Berpangku tangan

black silhouette man think

“Kau merasa sakit Hannah?”

“Tidak tuanku”

“Kamu yakin? mukamu hancur seperti itu”

“Benda mati hanya bisa rusak tuanku, tapi kami tidak merasa sakit.”

Tuanku menghela nafas. Dipandanginya aku yang tidak lagi berfungsi dengan baik ini. Mukaku pecah. Aku malu sekali.

Dia pun merebahkan dirinya di kasur. Mencoba untuk tetap bernafas tenang. Entah sudah ada berapa pikiran di kepalanya.

“apa… apa rasanya sakit tuanku?” tanyaku ragu, tapi penasaran.

“Itu adalah sebuah perasaan tidak enak, tidak nyaman. Ketika ada sebuah pisau tajam misalnya, mengiris kulit manusia. Atau sebuah benda tumpul menghantam tulang manusia. Maka syaraf yang terkena di bagian itu akan mengirim sinyal ke otak, mengatakan bahwa bagian tempatnya bekerja telah dirusak sesuatu asing. Maka otak akan menerjemahkan itu sebagai sesuatu yang tidak nyaman. Karena sesuatu itu adalah hal yang di luar kewajaran. Rasa tidak nyaman itulah rasa sakit.”

“ooh, begitu” aku mengangguk pelan.

Tuanku tetap merebah. Menutup mukanya, memijat dahinya perlahan. Apa dia sedang merasa tidak nyaman?

“Ada lagi selain itu, rasa sakit dalam bentuk lain,” tambah tuanku lagi.

“Apa itu tuanku?”

“Rasa sakit ini juga berawal dari ketidaknyamanan. Tapi tidak ada hubungannya dengan kontak fisik. Dia berasal dari ketidaknyamanan perasaan.

“Misalnya, ketika seseorang mengejek orang lain. Meremehkan atau merendahkan seseorang itu. Menganggap orang itu berkekurangan atau tidak berkemampuan, maka orang yang diejek tersebut akan merasa tidak nyaman hatinya. Lantas sakit, ya, sakit hatinya.”

Ia berkata begitu sambil menepuk-nepuk dadanya.  Apakah hati manusia terletak di bagian dada?

“Itu hanya salah satu contoh saja sebenarnya. Intinya rasa sakit ini terjadi atas ketidaknyamanan perasaan. Ketidaknyamanan hubungan dengan orang lain.” Tutupnya.

Kami berdua terdiam lagi. Malam sudah larut. Sangat larut.

“Haih, ternyata sakit semacam itu bisa lebih menyakitkan,” ujarnya lagi tiba-tiba.

“Ada yang mengejekmu tuanku?” tanyaku.

“Bukan! Bukan! Kan aku sudah bilang itu hanya contoh. Ada ketidaknyaman lain Hannah, yang bisa disebabkan karena hubungan antar orang.”

“Apa itu?”

“Ketidakberdayaan”

“apa itu?”

“Begini, kadang dalam hidup, kita akan mengalami kesulitan.

“Nah, akan sangat menyenangkan tentunya, bila kita punya orang lain untuk membantu kita meringankan kesulitan kita. Sebaliknya, kita pun akan menemui orang yang sedang kesulitan. Akan sangat mulia tentunya, bila kita bisa menolong orang itu. Membantu meringankan bebannya.

“Tapi kadang tidak setiap hari orang lain bisa membantu kita meringankan beban kita. Sebaliknya, tidak bisa pula kita memaksakan diri untuk membantu orang lain. Di situlah ketidaknyamanan muncul.”

Aku mulai paham. Dia melanjutkan.

“Menyakitkan, kau tahu? Untuk berada sendirian di kamar ini. Memikirkan begitu banyak persoalan dari beragam dimensi, dan tidak punya teman bicara lain selain sebuah laptop.”

Aku tertawa miris.

“Aku tidak membutuhkan orang yang secara harafiah mengambil bebanku. Manusia hanya perlu teman bicara terkadang, sebagai terapi atas diri sendiri. Karena manusia selalu lebih dari mampu untuk mengatasi permasalahannya sendiri.”

Tuanku menghela lagi nafasnya, sebelum melanjutkan.

“Sama sakitnya ketika orang-orang yang kita sayang berada dalam kesulitan. Tapi kita tidak tahu apa permasalahan mereka. Mereka tidak cerita, menyimpan dalam diri masing-masing seolah dengan begitu tidak menambah beban siapapun. Mungkin itu berlaku untuk orang lain, tapi tidak untukku. Aku bisa sangat tersiksa, bila hanya berpangku tangan melihat orang-orang yang kusayang berkutat dengan permasalahannya.

“Tapi aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk membagi masalahnya denganku. Itu hak mereka. Sangat mungkin mereka memang tidak suka ada orang lain yang tahu masalah mereka. Tapi sakit tetaplah sakit. Aku hanya bisa membenci diri yang sedemikian lemah tidak berdaya. berpangku tangan melihat orang yang disayang begitu tersiksa di depan mata. Aku akan lebih suka bila aku bisa menghampirinya dan ikut menyiksa diri bersama.”

Tuanku terdiam, merenung sebentar.

