Surat Untuk Adik

Dua kakak-beradik, siap berpetualang

Dua kakak-beradik, siap berpetualang

Adik, ini kakakmu, Hamzah Zhafiri Dicky, yang menuliskan ini untukmu.

Saat aku menulis kalimat ini, aku berada di kamar, sendirian, jauh dari rumah, merindukan kamu.

Seperti yang kamu tahu, aku tertahan di sini karena suatu tanggung jawab. Kerjaan di organisasi, biasalah, mahasiswa. Saat aku ingat-ingat lagi, kemarin saat liburan semester pun aku tidak pulang. Lagi-lagi karena suatu tanggung jawab di tempat lain. Ya, begitulah.

Kamu kangen dengan kakakmu? Haha, mungkin iya mungkin tidak. Entahlah. Kamu sudah besar sekarang. Sudah bertumubuh, berkembang, menjadi manusia seutuhnya, wanita dewasa, meski belum sempurna, tapi cukup pesat berproses. Aku masih ragu, apakah kau masih seorang adik perempuan kecil yang kangen dengan kakak laki-lakinya.

Sekitar dua tahun yang lalu, saat pertama kalinya sejak aku kuliah, kamu dan bapak-ibu mengunjungi aku, masih aku ingat bagaimana kamu tiba-tiba berlari ke arahku. Dengan cepat memburu, membuka tangan, dan memelukku. Erat sekali. Seolah kita tidak pernah bertemu selama sekian puluh tahun.

Tidak lama setelah itu, aku pun akhirnya pulang pada leburan semester. Tapi hanya seminggu. Di hari kepergianku untuk kembali ke Jogja, kau sempat mengirimkanku SMS. Kau belum tahu bahwa saat itu aku sudah naik kereta. Isi SMS itu, kau bilang bahwa kau baru saja selesai sekolah. Kau memintaku menjemputmu, dan kita bisa pergi berdua, hangout entah dimana. Hatiku seketika hancur. Aku beritahu dengan tenang, bahwa aku sudah dalam perjalanan pulang.

Tidak lama, kau memensyen aku di twitter:

“We haven’t even said goodbye. But you just leave like that. That’s great. Just great”

Selama sebulan sejak itu aku tidak bisa tidur normal.

Ketika dandanan begitu menor...

Ketika dandanan begitu menor…

Tapi akhirnya kita bisa bertemu lagi, saat libur lebaran setahun yang lalu. Tidak terlalu berkesan memang, tapi sudah lebih dari cukup. Belum lagi saat kamu dan keluarga datang ke Jogja di tahun baru. Itu cukup memberi kekuatan bagiku untuk hidup di semester ini.

Sampai akhirnya sekarang, saat seharusnya aku bisa pulang dengan cepat, saat seharusnya kita bisa bermain bersama dengan waktu yang cukup lama, lagi-lagi harus ditunda. Maafkan aku ya. Padahal sebentar lagi kau akan mengikuti pertukaran pelajar selama satu tahun penuh. Kita tidak akan bertemu. Selama satu tahun.

Tapi aku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk paham. Karena memang, lamanya waktu dimana kita tidak bersama seperti ini, memang hanya permulaan saja. Besok kau AFS, besok kau kuliah entah dimana, lalu sibuk dengan duniamu. Besok aku juga masih kuliah, besok aku lulus, besok aku kerja, besok aku ingin kuliah di luar negeri, dan masih banyak lagi besok-besok yang lain, aku pun akan tenggelam lagi dengan duniaku.

Ruang dan waktu akhirnya tidak akan selalu menyatukan kita. Tidak akan banyak lagi waktu yang bisa kita habiskan bersama, di satu ruangan yang sama. Tidak banyak lagi canda dan tawa yang bisa dibagi, bahkan pertengkaran yang bisa dilakukan.

Kalau sudah begini, aku jadi ingin mengingat-ingat masa lalu kita. Sebagai dua kakak-beradik yang tidak akan pernah cocok. Kita kesana kemari selalu berbeda pandangan. Tapi entah kenapa selalu bisa kompak. Saling membantu. Saling curhat. Bersama-sama melawan dunia di sekitar kita. Kadang bahkan dalam hal melawan orang tua sendiri.

Tapi mungkin memang tidak selamanya kita bisa terus bersama secara fisik. Kita punya minat yang berbeda, maka itu harus mengasah diri di tempat yang beda pula. Aku sudah menyadari ini sejak ketika kita tidak pernah bertengkar lagi. Entah kapan itu dimulai, tapi tiba-tiba aku tidak berminat bertengkar lagi denganmu. Alasannya sederhana, karena kita tidak lagi memperebutkan hal yang sama. Tidak seperti dulu.

Jadi, yasudah.

