Majikan

anjing

Intuisi alamiah membangunkanku dari tidur. Tanpa menguap atau merenggangkan badan, aku berlari lincah meninggalkan kasur, menyusuri ruangan demi ruangan, dan melompati perabotan dengan manuver akrobatik. Ini bukan unjuk kekuatan, tapi latihan rutin yang telah menjadi rutinitas hidupku. Bila kamu adalah makhluk sepertiku, cukup mudah mempelajari sesuatu dengan cepat. Kenapa? Karena umurku tidak sepanjang kamu. Pencipta kita memang adil.

Aku keluar rumah lewat lubang di bagian bawah pintu. Setumpuk kertas tergeletak di depan situ. Ia datang tepat waktu, dilemparkan oleh manusia berseragam aneh tiap pagi. Aku pun kembali masuk dengan tumpukan kertas itu di mulut, berlari menuju kamar majikanku. Aneh, pintu kamar majikanku tetap tertutup dan terkunci. Sengaja tidak ada lubang di pintu itu agar kamar ini menjadi satu-satunya kamar yang hanya bisa kumasuki dengan seizin majikanku.

Apa yang dilakukan oleh majikanku di dalam? Biasanya dia akan membukakan pintu pagi-pagi sekali agar aku bisa membawakan kertas ini untuknya. Dia akan bersemangat mengambil kertas itu dari mulutku dan telaten memandangi gambar-gambar yang terlukis di sana. Setelah itu, aku akan menyalakan alat pemanggang roti untuk sarapannya. Aku juga harus ke kamar mandi untuk menekan tombol-tombol aneh, yang secara ajaib akan mengisi sendiri sebuah kolam kosong dengan air panas.

Bila itu sudah selesai, majikanku akan memanggilku masuk ke kamarnya. Aku akan membantunya melepas kaos kaki dengan menjadikan punggungku sebagai pijakannya. Setelah itu, dia akan menggunakan kedua tongkatnya untuk berjalan. Dia akan mengambil roti yang telah kupanggang dan masuk ke kamar mandi untuk merendam badan.

Majikanku bukan manusia biasa. Dua kakinya tidak berfungsi dengan baik. Sementara aku adalah anjing jantan, dilatih sejak lahir oleh manusia untuk membantu manusia lain yang fisiknya cacat. Kata anjing tetangga, majikanku ini betina, sehingga aku harus merawatnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Sekarang entah kenapa pintu kamar majikanku belum terbuka. Malam sebelumnya majikanku masuk ke kamar itu sambil mengeluarkan air mata. Kenapa air matanya bisa keluar? Aku tidak pernah paham dengan manusia, tapi aku sangat mencintai majikanku. Dialah yang merawatku, bermain denganku, dan menyayangiku setiap hari.

Karena penasaran, aku pun mencari cara untuk bisa masuk ke dalam. Aku pergi keluar rumah dan menemukan jendela luar yang terhubung ke kamar majikanku. Dengan sigap aku melompat ke arah jendela itu, mendorong-dorong tangkai besi yang ada di ujungnya. Aku pernah melihat anjing tetangga melakukannya, dia bisa membuka jendela. Ternyata, aku pun bisa melakukannya. Agak sulit memaksa masuk dari celah jeruji besi yang ada di jendela itu. Tapi akhirnya aku masuk ke dalam.

Aku melihat majikanku memang benar ada di kamar itu, tidak kemana-mana. Dia sedang melayang di udara. Kepalanya hampir bisa menyentuh langit-langit dan kakinya tidak menapak lantai. Tuanku ingin belajar terbang seperti burung? Aku tidak tahu manusia juga bisa terbang.

“Kenapa kamu mau terbang tuanku?” Kataku dalam hati. “Apakah karena minggu lalu kau dipukuli oleh seekor manusia jantan lain? Sekarang tuanku mau kabur dari manusia itu dengan cara terbang?” Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati sambil menggonggong pelan, tentunya dia tidak akan paham.

Majikanku tetap terbang dengan tenang, tidak mempedulikan keberadaanku. “Tuanku, apa kamu tidak mau lagi melihat kertas yang kubawa? Apakah kamu bosan makan roti panggang? Atau tuanku tidak mau lagi berenang di kamar mandi? Tuanku, apa manusia jantan itu penyebab tuanku mengurung diri pagi ini? Bukankah baru sebulan yang lalu manusia jantan itu rajin datang ke rumah tuan untuk bermesra-mesraan dengan tuan?”

Majikanku tetap bergeming, harusnya dia bisa merespon gonggonganku, tapi kini dia diam saja. Badannya yang melayang di udara itu berputar pelan, kepalanya menunduk menatap aku langsung, tatapannya sedih.

“Aah, pagi tuanku! Ayolah mendarat, tuanku harus melepas kaos kaki. Tuanku hebat sekali! Tidak bisa menggunakan kaki, kini bisa terbang seperti burung!”

Majikanku tetap diam, menolak mendarat di lantai.

“Ya sudah, kalau tuanku tidak mau mendarat, aku akan di sini menunggu Tuan.”

Aku mengambil posisi duduk manis sambil mengibas-ngibas ekorku bersemangat.

“Tuanku, apakah Tuan sedang tidak sehat hari ini? Ya, tidak apa. Kata anjing tetangga, manusia kalau sedang sakit pasti diam di kamar seharian. Tuanku, lima menit lagi roti panggangmu jadi. Jangan lupa sarapan ya. Aku juga sudah mengisi kolam air panasmu, tapi kalau tuanku tidak mau mandi tidak apa-apa, karena aku juga tidak suka mandi.

