Sang Veteran

nq4DpUi

Bukan pertama kalinya aku berkunjung ke tempat ini, sebuah bangunan tua renta di tengah kota yang lumayan bersejarah. Masih kuingat saat pertama kali ke sini dua tahun yang lalu. Saat itu guru SMA menugaskanku untuk mengunjungi sebuah situs kota dan membuat ulasan tentangnya. Jadilah aku mengunjungi Museum Perdjoangan Bogor, sebuah sudut kecil di kota ini yang mengumpulkan bukti bahwa dulu kota ini punya sejarah berjuang melawan penjajah.

Aku harus membayar tiket dua ribu rupiah untuk mengunjungi tempat itu, teramat murah ketimbang konsumsiku sebagai anak metropolitan. Teramat murah untuk retribusi perawatan sebuah situs bersejarah.

Mengetahui bahwa aku pelajar muda yang sedang membuat tugas tentang tempat ini, seorang penjaga museum menawarkan diri untuk memanduku. Beliau adalah seorang bapak tua yang energik. Badannya sudah bungkuk, ada tonjolan aneh di punggungnya, seperti Hunchback of the Notre Dame. Apa mungkin beliau adalah seorang veteran prajurit?

Sambil mulai berjalan dia menjelaskan padaku bahwa museum ini sempat berganti-ganti fungsi. Dulunya adalah rumah peristirahatan orang Belanda. Saat Jepang masuk, tempat ini dijadikan kantor pemerintah, begitu juga pasca kemerdekaan. Lambat laun bangunan ini diresmikan sebagai museum untuk mengumpulkan artefak bersejarah.

Satu per satu bapak itu menunjukan koleksi-koleksi museum yang dipajang. Berbagai macam senapan digantung di dalam kotak-kotak kaca, dari mulai senapan rampasan dari tentara jepang, senapan selundupan dari Australia, hingga pistol buatan petani. Semuanya digunakan oleh pejuang kemerdekaan.

“Lihat nih dek, ini pistol kayu sederhana yang dibuat petani-petani. Bener-bener dari kayu, tinggal dikasih bubuk mesiu, isi pakai peluru kecil, langsung dor! Usir penjajah!” ujarnya bersemangat seraya menunjukan sebuah pistol kayu kecil yang nampak seperti mainan. Aku hanya manggut-manggut.

Bapak itu kemudian menunjukan sebuah diorama yang cukup menarik di dalam salah satu kotak kaca. Diorama dari bahan lilin tersebut memperlihatkan sebuah lokasi persawahan, nampak puluhan pejuang kemerdekaan berpakaian petani bersorak senang mengangkat senjata. Mereka mengepung sekelompok prajurit musuh yang mengangkat tangan mereka.  “Ini ilustrasi pertempuran di salah satu desa di Bogor. Inggris dulu bersama NICA mengerahkan ‘Gurkha’, tentara bayaran dari Pakistan untuk ikut menyerang Republik Indonesia,” ceritanya. “Gurkha ini adalah ras unggul Timur Tengah yang sangat tangguh bertempur. Tapi alhamdullilah akhirnya mereka bisa dikalahkan oleh pejuang Indonesia!” serunya bangga.

Aku tertarik dengan beberapa pajangan koran-koran zaman itu. Koran yang sudah lusuh, dipajang dan dilindungi di dalam meja kaca. Nampak salah satu surat kabar memampang headline yang cukup mengerikan:

Djam malam moelai berlakoe! Barang siapa jang ada di loear roemah saat djam malam bisa ditembak!

Bisa kubayangkan betapa gentingnya masa-masa itu. Baik militer Belanda maupun militan RI sama-sama memperebutkan tiap jengkal tanah di Indonesia. Keduanya memberlakukan jam malam, siapapun yang berkeliaran di luar rumah sudah pasti dianggap mata-mata musuh. Pilihannya hanya membunuh, atau dibunuh.

“Nah dek, ini adalah seragam Kapten Muslihat,” ujar Bapak itu seraya menunjukan seperangkat pakaian yang juga dipajang di kotak kaca. Pakaian itu terdiri dari baju dan celana lapangan, lengkap dengan ikat pinggang, kantong pistol, pisau, dan alat-alat lainnya. “Kapten Muslihat adalah seorang pemimpin perjuangan di Kota Bogor, dia diangkat menjadi Kapten dalam usia sembilan belas tahun,” ungkap sang Bapak. Tidak bisa kubayangkan seseorang yang tidak berbeda jauh umurnya denganku, mengangkat senjata dan berhadapan dengan maut. Tidak hanya sang kapten, ternyata banyak nama-nama pejuang kemerdekaan yang bahkan belum cukup umur untuk lulus SMA, sudah harus bermain dengan kematian.

