Menonton Pagi

sunrise1

 

Terbangun sesosok insan dari tidurnya.

Melangkah ke sudut, mengambil tempat untuk menonton pagi.

Menyaksikan itu semua terjadi, sejak langit masih gelap.

Pagi menggeliat, angin berhembus sejuk, membawa hawa sisa tadi malam.

Embun mengelus lembut kulit, menenangkan pori-pori, merelaksasi.

Burung-burung bernyanyi dalam orkestra sambut pagi.

Burung-burung menari dalam koreografi sambut mentari.

Di jalanan suara sapu-sapu bergesekan, digerakan oleh insan-insan, menyingkirkan daun-daun bertebaran.

Di ufuk timur mentari mengintip perlahan.

Bias cahayanya membentuk siluet mistis di langit dan awan.

Garis-garis berwarna oranye kemerahan, perlahan sangat pelan.

Mentari beranjak bangun layaknya insan, menjalani putaran yang dikodratkan alam.

Cahayanya perlahan meluas, menerangi sudut-sudut kota.

Jalanan, bangunan, gang-gang, taman, lampu-lampu.

Perlahan dirayapi oleh terang.

Sangat perlahan, sangat pasti.

Cahaya yang merangkak mendaki tiap ruang, mengingatkan semua yang diteranginya untuk bangun.

Bangun dan hadapi kehidupan, karena Tuhan masih memberikan kesempatan itu. Untuk satu hari lagi.

Menggeliatlah pagi! Seru mentari. Titah Sang Hyang Widhi padaku untuk bangun pagi ini menandakan, kalian masih diizinkan mengabdi.

Mengabdilah wahai insan-insan, wahai makhluk-makhluk, wahai siapapun yang melangkahkan kakinya ataupun menanam akarnya di muka bumi.

Kesempatan itu masih datang sehari lagi.

Meski esok bahkan mentari tak bisa berjanji akan melakukan ini lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s