Fragmen

IMG_9776medium

Setidaknya ada beberapa fragmen yang mengganggu pikiran belakangan ini. Berawal mungkin dari kamar kosan seorang teman.

Fragmen 1

Aku berbaring di kamar itu. Temanku asyik dengan tugas di layar laptopnya. Dia membelakangiku, aku terdiam seribu bahasa memandang langit-langit. Pandangan menerawang, tatapan kosong.

Dia menoleh ke belakang, melihatku, ia mencoba menegur.

“Woy, gimana Ham? Gimana Haam? Diem aja?”

“Ahaha, ya gakpapa.”

“Kasihan, abis trial and error ya?”

“ya”

Dia kembali pada laptopnya.

Kami berdua kembali dalam posisi semula, kali ini cukup lama.

Sampai dia menoleh kembali.

Dengan jenaka ia menyanyikan lagu Rhoma Irama:

“Mengapa? Mengapaa?” dengan nada menggoda.

Bantal segera melayang ke mukanya. Disertai tawanya dan makianku.

Ia kembali berkutat dengan laptopnya, aku mencoba mengambil gitar dan memetik beberapa senar.

Lalu kembali terdiam lagi. Berbaring, dan kembali melamun.

Dia menoleh kembali, langsung saja kumaki sebelum dia sempat bicara:

“Iya man gue gakpapa! Anjrit lo lebay banget.”

“Kenapa jadi marah? Gue kan cuma ngecek lo masih idup ato kagak”

“Ho, segitu perhatian gitu lo?”

“ya kagak, kalo semisal lo mati ya bisa gue seret keluar dari kamar gue. Jangan ampe bau busuk lo entar menuhin kamar gue,”

“bacot lu!”

Dan kita bertukar makian serta canda berulang-ulang. Dengan usaha yang jelas terlihat, ia mati-matian melempar jokes-jokes.

“Lo harus liat ini Ham! Album Lonely Island yang baru!”

 

Fragmen 2

Paginya aku terbangun di kamar dia. Melihat dia tidur dengan damai, dengan hati-hati aku bangun dan merapihkan barang-barangku. Mandi, berpakaian, melangkah dengan semangat baru.

“Woy, lo gak ikut gue?,” ujar teman kosan lain.

“Tengkyu bang. Gue sepedaan aje. Abis ujian gue mau cabut ke tempat laen soalnya,” ujarku.

Kemana perginya aku yang dulu? Tanyaku dalam hati seraya mengayuh sepeda menuju kampus.

 

Fragmen 3

Malam setelah ujian, nongkrong lagi di kosan teman yang sama. Merencanakan liburan ke depan. Rencana untuk hangout bersama teman-teman sekelas yang sesama berasal dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Bandung lainnya.

Lalu lebih intim, membicarakan tentang masa depan. Tentang KKN, skripsi, dunia kerja, serta ilmu-ilmu yang harus kami kuasai untuk bisa melewati tahapan-tahapan itu.

“Akhirnya lo jadi apply kuliah ke Korea itu?” tanyaku

“Iyalah jadi,” jawabnya.

“Itu berapa lama sih studinya?”

“satu tahun”

“jadi kuliah lo di sini gimana?”

“cuti” dengan sangat ringan ia menjawab.

“Lo lagi ngapain sih?” aku perhatikan dia berkutat dengan laptop dan buku-buku tebal.

“Ya ini, tugas bikin esai. Buat seleksi program itu”

“dan lo lebih serius ngerjain itu ketimbang tugas take home test UAS?”

“IYALAH! EDAN PO RA?” jawabnya dengan sok yakin. Ya, namanya sudah passion. Mau bagaimana? Kami pun tertawa.

Seorang teman lain dengan konyol ikut masuk ke kamar ini dan nimbrung. Melihat berkas-berkas program pertukaran pelajar yang sedang diusahakan temanku ini.

“Eh man, katanya mau ke Korea, kok ini tulisannya ASEAN?”

“Dibaca dulu Yog! Dibaca!”

“hmm, ASEAN community program 2014, international development, building tolerance… bla bla bla”

“BACA TERUS! BACA!” sahut temanku lagi.

“In assosiciation with Korean government,”

“NAH ITU!”

Dia pun ngeloyor pergi sambil terkekeh.

Aku pun mengambil berkas itu dan mengamatinya baik-baik.

“Iya man, katanya lo mau ke Korea. Kok ini ternyata program ASEAN Community?”

