Depresi

depressed_man_silhouette_large

Terengah-engah dan payah, lelah dan jengah.

Terduduk, tertunduk, termenung di satu sudut. Peluh mengalir di sekujur tubuh, membasahi permukaan kulit.

Masih tertunduk, masih tersengal, masih bertahan atas tiap gejolak yang ada.

Masih mencoba tetap tegar berdiri di pijakan yang sama. Betapa dianggap remehnya ia.

Ia adalah seorang anak lelaki.

Sang pemula kehidupan, pembelajar atas dinamika dan dialektika manusia.

Magang dalam hidup nyata, merasakan hembusan angin yang menggoyahkan, jilatan terik api neraka, dan sentuhan dingin iblis malam.

Meringis, merasakan rasa sakit di salah satu bagian daging. Memegangi bagian tubuh yang ternyata bersimbah darah.

Perlahan juga mulai bangkit berdiri, menggigit bagian bawah bibir keras-keras, agar rasa sakit itu berkurang.

Luka akhirnya juga robek di bibir itu, darahnya mengalir menuruni dagu, melewati leher, menodai kemeja.

Berusaha untuk tidak mengeluh dengan kata-kata.

Cairan apapun boleh keluar dari tubuhnya, keringat ataupun darah, tapi tidak air mata. Tidak. Lelaki tidak menangis, tidak boleh.

Titik air, titik air, titik air. Satu, dua, tiga, berjatuhan pada dirinya. Air dari awan yang hitam menggumpal berjatuhan. Menabrak bumi, menabrak lelaki. Menusuk kepala seperti jarum jarum mikroskopik.

Menengadah menatap langit dan awan yang sedang melemparinya dengan butiran air. Berteriak balik saat petir mulai membentak.

Bertanya atas berapa lama lagi ia harus bertahan. Pertanyaan tanpa jawaban.

Anak lelaki itu, belajar atas arti menjadi lelaki seutuhnya.

Menyekolahkan diri pada alam yang membentuknya, pada Sang Hyang Widi yang menciptanya. Kini ia bertanya harus berapa lama lagi. Namun ia masih mencoba tegar.

Mencoba menutup mata, percaya bahwa Ia masih adil.

Mencoba meresapi makna, menikmati butir-butir ingatan yang masih bisa dinikmati untuk dikenang. Bertanya-tanya kemudian, kapan hidup mau mengajarinya tentang kasih sayang dan cinta?

Seketika terbayang wajah cantik yang cukup dikenal. Tersenyum manis dan indah tak terbantah. Mengingat malam yang amat pekat di sudut taman. Meregangkan otot bersama, berkata-kata ringan. Hanya lampu-lampu taman redup yang membantu melihat sesama. Bersama dimandikan sinar bulan.

Makan malam dengan lampu redup yang serupa. Menerangi meja, hanya menyisakan sedikit untuk menerangi mereka. Berhadapan bersama dan bicara, seraya menikmati senar-senar akustik dipetik.

Malam lain kembali lagi. Menyadarinya ada dan berjalan di sekitar. Setahun genap berjalan dan perasaan itu terakumulasi, reaksi kimia yang terjadi begitu berbeda dengan setahun sebelumnya.

Perut sakit teramat sangat, lidah kelu terikat, darah mendesir cepat, sekujur badan kaku gemetar. Menarik-hembuskan nafas sedemikian rupa. Berusaha menahan diri, meyakinkan diri bahwa ini kasih sayang tulus dan bukan nafsu binatang.

Sementara begitu sambil menunggu ia menyadari keberadaan diri.

Dalam waktu hidup yang teramat singkat, tidak banyak lagi malam yang tersisa.

Dari sedikitnya malam yang ada, sebagian kecilnya adalah malam demikian yang bisa dinikmati. Terlalu sedikit, tapi tetap bisa disyukuri.

Hidup, kapan tibanya belajar cinta dan kasih sayang? Hidup masih menggeleng.

Lagipula, dia juga mungkin sedang hadapi hal yang sama.

Dia itu mungkin juga gadis kecil yang diajari oleh hidup untuk menjadi wanita seutuhnya.

Kini anak lelaki mulai mau berdiri. Menangani persoalannya sendiri. Melanjutkan pergulatannya dengan peluh dan darah.

Banyak sekali yang harus dikorbankan untuk belajar menjadi Pria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s