“Lihat bercak yang agak keruh di bagian dada baju Kapten Muslihat? Juga di bagian celananya? Itu bercak darah saat Kapten Muslihat tertembak dalam pertempuran,” cerita Bapak itu lagi. Beliau kemudian beranjak menunjukan sebuah diorama lain. Diorama itu menunjukan sebuah lokasi pos polisi Belanda, nampak beberapa pejuang Indonesia sedang beradu tembak dengan tentara Belanda di depan Pos tersebut. “Kapten Muslihat memimpin serangan ke sebuah Pos Polisi Belanda, dalam adu tembak itu kapten gugur, Insya Allah sebagai syuhada,” ujarnya.

Aku terkesima melihat ukiran timbul di salah satu tembok museum. Ukiran itu melukiskan gambaran pahlawan-pahlawan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan. Nampak militan-militan Indonesia berbaris memanggul senapan, ada pula yang membawa bambu runcing dengan bendera merah putih berkibar di ujungnya. Ada gambar tank-tank dan truk militer berlalu-lalang di jalanan. Ibu-ibu pribumi yang sedang menyusui anaknya harus merelakan sang suami pergi berperang. Terakhir, sebuah adegan pengibaran bendera merah putih digambarkan dramatis oleh ukiran itu, dihadiri oleh prajurit, petani, dan anak-anak. Mata mereka berbinar-binar menyambut kemerdekaan di depan mata.

“Ya, ini hanya ilustrasi saja dek, cuma gambar,” ujar Bapak itu ketika melihatku yang terkesima. “Tidak akan sehebat aslinya.”

Dua tahun sejak kedatangan terakhirku, aku kembali ke museum itu. Duduk bersama bapak pemandu yang sama, di sebuah ruang tamu museum bersama dengan dua orang temannya, menikmati kopi sore yang cukup kental. Mereka bertiga memakai seragam khas veteran; kemeja dan celana bahan berwarna cokelat serta topi yang menyerupai peci petinggi militer.

“Yang tidak diwarisi oleh penjajah Jepang kepada bangsa kita adalah Bushido, sebuah spirit samurai Jepang dalam meraih kemenangan dan kehormatan,” bapak yang sudah memanduku dua tahun yang lalu itu memulai ceritanya. “Kalau saja bangsa kita punya jiwa Bushido, pasti negara kita sudah maju sekarang.”

“Ya, sekarang bagaimana mau maju? Tanah di Bogor dijadikan mall semua, rakyat gak punya lahan buat berdagang. Anak muda gak rajin belajar, gak hormat pula dengan orang tua!” ujar veteran yang lain. Beliau adalah seorang kakek berjenggot putih tebal, sama seperti pemanduku, sudah tua namun sangat energik.

“Kemarin kami pernah mengajukan surat untuk DPRD, memohon diberikan kompensasi. Legiun veteran banyak yang hidup di bawah standar sejahtera. Mau tinggal beratap saja harus mengemis anak dan cucu sendiri. DPRD akhirnya mau memberikan kami kompensasi, hanya dua ratus ribu per bulan! Untuk kami! Ayah mereka yang memerdekakan bangsa ini!” veteran satunya yang bertubuh paling kecil namun paling bersemangat ikut bicara.

Aku mendengarkan dengan sabar namun antusias. Sudah dua jam kami berbincang kesana kemari tak kenal arah, dari mulai kisah perjuangan, kondisi bangsa, tingkah-pongah negara, hingga nasib para legiun veteran di kota ini. Aku baru tahu bahwa pejuang-pejuang kemerdekaan ternyata hidup di sampingku sejak lama, di kota yang sama, membaur dengan masyarakat.

Tanganku bergerak cepat menggoreskan tinta pada buku catatan kecilku. Menulis apa yang perlu ditulis. Bukan hanya karena ini adalah bahan untuk skripsiku, tapi karena aku juga peduli, bagaimanapun mereka adalah ayah bangsa ini.

