Aku dan Andrea, Cerita Unik Dari Masa Lalu

andrea

Tulisan ini awalnya aku tulis menyatu dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ketika Penggemar Andrea Angkat Bicara”. Namun karena menjadi terlalu panjang, saya potong ini menjadi dua bagian. Bagian ini menceritakan tentang bagaimana aku bisa menyukai Andrea dan karya-karyanya. Bukan cerita yang menarik, hanya curahan hati seorang anak yang sok menyukai sastra semasa SMP.

Kisahku menjadi penggemar Andrea memang bukan kisah keren yang bisa dijadikan cerpen, tapi harus kukatakan, cukup unik. Bermula ketika seorang teman SMP menyodorkanku sebuah novel yang tebalnya lumayan bikin putus asa untuk ukuranku dulu. “Ayo zah baca, ini Laskar Pelangi, keren banget lho ceritanya,” ujarnya antusias. Aku tidak terlalu mempedulikannya, kutolak sodoran bukunya, berhubung aku masih lebih suka baca komik. Setiap hari di sekolah dia membicarakan novel itu padaku, sambil membawa novel itu kemana-mana, berharap aku mau meminjamnya. Didorong rasa penasaran, akhirnya kupinjamlah buku tebal dengan cover berwarna dasar merah dan hitam itu.

Aku pun mulai membaca di rumah, bab pertama, kedua, ketiga, menyelami kehidupan Ikal bersama para laskar pelangi. Aku merasakan sepuluh anak itu hidup bersamaku, berlari-lari dengan kaki telanjang di alam yang luas, belajar dan bermain di bawah pohon, dan berangkulan bersama menatap pelangi di pantai Belitong yang indah.

Untuk memudahkan pembacaan aku pun membeli buku yang sama, mengembalikan buku temanku. Kita sama-sama bangga karena beberapa hari setelah itu, novel Laskar Pelangi yang beredar di toko telah diberi label Best Seller di tiap covernya. Sementara milik kami berdua belum ada label itu, artinya kami sudah menjadi pembaca Laskar Pelangi sebelum novel itu Best Seller. Di sekolah aku tidak berhenti berdiskusi dengan temanku tentang isi novel itu. Bahkan kami pernah punya ide gila untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, berhubung sekolah kami memang sekolah Internasional yang rajin memakai bahasa Inggris dalam keseharian.

Inilah bagian yang paling menarik, suatu hari temanku ini, (ohya, namanya Dhaneswara, mari kita panggil Dhanes) memberi kabar yang cukup mengejutkan. Dia mendapatkan alamat email Andrea, dan berhasil melakukan kontak dengannya! Aku pun begitu bersemangat bertanya padanya, apa saja yang ia bicarakan dengan Andrea. Aku pun dengan ganas meminta alamat emailnya juga. Sepulang sekolah aku langsung meluncur ke Warnet, membuka email dan mulai menulis. Aku memulai dengan salam perkenalan, kemudian aku bercerita panjang lebar tentang bagaimana aku mendapatkan novelnya, betapa aku mengagumi ceritanya, termasuk tentang temanku Dhanes yang memperkenalkanku pada Laskar Pelangi.

Aku tidak perlu menunggu sampai seminggu untuk mendapat balasan. Ketika aku membaca pesan balasan darinya, nampaknya aku tidak bisa mengingat bagaimana perasaanku saat itu, tapi aku masih ingat kata-katanya:

“Hamzah, aku suka membaca tulisanmu, seperti cerpen, kubaca berulang-ulang. Jangan pernah berhenti menulis ya. Salam untuk Dhanes,” ada beberapa kata lagi setelah kata-kata itu, tapi aku sudah lama lupa.

