Pembicaraan Invalid

young man silhouette sitting computing laptop

Langit sudah mulai gelap ketika tuanku dengan amat bersemangat menuliskan sebuah surat. Meski bukan yang pertama kali, tapi tidak setiap hari aku melihat tuanku semangat semacam itu. Dia tuliskan kata-kata yang sangat indah itu, dirangkainya satu-per-satu, huruf per huruf, kata per kata, menjadi kalimat, menjadi paragraf. Ia gerayangi tubuhku untuk menuliskan itu, bahkan terkadang ia gerayangi aku dengan kasar. Menekan-nekan tubuhku dengan keras dan memandangi mukaku dengan garang. Tapi aku tahu, sudah kewajibanku untuk melayaninya.

Tidak lama ia pun selesai menulis. Ia geser tubuhnya dan menyeret tubuhku ke sebuah sudut di kamar ini. Alasannya jelas, agar aku dapat menangkap sinyal wifi restoran di sebelah. Mulailah tuanku berselancar di dunia maya. Membuka sebuah sosial media terutama. Tuanku menemukan sebuah nama di sebuah kolom, dan kemudian dengan amat canggih bisa memulai pembicaraan dengan seseorang di ujung sana. Dasar perangkat lunak, aku tetap tidak paham bagaimana kerjanya. Keren sekali.

Aah, inilah yang paling aku suka. Ketika tuanku berbicara dengan orang itu, mukanya cerah berbahagia sekali. Rona mukanya berwarna merah, segar dan hidup. Sama halnya ketika aku merasa segar ketika kabel charger terhubung pada tubuhku. Rasanya segar sekali.

Tuanku membuka-buka beberapa situs lainnya, yang sudah hampir selalu ia buka. Sosial media, Portal beberapa berita, kedua blognya, open blog humor, dan lain-lain. Ia tersenyum maklum ketika kesulitan membuka sebuah situs. Kursor ia gerakan dengan lincah untuk berselancar ke beberapa tempat lainnya.

“Hannah, aku mau mandi dulu, jangan dicuri orang ya,” katanya.

“Tuanku, bagaimana mungkin aku tidak dicuri orang bila kamarmu kau buka lebar?”

Tuanku tidak menjawab. Ia mengambil handuk dan pergi mandi.

Hujan deras mulai turun ketika tuanku selesai mandi. Namun tuanku tetap berkemas. Ia memasukan aku ke dalam tasnya, membawa barang-barang lainnya dan pergi.

Aku tidak berada terlalu lama dalam tas itu, aku segera dikeluarkan dan dinyalakan kembali di tempat lain. Aku melihat tempat tuanku berada kini, ini adalah kamar kosan teman kuliahnya yang terletak hanya satu lantai dari kamarnya.

“Gimana ham? Gimana ham? Udah dapet semua?” ujar temannya.

“Iya udah, gampang kok. Mana yang wajib dan yang sunnah,” jawab tuanku.

Ada seorang lagi di kamar itu, seorang adik kelas dari tuanku.

Aplikasi Word dibuka di tubuhku, memperlihatkan jadwal mata kuliah semester ganjil.

“Mas Ham, jelasin dong mata kuliah buat semester depan” tanya adik kelas itu.

Mulailah mereka bertiga mendiskusikan satu per satu mata kuliah yang ada.

“Nampaknya yang wajib cukup gampang. Mungkin lu cukup jelasin deskripsi yang pilihan kali ya ham?” kata teman tuanku.

“Yup”

“Siap dong presentasi besok?”

“siap-siap aja”

Hujan mulai mereda dan berubah menjadi rintik-rintik. Aku dikemasnya lagi dalam tas, sesaat sebelum tuanku beranjak, aku sempat mendengar ia berkata pada temannya.

“Man, pinjem jas hujan dong”

“Yo, nih”

Setelah itu aku tertidur lama sekali. Aku tidak ingat apa-apa. Yang aku tahu, tuanku kini sedang menemui pujaan hatinya. Aku dimatikan di dalam tasnya, diam-diam aku hanya bisa berdoa.

Saat aku terbangun, aku sudah berada di kamar tuanku lagi. Mukanya puas, tapi terlihat sangat lelah. Aku tidak pernah melihat dia selemas itu sebelumnya.