“Tuanku, semua tugasku pagi ini sudah kuselesaikan tepat waktu, jadi jangan marah seperti dulu ya? Aku ingat dulu tuanku berteriak marah-marah di kamar sambil berbicara dengan sebuah alat aneh di telinga. Lalu saat aku datang membawakan kertas kesukaan tuan, aku dipukul dan ditendang oleh tuanku. Maafkan aku tuanku, pagi itu aku memang terlambat memberikan kertas itu, karena aku bangun kesiangan. Maafkan aku.

“Tuanku, apakah tuanku masih takut dengan manusia jantan yang pernah memukuli tuanku dulu? Jangan khawatir tuanku, aku akan menggigitnya kalau dia ke sini lagi. Minggu lalu di malam hari ada orang jahat berpakaian serba hitam yang mendatangi rumah kita. Dia bermaksud mengambil barang-barang tuanku. Aku langsung mencegatnya dan berusaha menggigitnya. Dia panik dan memukuliku hingga aku memar, kemudian dia kabur karena takut tuanku bangun. Paginya tuanku bangun dan mendapati aku terluka. Tuanku memarahiku karena mengira aku berkelahi dengan anjing lain, tapi tuanku mengobatiku dengan lembut hati. Terima kasih tuanku.

“Tuanku, kenapa tidak berbaikan saja dengan manusia jantan itu? Aku akan dengan senang hati melihat kalian bermesraan lagi. Saat manusia jantan itu datang, aku ingat tuanku akan memberiku beberapa carik kertas padaku. Aku akan pergi ke rumah sebelah yang banyak barang-barang dipajang, dan pemilik rumah itu akan mengambil kertas yang kubawa serta memberiku dua kaleng minuman dalam plastik sebagai gantinya. Lalu aku memberikan dua kaleng itu pada tuanku. Tuanku dan teman jantannya akan minum bersama dan tertawa-tawa sepanjang malam. Aku bahagia sekali melihat tuanku bahagia. Tapi kenapa beberapa hari yang lalu tuanku bertengkar dengannya? Sampai-sampai manusia jantan itu memukuli tuan dan pergi begitu saja?”

Aku terdiam sejenak, Majikanku masih menatapku dingin sambil melayang. Nampaknya dia marah padaku. Tapi entah kenapa dia tidak memukuli aku seperti biasanya bila ia marah.

“Tuanku, aku bisa melakukan hampir semua yang dikerjakan manusia. Aku membuka pintu untukmu, menyalakan televisi, memakaikan celanamu, bahkan memotong rumput dengan benda aneh yang bisa berjalan itu. Tapi entahlah, ada banyak hal tentang spesies kalian yang aku tidak bisa paham.

“Kalian begitu cerdas, bisa membuat makanan lezat, menciptakan barang-barang ajaib, dan membuat gambar-gambar bergerak. Kalian begitu baik, mau menolong sesama, sekalipun yang kalian tolong bukan berasal dari kawanan kalian. Kalian begitu memaknai apa arti hubungan, tidak seperti kami yang bisa kawin semau kami di manapun dengan siapa pun sepuasnya syahwat kami. Kalian begitu hati-hati memilih pasangan, menjaga dan menyayangi pasangan dan maunya hanya kawin pada pasangan yang itu-itu saja dengan setia. Kalian memang makhluk spesial yang hebat.

“Tuanku, aku mencintai manusia. Aku mencintaimu. Setiap hari kunyatakan ini tanpa bisa kau mengerti. Semua keringat yang kukeluarkan untukmu dan semua gonggongan yang kunyanyikan untukmu, tak ada satupun disadarimu, takkan pernah kau tahu, aku mencintaimu dalam kesunyian yang sendu, tuanku.

“Tuanku, kemarin aku masuk kamarmu untuk mengajakmu bermain. Ternyata dirimu sedang mengiris-iris pergelangan tanganmu sendiri dengan pisau. Kau langsung kaget melihatku, kau mengusirku dan mengirisku juga dengan pisau itu. Aku kesakitan. Aku mencoba minta maaf tapi kau pun tidak akan paham. Akhirnya tadi malam aku hanya bisa menjilati lukaku sambil bersedih hati. Aku meringis, bukan karena kesakitan, tapi karena menyesal mengganggumu saat itu, sampai kau marah begitu. Aku juga marah pada diriku sendiri. Aku menyesal Tuanku, apa sekarang kau masih akan marah padaku?”

Aku menengadah ke atas memandang wajah majikanku. Memang agak susah sebagai anjing untuk melihat, karena mata kami rabun. Tapi sekilas aku melihat ada tali yang tersangkut di leher majikanku. Tali itu menyambung ke langit-langit dan terikat di situ.

Aku pun lega, ternyata tuanku tidak belajar terbang untuk menghindari teman jantannya. Lehernya hanya tersangkut di tali, dan mungkin sekarang dia tertidur.

“Tuanku, aku tahu kita makhluk berbeda, tapi aku tetap mencintaimu. Aku selalu ingat betapa kau bahagia memelukku tiap habis bercengkrama dengan teman jantanmu. Hanya belakangan ini saja kau bertengkar terus dengannya, apa mungkin manusia kadang berhenti untuk mencintai teman kawinnya? Aku tidak tahu, tapi tidak apa tuanku, aku tetap di sini, mencintaimu.”

Aku mencium lembut telapak kaki majikanku yang terjulur kaku. Lalu aku berjalan berputar di tempat, agar lantai yang kuinjak menjadi hangat. Kemudian aku pun berbaring di lantai hangat itu.

“Tuanku, aku akan ikut tidur denganmu hingga kau bangun. Bangunkan saja aku bila kau butuh apa-apa. Aku akan tetap di sini menunggumu.

“Tuanku, aku mencintaimu, selamat tidur…”

.

.

.

Hamzah Zhafiri Dicky

Sampai cerpen ini ditulis belum pernah memelihara anjing

2 thoughts on “Majikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s