Seketika aku menjadi amat loyal dengan novel ini. Aku berubah menjadi sales boy bagi Laskar Pelangi. Omku adalah orang pertama yang menjadi target pasar utamaku. Mungkin aku harus menerangkan dulu, tanpa bermaksud untuk sombong, Omku, pak Imam Budi Prasojo, adalah orang yang cukup terpandang di negeri ini. Beliau adalah Sosiolog dari UI, dikenal sebagai tokoh gerakan masyarakat, pendiri dan pemimpin LSM multinasional terkemuka: Nurani Dunia. Beliaulah yang menyarankanku untuk mengikuti jurusan kuliah yang sedang aku geluti hari ini. Di tengah kesibukannya, agak sulit aku mau menawarkan buku ini. Tapi toh beliau menerima juga, meski terlihat biasa saja saat menerimanya.

Sekitar sebulan kemudian saat aku mengunjungi rumah beliau, dia pun berseru semangat “ini bagus sekali!” dia membelikanku satu lagi novel Laskar Pelangi karena yang kupinjamkan padanya sudah ia pinjamkan ke anaknya (sepupuku).

Untuk membuat kebahagiaan ini lengkap, aku menerima email undangan dari Andrea untuk menghadiri talkshow nya di Bandung, tepatnya di mall Paris van Java. Dhanes mendapat undangan yang sama, kami pun pergi tanpa banyak tanya.

Mungkin kupersingkat saja ceritanya. Singkat cerita aku dan Dhanes serta ibuku sudah duduk di acara talkshow. Ibuku juga antusias untuk ikut. Pada saat itu Andrea sudah menyetujui novelnya diangkat menjadi film. Sutradara dan produser film itu nantinya adalah Riri Riza dan Mira Lesmana, teman kuliah ibu dan bapakku di IKJ dulu. Riri Riza menjadi pembicara di talkshow itu bersama Andrea, sehingga ibuku turut datang demi reuni kampus.

Talkshow berjalan, aku bosan, sampai tertidur, tapi sontak bangun lagi saat tiba sesi tanda tangan. Berduyun-duyun para penggemar Laskar Pelangi membawa bukunya masing-masing untuk mengantri meminta Andrea menandatanganinya. Saat tiba giliran Dhanes, yang mengantri tepat di depanku, Andrea bertanya:

“Namanya siapa?”

“Dh.. dh… Dhanes…” (dia memang gagap, bukan karena tegang)

“Ooh” sambil membubuhi tanda tangannya di buku Dhanes “Dhanes yang mana ya?”

“Dh.. dh.. Dhanes dari Bogor”

“ooh, Dhanes!” tiba-tiba Andrea terlihat paham

Aku yang berdiri di belakang tidak mau ketinggalan.

“Aku Hamzah! Hamzah dari Bogor juga!”

“Ooh Hamzah!’ serunya. Dia mengenali kami!

Kami berdua langsung ditarik ke depan untuk duduk bersama Andrea. Perbincangan kilat kami lakukan karena bagaimanapun masih banyak yang mengantri di belakang kami. Saat selesai, Andrea berbicara dengan teman sebelahnya seraya menunjuk kami berdua dan berkata:

“mereka berdua saingan”. Dia tahu bahwa aku dan Dhanes adalah sesama pegiat sastra di sekolah kami.

Kami pun turun dari panggung, aku menyalami om Riri Riza, aku juga penggemar beratnya karena dia adalah sutradara film Gie yang fenomenal. Aku percaya dia pasti bisa menghadirkan visualisasi Laskar Pelangi yang paling pas. Terakhir saat Andrea beranjak pergi, aku menghampirinya, menyalaminya, berharap dapat bertemu lagi lain waktu.

Berbulan-bulan berselang aku menyaksikan dari jauh sepak terjang Andrea melalui blog yang dia punya. Aku bahkan sampai membuat blog dengan provider yang sama dengannya (multiply) agar bisa terus mengawasi perkembangannya.