“Dulu saya tergabung dalam resimen tentara pelajar, saat itu saya mahasiswa di sini. Legiun angkatan 65, berperang sambil kuliah.” Kenang kakek berjenggot putih.

“Saya lebih tua dari dia, angkatan 49, perang revolusi! Mempertahankan kemerdekaan!” seru veteran bertubuh kecil.

“Kami tidak pernah minta untuk diagung-agungkan, kami ikhlas melihat negara ini makmur merdeka. Hanya saja mohon jangan lupakan kami. Hargailah perjuangan kami dengan melanjutkannya di masa ini,” ujar bapak pemanduku, veteran paling muda, paling bijak.

Mereka adalah para pejuang yang pernah memerdekakan negara ini tanpa pamrih sedikit pun. Mungkin memang saat itu bangsa ini sudah jenuh hidup di bawah bayang-bayang bangsa lain. Wajar saja bila ada cita-cita mewujudkan sebuah utopia negeri sejahtera yang dikuasai oleh bangsanya sendiri. Kendati begitu, butuh keberanian yang besar untuk memulai. Butuh kesungguhan besar untuk berkorban.

Sejak kecil orang-orang dewasa selalu meninabobokan anak-anaknya dengan cerita-cerita heroik para pejuang kemerdekaan yang gugur di medan perang. Berkorban harta dan nyawa demi bangsa dan negara. Satu hal yang begitu mudah dilupakan adalah banyak dari pejuang itu yang masih hidup hari ini. Mereka makan dan berjalan di samping kita setiap hari, dilupakan dan terkatung-katung. Masa mudanya dihabiskan untuk misi negara, masa tuanya ditelantarkan negara.

Perbincangan terus berlanjut, namun kepalaku malah menampilkan sesosok foto yang pernah kulihat setahun yang lalu. Sebuah foto jurnalistik yang pernah begitu terkenal. Sebuah foto yang menginspirasi proposal skripsiku, foto yang menunjukan seorang lelaki tua berseragam veteran, tengah makan nasi bungkus di tengah jalan. Layaknya manusia-manusia lain yang ditelantarkan di jalanan negeri ini.

Tanpa sadar malamnya aku sudah menyeruput kopi lagi, kali ini di ruang tamu rumah bapak pemanduku. Beliau mengundangku kemari untuk bersilaturahmi setelah seharian berdiskusi di museum. Rumahnya begitu sederhana di tengah desa terpencil. Dikelilingi sawah dan empang milik tetangga.

“ayo, dimakan juga kacangnya,” ujarnya ramah.

Aku mengambil sebuah kacang kulit yang lembek dan berwarna pucat yang disajikan. Aku membukanya dan menelan isinya, mati-matian berpura-pura menikmati. Sambil mengunyah pelan aku memandangi kembali bapak pemandu yang belakangan kutahu namanya adalah Pak Joko. Tubuhnya sigap meski bungkuk, tonjolan di punggungnya makin membesar. Namun air mukanya selalu segar dan ramah. Aku tidak punya cukup nyali untuk menanyakan nama panjangnya, umurnya, atau bahkan angkatan mana dulu beliau berperang.

“Gimana kuliahnya dek?” ia memulai pembicaraan.

“Baik pak, sekarang tinggal skrip… tugas paling terakhir. Habis itu Insya Allah lulus pak,” aku menjawab mantap.

“Alhamdulilah, belajar yang rajin nak. Masa depan bangsa ini ada di tanganmu!” seru Pak Joko. Untuk yang kesekian kalinya beliau mengucapkan itu hari ini, sewajarnya seorang tua yang berharap pada pemuda.

Hening cukup lama, sampai akhirnya aku mengucapkan apa yang tertahan di lidahku seharian ini. “Apa benar bapak ditelantarkan oleh negara?”

“Saya tidak minta kamu untuk benci negara,” katanya cepat. “Saya meminta kamu untuk ingat, bahwa dulu banyak orang yang berjuang untuk kemerdekaan yang kamu nikmati sekarang. Saya meminta kamu untuk melanjutkan perjuangan itu, cukup.”

Sebisa mungkin aku menyembunyikan setitik air yang menggumpal di ujung mataku.

