kehidupan Paralel

 direct

Dulu saat aku duduk di bangku SMP, guru Agamaku pernah mengajarkan tentang takdir. Katanya, takdir itu ada dua, Qadha dan Qadar. Menurutnya, Qadar adalah takdir yang tidak dapat diubah, sudah merupakan garis ketetapan yang fix telah ditentukan. Mesin pencari juga menjelaskan padaku bahwa Qadar sudah ditentukan sejak zaman dan waktu belum dimulai. Sementara Qadha adalah takdir yang dapat dipilih umat manusia. Lebih tepatnya dia adalah semacam alternatif-alternatif masa depan yang bisa dipilih oleh orang.

Sederhananya begini, bila aku terlahir sebagai laki-laki, itu adalah Qadar. Aku tidak memilih terlahir dengan kelamin ini. Jauh sebelum alam semesta diciptakan, Allah SWT sudah menuliskan bahwa Hamzah Zhafiri Dicky akan terlahir sebagai laki-laki. Tidak ada kekuatan dari langit dan bumi yang bisa mengubah ketentuan itu.

Sementara takdir apakah Hamzah di masa depan akan sukses, kaya, berkuasa, dan dicintai, atau justru bangkrut, miskin, lemah, dan dibenci, itu adalah takdir Qadha, alias takdir yang dapat aku pilih. Jadi apa itu berarti takdir semacam ini ada sepenuhnya di tangan manusia? Nanti dulu. Pengambil keputusan akhir tentang masa depan tetap di tangan Allah SWT. Namun dalam hal ini, manusia dilibatkan untuk mengintervensi takdirnya sendiri, mau A atau B.

Jadi apakah aku akan sukses atau bangkrut, Allah SWT yang menentukan kedua pilihan itu, aku tidak dapat memilih selain itu. Tapi kuasaku sepenuhnya untuk menentukan mana dari pilihan itu yang akan terimplementasi jadi kenyataan. Bagaimana caranya memilih satu dari pilihan takdir yang tersedia itu? Ya dengan perbuatan. Bila ingin sukses, kaya, dan berkuasa, monggo dari muda berikhtiar, belajar, berbakti, mencari ilmu dan pengalaman. Bila tidak ingin, ya monggo nganggur. Pasti anda akan bangkrut, miskin, dan ditelantarkan.

Ya, tentunya ini adalah hipotesis tafsir logis dari si Guru Agama. Kalau aku boleh menambahkan, ada lagi kemungkinan bahwa seberapa pun ikhtiar kita, bisa saja  pilihan takdir yang akan terealisasi bukan apa yang kita perjuangkan. Bisa jadi lebih buruk, atau lebih baik. Ya, seperti yang sudah dibilang tadi, Tuhan tetaplah pengambil keputusan akhir.

Tapi apa lantas itu bisa menjadi alasan untuk tidak berikhtiar? Ya jelas tidak. Karena ikhtiar adalah satu-satunya yang bisa diperjuangkan manusia. Lagipula Tuhan menciptakan dunia ini sebagai dunia manusia. Tentunya Dia ingin agar tangan ikhtiar manusia yang membangunnya. Otomatis, tangan-tangan ikhtiar pasti akan lebih terapresiasi.

Nah, Qadha inilah yang membuat saya banyak berpikir belakangan ini. Di usia yang menginjak kepala dua, begitu banyak pilihan-pilihan takdir alias Qadha-Qadha alias alternatif masa depan paralel yang disediakan untuk aku jadikan kenyataan. Semuanya harus dipertimbangkan dan dipilih dengan seksama, kemudian dicapai dengan ikhtiar yang maksimal.

confusedSemisal ada pilihan mau ngapain setelah lulus kuliah. Untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, maka ada pilihan ke Eropa atau Amerika. Untuk ke Eropa, bisa dicapai dengan menembus beasiswa Erasmus Mundus. Untuk ke Amerika, bisa dicapai dengan melewati ujian GRE dan TOEFL. Untuk kuliah dalam negeri, ya tinggal tahu IPK minimum. Untuk melanjutkan kerja di instansi, perlu tahu arah karir dan perusahaan yang membutuhkan lulusan sarjana jurusanku. Untuk melanjutkan dengan berwirausaha, perlu memulai bisnis dari sekarang, mencari pasar yang tepat, lalu melanjutkannya lebih dalam saat lulus.

Haih, itu padahal hanya pilihan-pilihan karir pasca lulus kuliah. Begitu mistis nan sakti Qadha itu. Sampai-sampai tiap Qadha itu membuka sebuah kehidupan paralel. Ya bayangkan saja, bila aku memilih kuliah di Inggris, aku akan hidup di sana, berteman dengan orang sana, punya jadwal ketat untuk minum teh jam 4 sore dan makan dengan saling mengoper garpu dan pisau. Bila aku memilih kuliah di Amerika, aku akan tinggal di sana, berteman dengan orang sana, beraliran liberal, suka makan Bigmac, dan menghilangkan kebiasaan bersendawa setelah makan. (ah, belagak banget sih. IPK seadanya gitu berharap ke luar negeri. Hutang ke warung rames aja urung lunas)

Bagaimana dengan Qadha-Qadha lain? Umurku 20, semester lima, tahun ketiga kuliah. Dalam jangka pendek saja ada banyak pilihan tempat KKN, tema skripsi, minat mata kuliah, dll yang membingungkan.

Yang paling celaka adalah memilih opsi Qadha yang lumayan esensial dalam hidup. Tidak bisa main-main. Padahal tidak mudah pula. Mungkinkah memang belum saatnya memikirkan itu semua?

Untuk menambah semua keruwetan itu, entah kenapa Tuhan selalu memberikan pola yang aneh dalam pilihan yang Ia berikan. Di tiap kuis tebak-tebakan ini, selalu polanya secara umum adalah: Antara memilih yang aku inginkan, atau yang aku butuhkan.

Dalam satu kesempatan, aku merasa menginginkan banyak teman, padahal yang aku butuhkan adalah seorang sahabat. Aku diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih salah satu dari itu, tebak saja saat itu aku memilih yang mana. Di kesempatan lain aku menginginkan nilai kuliah yang luar biasa bagus, padahal yang aku butuhkan adalah pemahaman tentang pendidikan.

Kira-kira begitu.

Di dunia nyata, yang terjadi tidak sesimpel itu. Batas-batas antara ingin dan butuh semakin kabur. Kadang apa yang sekedar aku inginkan, saking aku inginnya, aku sugestikan dalam pikiran bahwa sesungguhnya itu juga kubutuhkan. Kadang apa yang benar-benar aku butuhkan, malah aku curigai sebagai keinginan dan nafsu pribadi.

Ya, tidak mudah.

6257178-a-3d-rendered-direction-sign-with-multiple-arrowApalagi setelah apa yang terjadi beberapa minggu terakhir. Berbicara dan mendengar cerita untuk dan dari banyak orang. Membuatku agak punya gambaran akan apa yang aku ingin dan aku butuh. Apalagi malam ini, malam terakhir sebelum secara resmi berumur dua puluh tahun. Berbicara dengan seseorang yang lumayan berpikiran luas, membuatku tiba-tiba tahu akan sebuah pilhan lain, Qadha lain, sebuah kunci menuju alternatif kehidupan paralel, yang mungkin serupa dengan kehidupan paralel lainnya. Tapi, tidak sama.

Ya, selamat memilih Qadha yang tepat, wahai pemuda dua puluh tahun. Hidupmu memasuki sebuah bab yag baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s