Hikayat Kosmos

cosmos

Tahukah kau? Aku dan kamu, kita dan mereka, kami dan kalian, semuanya adalah sama. Aku dengan kucing yang tidur di situ maupun kamu dengan bunga yang mekar di sana, semuanya adalah sama. Bahkan kita semua yang menyebut diri sebagai “ hidup” sesungguhnya sama dengan besi dan batu di sana yang kita sebut sebagai “yang mati”. Ya, kita semua sama, kenapa?

Lebih dari milyaran juta tahun yang lalu, di saat bahkan waktu pun belum dimulai, kita semua adalah partikel yang dipadatkan di satu titik. Kemudian Tuhan Yang Maha Berkuasa mengucapkan titah-Nya. Kun Fayakun konon titah itu, maka titik di mana kita dipadatkan meledak dalam eksplosi gigantis. Menyebar ke segala penjuru dalam pecahan-pecahan partikel raksasa maupun mikroskopik. Itu lah butir-butir bintang semesta. Kemudian daripada butir-butir itu terbentuklah matahari yang berpijar, planet-planet, komet, puing-puing meteor dan sebagainya.

Di dalam planet itu terbentuklah gunung dan batu dan air dan ikan dan tumbuhan dan kucing dan orang. Di antara orang-orang itu lahirlah tukang becak, dan presiden, dan pedagang, dan polisi, dan kuli, dan penambang minyak, dan sutradara.

Dari orang-orang itu lahirlah kalian, dan kami, dan mereka, dan kita, dan aku dan kamu.

Bagaimanapun bentuk kita sekarang, apapun orang menamai kita beserta embel-embel yang menyertai kita, (entah itu suku ya agama ya warna kulit ya kebangsaan) tetap saja kita sama. Kita tetaplah sama dan persis sama, adalah sesama partikel bintang di semesta yang dulu pernah bersatu dalam satu titik padat. Kemudian titah Tuhan memisahkan kita, lalu kita melayang-layang di angkasa membentuk kosmos yang terpadu.

Apa arti cerita itu semua?

Hal yang menggelitik adalah, ya bayangkan saja, milyaran juta tahun yang lalu kita begitu serupa, aku dan kamu, sesama debu kosmik. Bahkan kita menyatu begitu padat beserta partikel kosmos lainnya. Satu dan padat. Saat kita berpisah dalam ledakan, mungkin kita sempat melayang-layang bersama sebagai debu kosmik di angkasa. Kita lalu bekerjasama dengan debu-debu lainnya, membentuk sebuah planet yang dekat dengan matahari. Lalu kita terpisah lagi, membaur dengan jutaan debu kosmik lainnya, bahkan tubuh kita tidak utuh lagi, berpencar kemana-mana. Jadi tanah, jadi batu, jadi air.

Entah siapa yang memulai, ada di antara kita yang mulai bermutasi menjadi makhluk hidup. Atas fusi tanah dan air serta reaksi energi, hidup mulai menentukan jalannya. Kita terpisah tapi bernasib sama. Tubuh kita berpisah dimana-mana, tapi bersiklus dengan sama.

Hingga pada suatu rentang masa, tangan Tuhan bergerak dengan keajaiban-Nya menggerakan partikel kita. Partikelku yang berupa tanah menyuburkan padi, berasnya yang berubah jadi nasi dimakan leluhur ayahku, bersatu dengan siklus keluarga mereka. Partikelku yang lain yang berupa air tergenang di sumur, diminum oleh leluhur ibuku, menyatu dalam darah keluarga mereka. Begitu terus dimana milyaran partikelku yang tersebar di penjuru bumi dikumpulkan untuk menyatu dalam garis keturunan keluargaku.

Cerita yang sama tentu berlaku bagi dirimu.

Akhirnya sampai pada dua buah hari yang berbeda, dimana partikel kita dikumpulkan lengkap oleh Tuhan, disatukan sempurna di dalam rahim manusia, kita kemudian dilahirkan sebagai dua insan di hari yang berbeda.

Akhirnya bentuk kita sempurna lagi, namun dalam rupa yang berbeda, kita mengambil rupa manusia, makhluk paling utuh dan sempurna.

Tahun-tahun berjalan, kaki kita berjalan, pikiran kita bekerja, kita makan, kita tumbuh.

Lagi-lagi tangan Tuhan menunjukan keajaiban-Nya, hidup kita berjalan menuju tempat yang sama. Dalam dua puluh tahun yang bergulir, kita ternyata bertemu di tempat ini. Setelah milyaran juta tahun, akhirnya, fantastis.

Entah atas dasar apa klaim ini, tapi aku rasa secara fisika hukum ini benar. Bagaimanapun bentuk kita berbeda, warna kita berbeda, dan segalanya berbeda, ingatkah kau wahai kawan lama? Bahwa dulu kita adalah sesama debu kosmik yang beterbangan di langit kosmos. Ya, kamu, tanyakan saja pada kulit yang menyelimuti tubuhmu, atau daging yang menempel di tulangmu, atau tulang yang membentuk rupamu, apakah mereka semua dulu adalah butiran debu kosmik bintang yang pernah berkelana di lautan semesta.

Apapun itu, bagaimanapun kau mau memaknai pikiran anak kecil ini.

Aku cukup beruntung bisa bertemu lagi denganmu setelah milyaran tahun.

Kosmos memang misteri yang cukup aneh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s