“Jangan kamu beranggapan perjuangan itu harus berarti seperti saya, mengangkat senjata dan saling bunuh dengan heroik kayak yang diceritain iklan TV. Nyatanya perjuangan intelektual terbukti lebih ampuh. Coba lihat Soekarno, Hatta, Sjahrir, orang-orang yang pintar! Berani berdebat sama orang Belanda dan Jepang! Berani punya cita-cita untuk bangun negara!” ujarnya berapi-api. “Saya dan teman-teman saya yang tadi siang itu dulunya hanya anak berandalan, suka bolos sekolah dan bolos ngaji. Tapi saat mendengar Bung Karno berseru-seru di radio pak RT, kami terpanggil! Kami angkat senjata saat Belanda datang, tapi ngeluarin buku pelajaran saat sudah sepi.”

Aku mengangguk pelan, tidak perlu kucatat karena hatiku sudah merekam kata-kata itu dengan tajam.

“Biarlah dulu kami yang melakukan kekerasan untuk mengusir penjajah, tidak perlu kalian tiru. Bangunlah negeri ini dengan kecerdasan, perdamaian, dan kasih sayang,” mata sang Bapak mulai berkaca-kaca, betapa dia sangat berharap padaku. “Jangan sampai kalian membunuh sesama manusia lagi. Cukuplah kami yang terakhir. Ingatkan tentara negeri ini untuk tidak menembak rakyatnya sendiri, jangan terjadi lagi yang seperti tahun sembilan delapan kemarin. Sungguh, saya bisa mendengar Jenderal Sudirman menangis melihat anak didiknya melakukan hal keji seperti itu.” Beliau mulai terisak.

Malam sudah larut dan aku pamit pulang. Kucium khusyuk punggung telapak tangan Pak Joko, mengharap ridho yang sebesar-besarnya. Dia mengelus kepalaku lembut. Layaknya jenderal yang memberikan tongkat komando pada seorang kapten muda.

Beberapa langkah kuambil menjauhi pintu rumahnya, seketika aku berputar badan. Pak Joko memandangiku heran. Dengan badan tegap layaknya Paskibra, aku memberi hormat, menyentuhkan ujung telapak tanganku di alis seperti saat pengibaran bendera.

Pak Joko tersenyum, memberi hormat balik. Dia sangat berharap, bangsa yang telah ia merdekakan ini akan menjadi bangsa yang hebat.

Tiba-tiba Pak Joko melotot seram, dia berlari cepat ke arahku dan mendorongku dengan ganas hingga aku terjatuh. Aku tidak ingat apa yang terjadi, kejadiannya sangat cepat. Aku mendengar suara motor kencang di dekatku, menghantam kejam tubuh Pak Joko yang tua. Menggantikan aku yang tadi berdiri di situ.

Pak Joko terpental dengan mengerikan, badannya terjungkal masuk ke dalam parit di pinggir jalan. Motor ugal-ugalan yang menabraknya itu hanya oleng sedikit. Pengemudinya adalah seorang remaja yang tampak mabuk, dia hanya mengumpat dan melaju pergi dengan lebih cepat.

Pak Joko menyelamatkanku, menukar badanku dengan badannya. Selayaknya daun cokelat yang gugur demi daun hijau yang baru tumbuh. Secepat kilat aku berlari ke arahnya, melompat ke dalam parit dan menggendongnya keluar.

Jarak rumah ini dengan rumah sakit terdekat pasti berkilo-kilo jauhnya. Tadi sore kami kesini dengan kendaraan umum, jam segini tidak akan ada. Aku mengambil kesimpulan cepat untuk menggendong Pak Joko pergi, tidak peduli seberapa jauh, berdoa agar bertemu dengan kendaraan apapun di tengah jalan.

Dengan tangkas aku berlari sambil menggendongnya dengan kedua tangan. Berusaha sekeras mungkin untuk tidak melihat seberapa parah luka yang dialaminya. Darah mengalir dari tubuhnya, menetes deras di jalan yang kami lewati.

Baru kusadari bahwa mukanya masih segar bereskpresi, matanya masih terbuka meski sedikit, dan ia tersenyum padaku. “Nak, su..dah..lah”

“Kakek jangan banyak bergerak! Nanti tambah sakit! Di depan situ ada puskesmas!,” seruku berdusta.

Lariku mulai melambat, kakiku terasa ngilu, tapi terus melaju. Otot tanganku mulai mengejang, tapi sebisa mungkin aku sembunyikan itu. Teringat padaku bagaimana pejuang Aceh menggendong Teuku Umar berkilo-kilo jauhnya saat beliau tertembak dalam perang.