Kesempatan kedua bertemu dengannya tidak datang terlalu lama. Omku kali ini yang greget ingin bertemu Andrea, akhirnya beliau menginisiasi sebuah talkshow dengan menghadirkan Andrea Hirata dan Meutia Hafidz. Wow, mbak Meutia Hafidz, jurnalis yang pernah ditawan milisi Irak di masa Perang Irak dulu itu? Aku pernah membaca kisahnya. Seru juga kalau bisa bertemu dia juga.

Seketika talkshow pun berjalan, lalala lilili, aku nyaris tertidur lagi~ Omku angkat bicara, dia mengungkapkan kekagumannya pada Laskar Pelangi dan betapa itu menginspirasi dirinya dan organisasi LSM yang dia pimpin untuk membangun kembali fasilitas pendidikan di Indonesia. Dia juga mengungkapkan identitasku yang sedang duduk ngantuk di kursi paling belakang, bahwa akulah yang mengenalkan buku itu padanya, dan bahwa sekarang aku sedang membuat sebuah ulasan tentang karya sastra Pramoedya dalam makalah ilmiah berbahasa Inggris (so what? XD).

Saatnya tiba untuk sesi foto-foto. Sekali lagi aku menghampirinya dan menyalaminya. Dia pun untungnya masih ingat denganku, padahal sekarang penggemarnya pasti puluhan kali lipat lebih banyak dari sejak pertama kita bertemu. Aku belum tahu bahwa itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya sampai dengan saat tulisan ini aku tulis, (artinya sudah lima tahun berselang, kawan).

Aku mulai merasa agak berlebihan ketika buku The Phenomenon terbit, isi buku itu mengulas tentang fenomena Laskar Pelangi di Indonesia. Omku lagi-lagi muncul menceritakan tentang bagaimana ia dikenalkan pada novel itu olehku. Hahaha.

Aku pun mulai melupakan Andrea dan kawan-kawannya serta fokus membuat makalah tentang karya Pramoedya demi kelulusan SMP, Dhaneswara juga tidak memilih Laskar Pelangi sebagai tema makalahnya.

Baru saat aku SMA, film Laskar pelangi yang ditunggu-tunggu keluar juga. Aku sudah berpindah SMA dan berpisah dari Dhanes. Saat itu, dinas pendidikan memberi rekomendasi untuk sekolah-sekolah agar menyaksikan film itu. Sekolahku pun mengadakan nonton bersama. Aku menyaksikan dengan mataku sendiri ketika khayalan dan imajinasi pemberi semangatku di masa SMP, setelah dua tahun menunggu, akhirnya hidup di layar kaca.

Keesokan harinya di pelajaran Bahasa Indonesia, guruku mengajak sharing dengan seluruh kelas. Otomatis aku menjadi yang paling aktif bicara, guruku pun memintaku ke depan untuk menceritakan apa yang aku tahu. Kuceritakanlah semuanya, teman-temanku antusias bertanya dan menanggapi, yang paling kentara adalah pertanyaan apakah si Ikal berhasil bertemu perempuan pujaannya, A Ling?

Guru Bahasa Indonesiaku pun senang, beliau memanggilku lagi untuk bicara di kelas lain saat tiba mata pelajarannya. Lagi-lagi, setelah dua tahun lamanya, aku menjadi sales boy si Andrea, sungguh aku harus menuntut honor :p.

Film Sang Pemimpi (lanjutan dari Laskar Pelangi) juga terbit tidak lama kemudian. Menyaksikan Ikal kembali berjibaku dengan sulitnya hidup demi sebuah mimpi, membuatku mempertanyakan tentang mimpi-mimpiku juga. Aku pun serius belajar di SMA, menghadapi UN, hingga akhirnya menembus SNMPTN.

Tidak pernah ada kabar lagi dari Andrea sejak itu. Terakhir, aku dengar bahwa novelnya sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Inilah kawan, saat dimana entah kenapa aku selalu merasa terhubung dengan novel kunyuk yang satu itu.