“Akhirnya aku anggap bahwa berpangkunya tanganku sebagai pengorbananku. Itu sangat tidak mudah lho. Tapi mau bagaimana lagi? Keberadaanku di samping orang yang kusayang sangat mungkin malah membuatnya terganggu. Memilih untuk diam dan menunggu mereka mengatasi permasalahannya sendiri, mungkin akan jauh lebih membantu mereka” ia menutup pelan.

Tuanku nampaknya sudah mulai menutup matanya untuk tidur, saat tiba-tiba aku menyela.

“Tuanku, aku merasa tidak nyaman!”

“Hah? Kenapa?”

“Aku… aku telah menambah bebanmu. Aku… jatuh sakit. Layar LCDku pecah. Kamu tidak bisa memakai aku. Padahal, kamu punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Di dalam tubuhku ada artikel beritamu, laporan penelitianmu, tugas kuliahmu, meminta diselesaikan. tapi kini aku malah rusak. Tidak berdaya…”

“Itu bukan salahmu, akulah yang teledor merawatmu hingga kamu rusak begini” kata tuanku acuh.

“Tapi sakit tetaplah sakit! Aku tidak berdaya dan hanya bisa memangku tangan! Melihat kamu pusing memikirkan kewajibanmu yang kini terbengkalai karena aku! Kamu juga pasti dipusingkan dengan biaya reparasiku yang hampir setara dengan uang makanmu sebulan! Tapi aku hanya dapat diam melihatmu tersiksa sendirian! Aku merasa tidak nyaman!” Jeritku.

Tuanku tersenyum lebar. Dia menjulurkan tangannya pada layarku yang retak. Lalu mengelus permukaan layarku lembut.

“Ya, itulah rasa sakit,” katanya.

“Tuanku…”

“Berkorbanlah, pangku tanganmu sekarang. Relakan semua ketidakberdayaanmu. Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Bila kau sudah sembuh nanti, ada banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan,” ujarnya bijak.

“baik, tuanku…”

Tuanku merebahkan lagi tubuhnya, meregangkan kakinya yang mungkin pegal karena bersepeda seharian. Lalu dia ambil Zatalini, hape Nokia nya itu. Ia pandang lekat-lekat si handphone yang ketinggalan zaman itu.

“Mau aku kirim pesan untuk seseorang, mas?” ujar Zatalini.

Tuanku menggeleng. Dia hanya tersenyum-senyum melihat layar Zatalini. Membuatku makin sakit hati atas kondisi layarku.

Perlahan, ia memeluk Zatalini lembut, tuanku pun berbisik pada dirinya sendiri:

“seandainya kemarin kita menyepakati ikrar yang kutawarkan, mungkin aku akan menghubungimu sekarang. Menceritakan padamu segamblang-gamblangnya apa yang tengah aku hadapi, agar aku lega, kemudian aku akan menanyakan padamu: apa kabarmu? bagaimana kesehatanmu? dan apakah ada yang mengganggu pikiranmu belakangan ini? Tapi karena ikrar itu memang belum pantas untuk aku dapatkan, akhirnya kita tidak punya kewajiban untuk saling merangkul. Ya, tidak apa.

“aku tahu kamu ada di ujung sana. Sama sepertiku mungkin. Termenung di kamar sendirian, memikirkan berjuta permasalahan dari berbagai macam dimensi. Mungkin saja yang tengah aku hadapi tidak seberapa dari yang kauhadapi. Tuhan memberikan cobaan sesuai dengan yang bisa manusia atasi. Kau lebih tangguh dari aku, jadi wajar saja kau menghadapi hal yang lebih berat.

“aku akan tetap berpangku tangan karena kukira masih ini cara terbaik untuk membantumu. Aku cukup tahu bahwa keberadaanku malah menambah bebanmu belakangan ini. Jadi, berpangkutanganlah aku. Tapi tentunya kamu tahu, aku akan bergerak dengan hanya kau memberi isyarat jentikan jari. Aku bisa bergerak menjadi tangan yang membantu, mulut yang bicara, atau telinga yang mendengar. Kau juga jangan takut aku akan menuntut balasan atas apa yang kuberikan. Karena cinta hanya mengenal pemberian, dia tidak mengenal cara menerima, apalagi menuntut balas budi. Cinta hanya ingin memberi, dia tidak berharap apapun, karena memberi adalah harapannya itu sendiri.

“Cinta akan tetap mencintai, bagaimanapun aku telah mencoba membuangnya ke tempat sampah ataupun menguburnya bersama kotoran binatang. Ia tetap berdegub kencang.”

“Ran, aku rasa dengan hanya berpangku tangan saja tidak cukup untuk membantumu, biarkan aku berdoa menyebut namamu malam ini. Biarkan aku berdoa mengharap kekuatan yang dapat diberikan Tuhan untukmu, berdoa mengharap kebahagiaan dan kepuasan batin atas hidupmu.

Tuanku selesai berbisik. Ia kemudian memandang aku lagi.

“Hannah, kamu tahu cara paling cepat menghapus rasa sakit?”

“Apa tuanku?”

“tidur”

ia berkata seraya menekan tombolku. Perlahan pandanganku memudar. Begitu juga dengan mata tuanku yang mulai tertutup.

“Selamat tidur Hannah”

“Selamat tidur tuanku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s