Dibukanya lagi aku. Dengan sisa tenaganya yang masih ada, ia hanya sanggup menulis:

“Malam sudah tertidur ketika aku menuliskan ini” tulisan itu berhenti.

Lalu kemudian ia berbaring dan diam, beberapa kali ia mengambil Zatalini, handphone Nokia miliknya. Ya, hape pemberian adiknya itu ia namakan dengan nama adiknya sendiri.

Ia ambil hape itu, otak-atik, tutup, ambil, otak-atik, tutup. Seolah menunggu sesuatu. Hampir satu jam ia begitu. Sampai akhirnya ia membukanya lagi, matanya melotot tegang, tapi kemudian ia terbaring lagi. Lengannya menutupi matanya. Kelihatan sangat lelah dan kecewa sekali.

Dia berada dalam posisi itu dalam waktu yang cukup lama. Hei, terlalu lama pula. Dia tidak tidur, tapi juga tidak bergerak bahkan seinci pun. Aku diletakkan di kakinya, hanya bisa menontonnya selama satu jam berikutnya.

“ada masalah tuanku?” tanyaku ragu.

“tidak apa Hannah, aku cuman capek,” jawabnya.

“Apakah karena teman perempuanmu itu?”

“Jelas bukan. Ya kamu pikir saja. Sudah sebulan aku tidak tidur normal. Sebulan aku menggawangi kewajibanku. baru hari ini aku pulang dari rapat. Menurutmu aku harus segar bugar?” katanya ketus.

“Maaf tuanku.”

“Tidak apa Hannah. Temani aku malam ini ya?”

“Selalu tuanku”

“Aku tidak paham Hannah, aku selama ini tidak sanggup menjadi subjek pemikiran dia. Bagaimanapun aku berusaha membuat waktu-waktu kami bersama, menjadi berkualitas. Bagaimanapun aku mencoba mengajaknya bicara akan segala hal, dari mulai yang ringan, hingga mendalam. Tetap bukan aku yang ia pikirkan”

“tapi tadi malam?”

“hanya tadi malam”

“kemarin-kemarin?”

“hanya karena aku mengatakan sesuatu yang dramatis”

“Oh” aku manggut-manggut. Dia melanjutkan ceritanya.

“Bodoh sekali aku tadi, merengek menunda kepulangannya. Seperti anak kecil. Akhirnya dia hanya dapat pasrah melayani kekanak-kanakanku.”

“kamu sudah cukup bersabar selama setahun ini tuanku. Menurutmu, wajarkah bila sekali saja kau meminta waktu lebih dari dirinya, meski dengan merengek?”

“Tidak wajar, itu akan membuatku terlihat lemah sebagai pria”

“Tapi bukankah manusia memang lemah?”

“Manusia memang lemah, tapi tidak untuk pria yang sedang membuktikan dirinya pantas”

“kau sangat naif ya, tuanku?”

“memang”

Tuanku kembali terdiam, cukup lama kali ini. Sebelum dia melanjutkan lagi.

“Hampir semua yang aku lakukan, kulakukan untuk membuatnya bangga. Aku kuliah dengan mengingat wajahnya, aku bekerja dengan mengingat senyumnya, aku berkarya dengan mengingat suaranya.”

“Lalu? Segala pencapaianmu itu? Nilai-nilaimu yang bagus, karirmu yang gemilang, dan karyamu yang keren itu, tidak ada yang membuatnya bangga?”

“Bukan begitu, tapi nyatanya akan selalu ada langit diatas langit. Bagaimanapun aku berusaha, akan ada orang yang menurutnya lebih cerdas. Akan ada orang yang lebih ia kagumi kerja kerasnya, dan orang yang karyanya ia pandang lebih baik”

Ia tertawa, kami berdua tertawa.

“Tuanku, kamu tahu kenapa aku merasa begitu istimewa?”

“kenapa?”

“begini, aku hanyalah notebook, sama seperti ratusan juta notebook lainnya. Merek produkku Asus, sama seperti jutaan Asus lainnya. Spesifikasiku standar, Dual Core CPU, 12.1 HD LED Blacklight. 8 hr battery life, dan lain-lain. Kau belum pernah memodifikasi aku. Artinya, aku persis sama dengan semua notebook yang baru dibeli di pasar. Lantas apa istimewanya aku?

