Opera

depositphotos_6090615-Drama-Masks

Pagi itu aku bangun untuk menyaksikan Opera.

Pertunjukan dimulai, aktor-aktor menari masuk panggung.

Mengenakan kostum sederhana: ikat kepala, spanduk, toa.

Mereka memulai pentasnya, dalam simbolnya mencoba bersuara.

Mikrofon didekatkan pada bibir jelata.

Berkata tidak pada penindasan, pada penderitaan.

Juga pada kelaparan dan pelecehan.

Aktor-aktor terus berdansa hingga siang menjelang.

Peluh keringat dicium bersama.

Sementara aku cukup yakin

di puncak gedung pencakar langit itu.

Seorang pria berdasi mencibir.

Dia tentu jijik melihat opera tahunan panggung bundar ini.

Opera ini memimpikan sebuah dunia.

Di mana semuanya bisa hidup damai berangkulan.

Semuanya bisa menyantap daging dan buah-buahan.

Tanpa penderitaan, tanpa kelaparan, tanpa penindasan.

Tidak seperti dunia hari ini.

Dunia yang hanya memuaskan syahwat tuan saudagar, mas mandor, dan bapak aparat yang terhormat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s