Hectic

hectic office

cuplikan adegan beberapa malam terakhir:

rumah itu menjadi sangat ramai beberapa malam terakhir. beberapa kortim sedang melakukan editing, beberapa baru saja selesai. salah seorang yang sudah selesai itu berceletuk:

“mas, ada aksi renungan di bunderan. sayang gak diliput”

“ya, liput sekarang!”

“oke mas, eman-eman kalo enggak diliput”

“udah ada editor?”

“belum”

“aku yang ngedit. gih sana”

sementara itu aku tetap di sini, mengawasi pekerjaan mereka yang belum selesai.

meanwhile…

“yang GMCO beritanya mana ya zah?” tanya pimpinan.

“kayaknya belum selesai”

“hey, itu pake tiket lho. suruh beresin dulu!”

“roger”

“tang, kamu tinggalin aja dulu. kerjain yang GMCO dulu sekarang.”

“hah, serius mas hamzah?”

“iya, gakpapa gih, mana temen nulismu?”

“belom bales smsku -_-”

in the mean time

“Jadi intinya bikin judul bagus itu, harus bla bla bla”  kataku sok tahu

“oh gitu ya mas? waduh aku jadi penasaran. itu yakin gakpapa judulnya itu?” kata si penulis militan

“ya gpp, karena temanya reformasi, udah cukup catchy kok. gih sana katanya ada acara. nanti biar aku yg ngirim tulisan ini ke email balpres”

kuhitung-hitung lagi di portal berita, dia telah membuat dua tulisan. padahal bukan gilirannya untuk mengisi portal itu bulan ini. aku tersenyum bangga.

di waktu yang lain…

“aduh mas bisa ngedit gak? mbak bisa ngedit gak?”

tidak ada jawaban

“Lintang! sini kamu butuh bantuan apa?” seruku dari jauh.

“Gak ada yang bisa ngediiiiit”

“Ratna, sini aku mau ngomong sesuatu” kataku seraya menarik seorang teman. Kumasukkan dia ke dalam kamar tertutup.

“Kamu malam ini ada acara?” tanyaku

“tidak”

“besok ada acara?”

“tidak”

“bisa ngedit Lintang?”

“YA!” serunya yakin. seolah ingin menebus hutang masa lalu.

“mas, gakusah diem-diem masuk kamar, dari sini kedengeran,” ujar Lintang.

di tempat lain

“Haduh zah, aku tuh bla bla bla, dia tuh bla bla bla”

“ya ya, sabar, coba kamu ajak komunikasi lagi baik-baik. kerjakan pelan-pelan. Santai aja. gakusah khawatir”

“haduuh”

“Santai santai” kuberi dua tepukan di pundak

sementara itu

“hoy! Adriansyaaah!”

tos dilakukan

“ngerjain komunitas ya?”

“iya mas”

“sip sip! kamu jurusan apa sih?”

“filsafat”

selanjutnya kami bercanda dengan humor Plato.

di lain kesempatan

“Reksa, makasih ya udah mau”

“ya, santai aja kok”

“hehe”

“kamu punya email UGM? aku mau internetan”

lalu…

“lewat email atau aku kasih langsung za?”

“kasih langsung aku aja”

“ini”

“ohya, aku ngirim tulisannya Ganesh ke email balpres. di publish ya”

“visualnya?”

“kemaren gak ada yg bisa motret. pake istimewa aja”

“temanya?”

“refomasi”

kemudian…

“Halo zah”

“Halo nis”

“gimana etnografimu malem ini?” tanyaku

“udah diatur, aku gakusah nginep di sana”

“aku… maaf ya. aku juga gak punya pilihan lain”

“iya gakpapa, santai aja”

“semua penulismu ada di sini, gih mulai edit”

untuk pertama kalinya aku melihat rekan kerjaku itu nginap di rumah ini. padahal pada malam biasa saja dia harusnya tidak bisa. tapi ini? dia juga tidak bisa karena ada tugas penelitian lapangan. tapi toh dia di sini. sangat bertanggungjawab.

tidak lama…

“Ded, kamu nulis apa harusnya bulan ini?”

“nulis balpres mas, sosok”

“udah jalan?”

“baru mau turun lapangan”

“heh?”

“iya mas, jadi kemaren bla bla bla, tapi gak jadi, jadinya bla bla bla”

“Lintang mungkin gak bisa nemenin kamu. aku aja yg nemenin kamu”

“serius mas?”

“ya serius. ayo buka internet. ada sosok yang bagus, namanya mas Agung. profesor termuda UGM”

akhirnya…

“Ratna”

“hai, halo zah”

“GMCO udah beres?”

“udah”

“udah dikirim emali?”

“udah, tapi tadi malem. mungkin Ipin juga masih tidur.”

“ya, aku lagi awasin di balpres”

“aku duluan ya zah”

“ya”

perlahan aku melihat kakakku itu pergi. pimpinanku itu terlihat segar dan sehat. aku tersenyum bangga untuk kami berdua. tiap hari, tiap malam, kami di sini. menggawangi rumah ini. melaksanakan kewajiban kami sebagai kreatif, sebagai staf redaksi, dan sebagai editor. Kami berdua pernah mengalami tiga tugas itu sekaligus. Ketika Balkon sedang berproses, ketika majalah harus kami tulis, dan ketika kami harus mengedit juga. Tentunya, hanya orang yang pernah melihat proses, yang akan bisa mengapresiasi kami.

Dalam kelelahan yang amat sangat dan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, aku harus menghadiri rapat, satu jam lagi di saat aku menulis ini.

Benar kata seorang pembicara di suatu seminar, menulis adalah terapi. Aku merasa labih baik sekarang.

harusnya militansi kami bisa dinyanyikan oleh orang-orang ratusan tahun ke depan. hahaha.

3 thoughts on “Hectic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s