Saat itu aku sedang bermain ke rumah Omku (ya, masih om yang sama, Pak Imam). Tiba-tiba seorang perempuan bule memanggilku dari tempat kerjanya.

Oke, aku jelaskan dulu. Jadi di rumah Omku ini ada seorang mahasiswi asal Amerika yang tinggal di sini. Dia kuliah Sastra Indonesia kalau tidak salah, di Universitas Indonesia. Namanya Angie Kilbane. Sementara anak Omku yang asli, berarti sepupuku, justru berkuliah di Amerika, tinggal di sana. Tukar anak antar negara, lucu ya? ^^

Oke, balik ke cerita.

Angie memanggilku ke ruang kerjanya, dia menanyakan arti dari sebuah kata dalam bahasa Indonesia. Aku lupa kata apa itu, tapi yang pasti aku terangkan padanya bahwa kata itu bukanlah kata yang bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris, tapi kira-kira punya padanan kata tertentu. Kusebutkan padanannya, tapi aku lupa.

“I’m gonna ask Andrea later,” dia bilang.

Setelah aku perhatikan, ternyata dia sedang men-translate buku Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Itu artinya, aku telah berperan dalam proses penerjemahan buku Sang Pemimpi ke dalam bahasa Inggris, meski hanya satu-dua kata, itu pun tanpa ada solusinya. Hahaha *ketawa miris*

Aku pun ikut-ikutan semangat, ketika melihat draft terjemahan naskah Laskar Pelangi yang ada di sampingnya. Aku melihat Angie menerjemahkan Laskar Pelangi sebagai “Rainbow Troops”. Kuterangkan padanya bahwa kata “Laskar” dalam bahasa Indonesia lebih merujuk pada arti pejuang yang militan. Maka itu, menurutku terjemahan yang pas adalah “Rainbow Warrior”. Persis dengan terjemahanku bersama Dhanes dalam fantasi kita bertahun-tahun yang lalu. Troops menurutku dalam bahasa Inggris mengandung arti “tentara” yang banyak. Sementara Laskarnya Laskar Pelangi adalah segelintir pejuang yang kuat, cocok sekali diterjemahkan dengan warrior. Tapi ya sudahlah, serahkan saja pada ahlinya. ^^

Waktu terus berputar tanpa ada lanjutan dari Andrea dan Laskar Pelanginya. Aku dan Andrea akhirnya menjalani hidup masing-masing, sibuk dengan ambisi dan mimpi masing-masing. Novel Laskar Pelangi tanpa label best sellerku sudah hilang dipinjam teman. Alamat Emailku yang menyimpan surat-suratanku dengannya sudah corrupt dan hilang. Blog multiply yang aku buat untuk menjaga hubunganku dengannya juga sudah kutinggalkan. Terakhir aku dengar justru ada sebuah berita tidak enak tentang konflik Andrea dengan seorang tokoh bernama Damar. Opiniku tentang kasus itu sudah kutulis dalam tulisan sebelumnya.

Meski waktu sudah berlalu, dan semua bukti bahwa aku pernah jadi sales boy Andrea sudah nyaris hilang semuanya, tapi aku tidak mungkin lupa bagaimana novel Laskar Pelangi beserta tetraloginya itu pernah merubah orientasi hidupku. Padahal aku lahir dan hidup jauh dari kata susah dan menderita, aku punya mimpi setinggi langit, tapi sekedar mendaki puncak bukit kecil pun aku malas.

Laskar Pelangi mengingatkanku tentang mereka yang punya mimpi setinggi luar angkasa, tapi sekedar tangga kecil untuk mendaki saja mereka tidak punya. Kendati begitu mereka tidak putus asa, karena akhirnya mereka mencoba belajar terbang. Betapa hambatan bukanlah alasan untuk tidak sukses.

Bagaimanapun, kehilangan mimpi adalah bencana terbesar umat manusia!