“ELAH ZAH!”

“lha iya toh? Nih ada lambang ASEAN nya”

“AARGH!”

 

Fragmen 4

Pagi, kembali aku terbangun di kamar itu. Baru ingat juga bahwa, mungkin ini terakhir kalinya tidur di situ. Sebentar lagi dia akan pindah.

“kapan lo cabut dari sini?” tanyaku.

“ngusir nih?”

“Haha, iya biar lo cepet pergi dari hadapan gue!”

“Nanti Juli zah”

“Haha, gue bakalan kehilangan banyak supply nih,”

“Apanya? Paling lo kesini cuman minta air,”

Seorang teman lain mendatangi kami.

“eh zah, tugas ini lo udah ngerjain belom?”

“Belom, entarlah sejam sebelum deadline gue coba ngerjain” ujarku sekenanya.

Ya, kebersamaan seperti ini yang selalu kurindukan. Berada bersama geng teman-teman dekat, yang kuliah di satu angkatan dan (kebetulan) berasal dari satu daerah, sama-sama disatukan dalam satu kompleks kosan. Dulu kelompok ini pernah begitu besar. Kami bisa belajar bersama tiap kali mendekati ujian. Tidak hanya kami, teman-teman sekelas kami pun berdatangan mengajak belajar bersama.

Tapi entah sejak kapan aku tidak bisa lagi bermain bersama mereka. Begitu banyak kesibukan yang kuputuskan untuk kuambil. Mereka pun memahami itu.

Tapi bertemu dengan mereka membuatku dapat kembali ke dunia “kuliah”, kembali kepada realitas bahwa aku punya tanggung jawab akademik di sini. Bahwa aku punya kewajiban untuk berkutat dengan buku-buku teoretis dan metodologis. Memahami pemikiran-pemikiran ilmuwan yang sudah almarhum yang sekian banyaknya itu. Lalu terjun ke lapangan, menelaah realitas masyarakat. Melahirkan solusi-solusi sosial.

Ya, bukankah itu sumpahku sebelum aku menginjakan kaki di kampus ini? Masih kuingat saat usai mengerjakan SNMPTN, aku berjalan-jalan ke arah sebuah Pasar Tradisional di Bogor. Sebuah Pecinan lebih tepatnya. Berusaha berdialog mesra dengan Tuhan, untuk mohon diberikan hasil yang terbaik untuk jalanku menuju kuliah.

Bila memang yang terbaik untukku adalah pilihan pertamaku, UGM, maka jadilah.

Bila memang yang terbaik untukku adalah Unpad, pilihan keduaku, maka jadilah.

Bila memang yang terbaik untukku adalah UMN, pilihan Universitas swastaku, maka jadilah

Aku berdoa seraya membeli satu nasi bungkus di warteg terdekat. Untuk siap kubagikan ke siapapun yang kiranya kelaparan siang ini.

Tuhan, aku berjanji, bersumpah malah. Apapun jalan yang akan kau berikan, akan kujadikan sarana untuk mengabdikan diri padaMu. Aku akan menjadi tangan-Mu yang menegakkan hukum dan kuasa-Mu. Menjadi tanganMu yang kau utus untuk membantu hambaMu yang ingin Kau bantu dan beri hikmah. Menjadi tanganMu yang memberikan nasi hangat dan telur dadar, serta daging yang gurih, bagi siapapun yang kelaparan di trotoar jalan.

Tuhan, aku bersumpah.

Tiba-tiba kuingat lagi fragmen-fragmen perjuanganku selama satu tahun saat itu. Sambil berpuasa Daud, mengikuti kelas tambahan di sekolah, dan bimbingan belajar di luar. Secara selang-seling menahan lapar, memiliki waktu belajar yang lebih masif ketimbang pelajar normal. Berangkat sekolah jam 6 pagi, pulang jam 6 sore. Bahkan setelah lulus sekolah pun, masih harus mengikuti bimbel di untuk SNMPTN.

Lelah, tapi bisa dinikmati. Karena itu semua, adalah cita-cita.

Adalah ambisi. Adalah passion.

Hidup hanya sekali, apa lagi alasannya untuk tidak membuatnya berarti?

Tapi hari ini, sudah berapa banyak proses menuju cita-cita itu tercapai? Ya, aku tidak bisa bilang aku tidak melakukan apa-apa. Tidak bisa dibilang semua yang kuusahakan sia-sia. Tapi tetap saja, tidak maksimal.