“Ya, gampang saja, aku istimewa karena aku adalah Hannah. Laptop yang kau namakan dari nama seorang SPG penjual kaset game dua tahun yang lalu. Aku adalah Hannah yang selalu menemanimu kemanapun kamu pergi, di dalam tasmu, di kuliah, di tempat kerja, di kosan, di perpustakaan. Aku adalah Hannah yang selalu menunjang tugas kuliahmu, mengerjakan pekerjaanmu di dua organisasi, menulis karya-karya sastramu, dan bahkan menghiburmu dengan puluhan games dan film kapanpun kamu butuh refreshing. Kamu tidak bisa menyamaiku dengan notebook lain. Persetan ada berapa notebook di dunia ini atau secanggih apapun spesifikasi mereka, aku tetap lebih istimewa dari mereka semua. Karena aku adalah aku, sebuah Hannah milikmu

“Nah, begitu juga dengan dirimu, kenapa kau harus sakit hati melihat ia mengagumi kecerdasan orang lain? Kenapa bila ia mengagumi kerja keras orang lain? Apalagi bila ia sedang mengagumi karya orang lain? Kenapa peduli? Kau tetaplah kau, bagaimanapun kondisi orang lain, tetap hanya kau yang mencintai dia. Tetap hanya kau yang menyayangi dia dan menyebut namanya dalam tiap doa. Tetap hanya kau yang diam mengawasinya dari jauh, namun akan muncul kapanpun dia butuh. Kau tetap istimewa dan kau harus mengakui itu tuanku!”

“menarik”

“jadi mungkin yang harus kau tunjukan bukan lagi prestasimu entah di bidang apa itu, tapi ketulusan hatimu, yang tidak dimiliki orang lain. Bukan begitu?”

Tuanku menghembuskan nafas, dia bersandar pada tembok di sebelah kasurnya. Tersenyum manis memandang matahari fajar yang mengintip dari jendela.

“Berbangga hatilah tuanku, sekali saja. Kau bukan orang yang seburuk itu. Kata-kata bijakmu pernah membimbing orang yang tersesat, ceramah Mario teguhmu banyak membuat orang terinspirasi, dan yang paling penting adalah pundakmu. Pundak yang sering menjadi landasan bagi muka yang menangis, harusnya kau bangga menjadi orang yang dapat dipercaya.”

Tuanku hanya tersenyum hambar.

“Ayolah tuanku, bila kau tetap melow dan lemah begini, kau malah membuktikan apa yang ia takutkan. Ia takut membuatmu tersakiti, dan kini kau telah banyak tersakiti dan melemah”

“tapi seperti katamu, bukankah manusia itu memang lemah?”

“tapi seperti katamu juga, bukankah semua manusia itu lemah kecuali pria yang ingin membuktikan dirinya pantas?”

Kami berdua tertawa.

“Aku tidak merasa sakit ataupun lemah kok, sekarang aku sedang berpikir tentang presentasi yang harus aku berikan di kelas adik angkatanku, kau tahu kan? Sosialisasi KRS”

“Bagus! Ayolah mari kita mulai membuat presentasi yang bagus!”

“ngomong-ngomong, Kau pintar juga ya, untuk sebuah perangkat keras”

“ahahaha, tidak tuanku, sebenarnya omongan kita ini adalah dialog imajiner di dalam pikiranmu. Apa yang aku katakan sebenarnya merupakan pemikiranmu sendiri. Kau hanya menggunakanku sebagai topeng dalam dial…”

“ya ya, aku paham Hannah, aku yang menuliskan ini, bukan kamu. Dasar perangkat keras berspesifikasi rendah!”

Kami tertawa lagi.

Dasar majikanku yang aneh. Kadang aku tidak paham siapa yang lebih bodoh: manusia yang jatuh cinta atau manusia yang berbicara dengan laptopnya sendiri.

Teruntuk seseorang yang begitu disayangi oleh tuanku, nampaknya tuanku begitu memujamu. Sebuah folder yang terletak di Dokumen dataku membuktikan hal itu. Dia akan tetap menunggumu, bagaimanapun kau menolaknya. Siapa tahu kau berubah pikiran.

“Hey Hannah, kalau semisalnya aku mengirim tulisan ini ke dia, apa aku akan terlihat sebagai anak laki-laki cengeng dan bukan pria yang pantas?”

“kau sangat naif ya, tuanku?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s