Hey adik, aku jadi ingat. Dulu ibu pernah bilang ke aku. Kata ibu, kamu selalu bertanya-tanya:

“Bu, gimana ya biar bisa kayak mas Hamzah? Mas Hamzah tuh kalau udah ada pengennya, pasti bisa berjuang keras. Pasti bisa dapet yang dia mau. Kayak waktu pengen masuk UGM dulu. Terus dulu juga mas Hamzah menangin banyak lomba”

Adik, tidak mudah untuk mendapat yang kita mau. Tapi juga tidak mustahil. Asal kita berkeinginan keras, fokus, memakai kacamata kuda, artinya kita tidak peduli dengan segala bentuk godaan dan gangguan di kanan-kiri kita. Mata kita hanya tertuju pada tujuan yang ada di depan. Pasti bisa.

Pada akhirnya bukankah kamu berhasil mendapat yang kamu mau? Pertukaran pelajar itu, pasti bukanlah hal mudah untuk kamu mendapatkannya. Beragam rangking yang kamu dapat di SMP, dan nilai-nilai bagus di SMA. Jujur saja, itu bukanlah sesuatu yang aku berhasil dapat saat dulu bersekolah. Paham dik? Ada motivasi lain yang perlu kusampaikan?

Rasa-rasanya dulu aku sering menuliskan SMS-SMS motivasi Mario Teguh ke hapemu. Apa kau masih membutuhkannya? Aku rasa kamu sudah bisa memotivasi dirimu sendiri. Masih kuingat saat terakhir kali main ke kamarmu, (yang sekarang pasti akan sangat sulit kuakses), kamu menuliskan di sebuah kertas tempel: “SEMANGAT AFS! HARUS FOKUS BELAJAR! GAK BOLEH GALAU LAGI!” dan kamu tempel itu di meja belajarmu.

Aku tertawa sendiri setiap kali mengingatnya.

Rebutan laptop

Rebutan laptop

Adik, aku tidak akan pusing-pusing bikin kalimat romantis untukmu. Kunyatakan saja dengan sederhana, betapa aku menyayangimu, dan menyesal atas tiap kesalahan yang mungkin pernah aku perbuat di masa lalu. Hari-hari kemarin lupakan sajalah, aku cukup tahu bagaimana kamu menangis tiap kali curhat ke ibu tentang aku. Dan kamu pun tahu bagaimana aku kecewa tiap kali kamu bertingkah menyebalkan di saat aku sudah banyak menahan emosi demi menghindari pertengkaran. Ya, lupakan saja.

Beberapa minggu yang lalu, aku diundang seorang teman untuk datang ke pernikahan tantenya. Lumayanlah, makan gratis. Nama temanku itu Dimas (bukan nama SAMARAN alias asli). Dimas ini punya pacar, aih, siapa ya namanya? Aku lupa. Sebut saja Vita.

Nah, aku berbincang-bincang dengan si Vita ini. Kemudian aku berkenalan dengan keponakannya Dimas. Seorang gadis kecil bernama, aih, lupa lagi. Biarinlah. Kemudian aku melihat Vita dan keponakannya Dimas bermain bersama. Mereka tidak punya hubungan darah. Vita ada disitu hari itu hanya karena dia pacarnya Dimas. Tapi keponakannya Dimas merasa mendapat seorang kakak perempuan “gratis”.

Seketika aku teringat dengan kamu dik. Beberapa tahun yang lalu, mungkin kamu sudah lama lupa, dialog ini pernah terjadi:

“Mas Hamzah, kapan sih mas Hamzah punya pacar?” tanyamu.

“Hah? Emang kenapa?” dalam hati aku sudah mengumpat-umpat dengan tiga bahasa karena merasa dilecehkan.

“Iya, abis aku kan pengen punya temen main perempuan. Pengen punya kakak perempuan. Bisa aku ajak main sebagai sesama perempuan,” katamu sendu.

Saat itu aku hanya bisa tertawa sambil (belagak) ngeremehin kamu. Anak kecil tahu apa? Aku berseru sambil bercanda.

Tapi saat ini entah kenapa aku jadi teringat terus. Maaf ya, aku belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu, sampai kamu minta diberikan kakak lain. Kamu tahu kan, di dunia ini tidak pernah ada sekolah yang mengajarkan cara menjadi kakak yang baik? Dan kalau memang persoalannya adalah yang kau cari merupakan kakak perempuan, ya, maafkan aku juga karena belum bisa memberimu kakak perempuan.

Mau bagaimana lagi? Kakakmu ini masih harus banyak belajar. Ternyata tidak semudah itu mencari seorang rekan dik. Pilihan sih ada, kakakmu ini bukannya gak laku lho. Tapi aku kan juga harus melihat apa orang-orang ini bisa menjadi kakak yang baik bagimu, dan anak yang baik bagi ibu kita.