Pertanyaan sederhana: kemana diriku yang dulu? Yang begitu sabar berjalan di tengah teriknya matahari, lapar dan haus. Lalu saat berbuka hanya menyantap roti bungkus di tempat bimbel, beserta air putih. Lalu pulang melewati jalan setapak perkampungan yang sempit dan becek ditemani langit senja dan sayup-sayup adzan?

Ya, memang banyak hal yang membuat lena di sini. Segala rutinitas yang tidak menantang, atau bahkan tantangan yang terlalu melelahkan. Semuanya terjadi. Sampai-sampai aku lupa, aku masih punya cita-cita.

Fragmen 5

Di sebuah kamar mandi, menyiram tubuh dengan air dingin. Tiba-tiba tersentak. Seolah dibangunkan dari tidur yang cukup lama. Kau harus bangun. Kegagalanmu kemarin. Sangat wajar. Kau belum membuktikan dirimu mampu memperoleh hadiah seindah itu.

 Kau akan mendapatkan rekanmu, secepat mungkin setelah kau membuktikan pada masyarakat, kau cukup berarti.

Fragmen 6

Dalam sebuah siang yang biasa, membersihkan kamar dengan telaten. Bersiap untuk pulang sebentar lagi. Handphone berdering. Ibu memanggil.

Seperti biasa, menanyakan kapan aku akan pulang. Sebentar lagi, setelah urusanku di sini sudah selesai, jawabku.

Baik, segera saja pulang nak, kau masih punya tanggung jawab di sini.

Cerita berlanjut tentang situasi di kampung halaman. Tentang ayah, adik, sepupu, om, tante. Semuanya. Sebagai salah satu anak tertua, sudah saatnya aku terjun dalam dinamika keluarga besar kami.

“Diantara sepupu-sepupu kamu, kamu termasuk yang paling tua. Dan dengan masalah yang ada sekarang, kamu mungkin bisa menerimanya. Tapi adik-adikmu yang lain? Mereka membutuhkan contoh dari seorang kakak. Mereka butuh kakak yang bisa memberi mereka petunjuk bagaimana menghadapi masalah yang kompleks kayak gini. Masalah yang sebenarnya belum cukup umur untuk mereka ketahui,” tutur ibuku.

Iya, iya benar ibu.

“cepatlah pulang nak. Banyak yang membutuhkan kamu di sini”

“Tapi bu, kayaknya kalo aku pulang, kegalauanku cuman bakal bikin orang-orang tambah ikutan galau deh. Hehe”

Kami berdua tertawa lebar.

“Kamu tahu gak nak? Kegalauan kamu itu kadang malah jadi candaan yang menghibur banyak orang lho,”

“ohya?”

“Iya. Melihat kamu yang jenaka. Keliatan aneh dan galau gitu. Malah lucu kelihatannya,”

Aku tertawa.

“Suatu saat kamu akan mengetahui, bahwa galaumu itu adalah sebuah proses yang normal. Ibu, bapak, om, pakde, semuanya juga dulu pernah galau kayak kamu. Tapi ya gak masalah. Itu adalah proses pendewasaan diri.”

Iya ibu.

Tidak tahu harus senang, tidak tahu harus sedih. Dalam beberapa hari saja aku berhasil menemukan sesuatu yang hilang dari masa lalu. Sebuah spirit. Semangat menggapai cita-cita. Sebuah adrenalin untuk menghirup udara dengan penuh alasan.

Dan seperti menjadi sebuah rutinitas yang membosankan di tiap hari-hariku, aku suka membayangkan senyum indah itu.

Senyum yang hanya dapat kutemukan di wajahmu.

Wajah yang kamu klaim tidak cantik itu.

Entah sejak kapan, wajah-tidak-cantikmu itu telah menjadi penyembuh bagi jiwa yang kebosanan.

 

Fragmen 7

“Kasihan kamu, bakalan gak ketemu lama”

“Haha, biasa aja kali,” jawabku.

“uuuuh, zaaah. Yang sabar yaa” dia mencubit lenganku.

Aku tertawa geli melihat kelakuan anak kecil ini.

“Kami berdua sama-sama dewasa kok. Sama-sama bisa menyikapi satu sama lain dengan bijak dan sewajarnya. Tidak perlu berlebihan,” kataku dengan senyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s