“Nak, dulu Soekarno berjan…ji. Katanya, ne…geri i…ni akan senantia…sa ber…iman pada Tuhan Yang Ma…ha E…sa. Apa..kah telah ter…wujud?” dia merintih bertanya.

“Ya benar!” dustaku tanpa ragu. Sekilas aku teringat berbagai macam korupsi dilakukan oleh orang yang mengaku beragama. Kitab Suci dijadikan lahan berbuat kecurangan. Uang negara dilenyapkan oleh orang yang menyebut nama Tuhan.

“Ka…ta Bung Karno ju…ga. Negeri ini adil sento…sa. Kemanusiaan, adil, beradab…”

“Itu juga benar!” dustaku lagi. Sekilas teringat wajah ibu tua yang dihukum penjara karena mencuri buah. Di tempat lain ada yang masuk bui karena mencuri sandal. Di tempat yang lebih jauh lagi, pencuri uang negara milyaran rupiah hanya cukup dipenjara beberapa bulan, belum termasuk remisi dan kamar penjara yang mewah. Sementara rakyat kecil terus-menerus terdampar kelaparan dimana-mana.

“Alhamdulilah, aku memperjuangkan sebuah negeri yang diridhoi. Turunkan aku nak,” ujarnya lega, entah kenapa ia tidak terbata-bata lagi. Bahkan kini beliau tidak nampak kesakitan. Lebih anehnya lagi, aku menuruti keinginannya. Aku menghentikan langkahku, membaringkan beliau dengan lembut di atas tanah berumput. Kulihat untuk pertama kalinya dengan jelas bagaimana tubuh renta itu hancur daging dan tulangnya, namun wajahnya tetap utuh bersahaja. Aku berlutut di hadapannya.

“Detik-detik proklamasi, kibaran saka merah putih, sorakan Bung Karno di radio, selalu menjadi saat-saat yang mengharukan. Cita-cita kami membangun negeri ini terus berlanjut hingga hari ini. Terima kasih pada kalian bangsa muda. Gantikan kami,” ia bertutur lembut. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Di ujung kecil negeri yang luas ini ada seorang pria yang begitu tulus mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan ratusan juta manusia Indonesia, baik yang telah ada, maupun generasi yang nanti lahir.

“Bung Karno? Bung Hatta? Sedang apa mereka di atas bangunan hijau yang megah itu?” gumam lemah Pak Joko, matanya sudah terpejam.

“Syarif? Umar? Teman-temanku yang gugur di medan perang? Sedang apa kalian disana? Ini dimana? Istriku! Anakku! Kalian masih hidup! Aku kira Jepang telah membawa kalian entah kemana. Tunggu bapak disitu! bapak pulang!”

Dua kalimat syahadat terucap dari bibir Pak Joko.

Malam ini pria itu gugur demi menyelamatkan seorang pemuda. Sementara pemuda yang masih segar darah dan dagingnya itu tidak sanggup menyelamatkan sang pria. Memalukan sekali.

Aku terisak, tersengguk, menangis seperti anak kecil. Air mataku menetes berjatuhan. Bersamaan dengan itu darah Pak Joko juga membanjiri tanah.

Bagaikan sebuah panggilan kuno, suara leluhurku berteriak di dalam relung-relung jiwa. Mereka mengingatkanku bahwa telah banyak keringat, darah, dan air mata pendahuluku membasahi petak-petak tanah di negeri ini. Baru kusadari betapa tanah yang kuinjak hari ini mengandung jasad begitu banyak tubuh yang bergelimpangan demi kebebasanku hari ini. Salah satunya adalah jasad Pak Joko.

Letih, jiwa dan raga. Perlahan sangat pelan aku tertunduk di tanah, kupandangi langit malam sekilas. Bulan bersembunyi di balik awan, entah karena ia ikut bersedih, atau hanya malu melihat negeri ini.

Tapi aku tidak akan malu. Akulah penerus tahta cita-cita mulia.

Dapat kudengar jangkrik-jangkrik bersahutan menyanyikan himne duka dalam bahasa mereka. Burung hantu yang bertengger di pohon juga tertunduk syahdu, ikut dalam nuansa. Angin malam bertiup lembut, membuat rumput-rumput bergesekan membentuk suara mistis.

Dalam batin aku perlahan bernyanyi.

Dengar, seluruh angkasa raya memuji. Pahlawan negara…

cerita pendek oleh Hamzah Zhafiri

7 April 2013, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s