Beberapa tahun silam, ibu pernah bercerita padaku tentang seorang temannya. Teman ibuku ini konon memiliki anak yang pacaran dengan perempuan yang kepribadiannya tidak baik. Alhasil, hubungan teman ibuku dengan pacar anaknya itu jadi tidak baik. Padahal yang namanya calon mertua dan calon menantu harus bisa berhubungan layaknya orang tua dan anak bukan? Di akhir cerita, ibu berkata dengan getir padaku “nanti kalau kamu cari perempuan, cari yang baik ya mas. Yang mau sayang sama ibu.”

Maka itu, aku punya keinginan begitu besar, untuk mencari orang yang bisa mencintai ibu kita dengan baik.

Juga dalam banyak kesempatan, aku merasa masih harus banyak belajar. Pernah suatu kali, aku merasa menemukan yang aku cari. Tapi Tuhan mengingatkanku, bahwa masih banyak yang harus kupersiapkan untuk menerima hal-hal besar dalam hidup. Termasuk mendapat hal semacam itu.

Kita sama-sama mencintai anak kecil. Panti asuhan adalah surga bagi kita

Kita sama-sama mencintai anak kecil. Panti asuhan adalah surga bagi kita

Adikku, itu juga yang harus kamu pahami. Ingatkah dulu ketika orang tua kita tidak memberi kita telepon genggam sampai kita SMP? Aku cukup yakin bapak ibu sangat ingin memberikan kita alat tersebut. Tapi aku yakin dalam benak mereka, mereka bertanya: apakah anak-anak siap menerimanya? Sudahkah kita mampu untuk menggunakan alat tersebut demi tujuan positif? Begitu juga hal-hal lain semacam Playstation, laptop, motor (untukku), yang tidak pernah diberikan dengan mudah oleh orang tua kita. Bukan karena pelit, tapi karena mereka menunggu saat dimana kita siap menerimanya. Jangan sampai disalahgunakan.

Begitu juga dengan Tuhan. Aku yakin Tuhan selalu ingin memberi kita banyak hal. Sangat mudah bagi Tuhan untuk menganugrahi kita harta, benda, kekayaan, pasangan, karir, teman baik, dan lain-lain. Namun, tidak selalu kita siap menerima hal itu. Banyak sekali manusia yang memperoleh begitu banyak anugerah, tapi gagal memanfaatkan hal tersebut untuk tujuan positif.

Kadang banyak yang harus kita pelajari, kebijaksanaan yang haru kita pahami, agar kita mampu memanfaatkan pemberian Tuhan dengan baik. Dan sebelum kita mencapai tahapan itu, dengan sendirinya Tuhan tidak akan memberikannya. Tapi bila kita sudah membuktikan bahwa kita pantas, Insya Allah pemberian itu akan datang.

Jangan hanya bersyukur bila doa kita terkabul, bersyukurlah juga bila kita tidak mendapatkan yang kita minta dari Tuhan, karena itu tadi, mungkin Tuhan masih menilai bahwa kita belum siap menerimanya. Aku justru takut bila suatu hari nanti aku diberikan sesuatu yang sebenarnya aku belum mampu menerimanya. Lantas aku tergiur untuk menyalahgunakan yang aku punya, dan menjadi orang laknat yang membawa kerugian bagi banyak orang. Bukankah itu berarti azab?

Kamu memang terlalu cantik. Kalau kita berdua bercermin, kamu selalu berkata: "mas, kita beneran saudara gak sih?"

Kamu memang terlalu cantik. Kalau kita berdua bercermin, kamu selalu berkata: “mas, kita beneran saudara gak sih?”

Adikku, mungkin saat kita bertemu, aku bisa bicara lebih banyak lagi padamu. Ini kutuliskan hanya sebagai apologi karena aku yang tidak kunjung pulang. juga waktu yang amat minim yang bisa kita habiskan saat aku pulang nanti. Tapi satu hal yang pasti. Aku menyayangimu. Bukan hanya karena darahku mengalir di nadimu. Bukan juga karena kita berasal dari rahim yang sama. Tapi jauh lebih romantis dari itu, kau adalah teman pertamaku. Sejak kamu lahir, hingga detik ini. Tidak percaya? Dialog ini pernah terjadi antara aku dan ibu:

“Bu, kenapa dulu ibu mau punya anak kedua?” tanyaku.

“Ya iya dong, biar mas Hamzah ada temennya,” jawab ibu.

Salam sayang dari Hamzah Zhafiri Dicky.

Untuk Zatalini Zahra

Selamat menuntut ilmu di luar sana, adikku...

Selamat menuntut ilmu di luar sana, adikku…

One thought on “Surat Untuk Adik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s