Tanda Cinta?

love-emo-question-intimate-31000

Panggung Teater Gadjah Mada terpapar di hadapan penontonnya, dikelilingi kain-kain kelambu hitam, tanpa cahaya, tanpa penerangan. Perlahan tapi pasti lampu sorot mulai menerangi tengah panggung, sebuah meja biasa menampakan dirinya, tidak lupa taplak sederhana menyelimuti, lengkap dengan vas bunga diatasnya. Dua kursi di meja itu turut terpapar oleh cahaya lampu, melengkapi suasana sederhana sebuah ruang tengah keluarga.

            Seorang pria memasuki panggung, dengan setelan kemeja dan celana bahan lengkap dengan dasi, khas karyawan kantoran. Dia mengambil duduk di salah satu kursi, muka dan gelagatnya gelisah sekali. Dengan ragu memandang kakinya yang masih telanjang, serta sepatu dan kaus kaki di dekatnya yang minta segera di pakai.

            Seorang wanita memasuki panggung, dengan pakaian daster dan jilbab sederhana. Mengambil duduk di kursi satunya. Mukanya terlihat sayu dan ragu, dengan malu-malu mencuri pandang pria di hadapannya yang masih gelisah.

            Seketika sang pria bangkit berdiri dan melangkah keluar panggung, seolah tidak sudi melihat sang wanita. Waktu berselang singkat saat wanita itu duduk sendiri, karena tidak lama sang pria kembali. Sang pria duduk di kursinya yang sama tadi, mulai memakaikan kaus kaki dan sepatu pada kakinya.

            “Kau diam,” ujar sang wanita tiba-tiba. “Bagaimana bisa aku tahu apa yang terjadi denganmu, kalau kau diam? Ada masalah saja kau tidak cerita.”

Pria itu bergeming, tidak terpengaruh dan masih memakaikan sepatu pada kakinya.

“Apakah ini soal keuangan? Tenanglah, kita sudah mengirimkan uang untuk anak-anak kita. Uang untuk kita juga masih cukup. Bahkan sampai bapak gajian nanti pun, kita masih ada sisa.”

“Bukan! Bukan masalah itu!” sang pria memberontak, gelagatnya makin gelisah,  memakai sepatu dengan ekspresi amat tidak nyaman.

“Ataukah karena pekerjaanmu? Apakah ada masalah dengan kerjaan?”

“Yaelah, jelas bukan,” sang pria makin gelisah. Berdiri dan jalan kesana kemari. Bekerja sebagai karyawan memang membuat jenuh dan membosankan bagi sang pria. Setiap hari, setiap saat, selama bertahun-tahun mengerjakan hal yang sama.

 Tapi bukan itu yang dirisaukan. Celakanya, sang pria tidak bisa melepaskan kerisauannya atas masalah yang tengah ia pikirkan, karena menurutnya, masalah ini menyangkut ketenteraman hidupnya dan keluarganya.

“Lantas apa kalau begitu? Kau kini membawa-bawa keluarga kita!” jerit sang wanita frustasi.

“Yang kupikirkan sebenarnya. C…c…cinta” akhirnya sang pria berujar ragu dan terbata.

“cinta?” wanita heran.

“ya cinta.”

“lalu?”

“ya cinta, aku, kamu, cinta… paham?”

“aku, kamu, cinta, ya aku paham. Lalu?” wanita bertambah heran.

“aku… kamu… CINTA!”

“ya, lalu?”

“Masihkah… ada… cinta… diantara… kita?”

“kau hanya mau bertanya seperti itu? Tidak bisakah kau menanyakan hal yang lain!”

“Lho? Kenapa tidak? Memang benar, pertanyaanku ini tidak banyak lagi penggemarnya di jaman sekarang. Tapi aku rasa ini penting!”

“Tidak adakah pertanyaan lain yang lebih penting?”

“Ya sudah! kau tinggal jawab saja pertanyaannya, ini kan pertanyaan mudah!,” bentak pria.

“Tidak semudah itu! Butuh kata-kata yang tepat untuk menjawabnya!”