–Sang Pemimpi-

Baru beberapa hari yang lalu aku berbincang dengan teman-teman kuliahku sesama penikmat sastra. Salah seorang dari mereka adalah penggemar Seno Gumira Ajidarma. Dia bercerita dengan antusias betapa dia mencintai karya om Seno yang jurnalis sekaligus sastrawan itu. Dia mengagumi bagaimana om Seno mengemas cerita yang memilukan tentang kekejaman Penembak Misterius di zaman Orde Baru. Lalu temanku dengan bersemangat mengutip kata-kata om Seno ketika menggambarkan seorang perempuan yang waswas menanti apakah pacarnya yang seorang preman bertato, akan dibunuh dalam waktu dekat. Setiap kali hujan dan suara tembakan terdengar, sang perempuan cukup menunduk melihat keluar jendela dan memiringkan kepalanya ke kanan, dia akan melihat seorang mayat terkapar, sengaja di buang begitu saja oleh para penembak. Perempuan itu hanya bisa menunggu sampai giliran pacarnya yang nanti terkapar.

Temanku bercerita bahwa karya-karya Seno adalah inspirasinya untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia seperti sekarang, betapa dia sangat ingin sekali melakukan analisis terhadap karya-karya Seno. Betapa dia kemarin menyesal sampai tidak tidur ketika tidak mengajukan diri untuk hadir di sebuah acara di Jakarta mewakili Fakultasnya, padahal di acara tersebut om Seno muncul sebagai pembicara.

Lebih lanjut lagi temanku ini (yang mana dia perempuan) terus berceloteh betapa dia mencintai Seno, hingga rasanya mau-mau saja bila harus dimadu olehnya (oke, berlebihan, tapi nyata men!). Temanku yang lain juga menimpali dengan mengungkapkan betapa mirisnya bila kita mencintai seseorang, karena kita telah jatuh cinta pada karyanya, tapi kemudian orang itu tidak pernah tahu tentang perasaan kita. Keberadaan kita pun tidak mereka ketahui. Kita hanya bisa jatuh cinta dalam kesunyian.

Maka dari itu, aku merasa cukup beruntung pernah mengenal orang yang kucintai karyanya. Bahkan keluarga dan teman-teman terdekatku juga ikut berkontribusi dalam mencintainya. Aku juga tetap mengikuti nasehatnya untuk tidak pernah berhenti menulis. Jelas sangat telat bagiku untuk mengejar mimpi lamaku menjadi seorang sastrawan. Hidupku sudah kuabdikan untuk pengembangan ilmu sosial dan menjadi aktivis masyarakat. Tapi toh aku akan tetap menulis. Omku yang memang Sosiolog kondang pun berencana suatu saat nanti ingin merangkum dirinya dan hidupnya dalam sebuah buku pamungkas, yang nantinya dapat menjadi bekal bagi generasi mendatang. Usiaku belum terhitung apa-apa, tapi aku rasa itu ide yang sangat bagus untuk aku meninggalkan hidup.

Ya, aku mungkin bukan sastrawan, aku gemar menulis tapi rasanya mustahil bisa membuat seseorang jatuh cinta pada karyaku dan kemudian mencintaiku dengan cara itu. Tap toh tulis saja, yang penting menulis.

Perbincangan dengan temanku kemarin itulah yang mendorongku membuat tulisan ini. Mungkin memang bacaanku tidak seberat para penikmat sastra yang tahu tokoh-tokoh sastrawan terkemuka. Tapi bagaimanapun aku merasa punya pahlawan di masa kecil. Seseorang yang memberiku perubahan secara psikologis dan mengguncangkan arah hidupku sejak aku berkenalan dengan dia dan karyanya. Terima kasih Andrea, semoga kau sehat dimanapun kau berada. Bila waktu masih mengizinkan, mungkin kita akan bertemu lagi.

Hamzah Zhafiri Dicky

Anak dari negeri hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s