“Lho? Apa susahnya sih? Tinggal jawab iya, atau tidak!

Sejak saat itu, dimulailah petualangan Handoko mempertanyakan keberadaan cinta. Ia bekerja di kantor dengan tidak tenang. Teman kantornya hanya bisa menggeleng prihatin. Petugas kebersihan hanya bisa mencibir Handoko yang menghabis-habiskan kertas, karena dengan kertas yang berlembar-lembar, Handoko menulis besar-besar:

MASIH ADAKAH CINTA DI ANTARA KITA? JAWAB IYA, ATAU TIDAK, SMS JAWABANNYA KE HANDOKO: 08**********

Selebaran itu ditempel di sudut-sudut kota. Warga seketika geger. Anak bupati membaca, bupati tahu, ikut geger, polisi menangkap Handoko. Panjang perkara.

Sialnya, pertanyaan Handoko pada istrinya sendiri hanya berujung perdebatan.

“Tinggal jawab saja, apa susahnya?” Bentak Handoko.

“Tidak mudah! Harus dijawab dengan tepat! Kau selalu terburu-buru, tidak pernah memberiku waktu untuk berpikir!” ujar istrinya, setelah sebelumnya membereskan dengan lembut tas kerja yang dilempar Handoko ke lantai karena saking marahnya.

“Kau pikir aku tidak khawatir mendengar kamu dipanggil polisi?”

Aku menghabiskan dua jam untuk menonton pertunjukan itu di malam minggu. Pentas seni teater yang cukup worth it untuk disaksikan. Ditampilkan oleh Teater IAIN Solo beberapa hari silam.

Cinta lamaku atas pentas teater bersemi kembali karenanya. Melihat aktor-aktor berlaga, lampu-lampu sorot menari, dan musik-musik bernyanyi. Sebuah fragmen memori yang cukup lama terkubur dalam relung pikiran menampakkan ronanya kembali. Cerita-cerita indah saat dulu juga pernah tampil di panggung.

Apalagi berusaha memaknai pesan tersirat dari masing-masing adegan, berkenaan tentang arti dari tanda-tanda cinta. Cinta bagi suami-istri, cinta bagi rekan kerja, cinta bagi bupati, cinta bagi orang yang kehilangan.

“Hari apa ini?” ujar Handoko yang telah renta.

“Hari senin” balas istrinya yang juga renta.

“Sudah berapa senin yang kita lalui bersama?”

“Aku tidak tahu, sudah lupa”

“Sudah berapa lama kita menikah?”

“sudah lupa”

“dulu aku penah bertanya padamu tentang cinta. Ingat?”

“Ya ingat.”

“Jadi… masihkah… ada… cinta… di antara… kita?” tanya Handoko lagi, setelah sekian lama menunggu.

“Sudah 1981 senin yang kita lalui, sudah 38 tahun usai pernikahan kita, aku masih tetap di sini,” jawab sang istri.

“Jadi, masihkah ada cinta di antara kita?”

Keduanya bergandengan tangan dalam diam, di kasur yang tua, nyaris sama renta dengan mereka. Perlahan bernyanyi bersama.

Lampu meredup, kegelapan mulai merayapi sekujur panggung, merayapi kasur, merayapi dua tubuh renta yang bergetar-getar.

Haih, ada-ada saja.

Mungkin bagi Handoko, cinta itu harus diungkapkan, harus dikatakan secara gamblang. Apa adanya begitu saja, apa susahnya?

Mungkin bagi istri Handoko, cinta itu cukup ditunjukan. Bila pun harus dikatakan, tidak bisa sembarangan. Toh lagipula, menunjukan gerak-gerik perilaku cinta sepertinya sudah cukup, tanpa harus menyatakannya.

Bagaimanapun Handoko dan istrinya memaknai begitu berbeda arti sebuah cinta, toh nyatanya mereka tetap mencintai juga…

(sebuah ulasan ngelantur dari seorang penonton teater awam. 90% tulisan ini hanya berdasarkan ingatan pribadi sang penulis, sangat mungkin banyak salah kata.)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s