Tantangan Koperasi Simpan Pinjam

Finance1

Sore itu saya sedang mengikuti kuliah. Dosen saya nampak berdiskusi dengan sekelompok mahasiswanya tentang penelitian survei yang mereka buat, sementara mahasiswa sisanya di kelas itu aktif mengobrol satu sama lain. Seketika saya ingat dengan koran Kompas yang baru saya beli tadi pagi. Segera saja saya keluarkan dari tas dan saya baca. Setelah membaca habis laporan utama, mata saya tertarik dengan sebuah kolom di sebelah headline. Sebuah berita berjudul: “Penipuan Investasi, Himpun Dana Lewat Pasar Uang,” ujarnya. Dijelaskan dalam artikel itu tentang modus operandi baru yang dilakukan bandit ekonomi untuk melakukan penipuan investasi. Setelah sebelumnya kasus Raihan Jewellery yang bermodus investasi emas terkuak, kini berbagai lembaga pemberi kredit lainnya terindikasi gejala yang sama. Salah satunya Koperasi Simpan Pinjam.

Hal ini dibenarkan oleh Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Meliadi Sembiring. Dia mengatakan pihaknya akan membentuk lembaga pengawas untuk mengawasi Koperasi Simpan Pinjam. Pembentukan lembaga pengawas ini menurutnya merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian yang baru. Meliadi juga menghimbau agar warga berhati-hati terhadap tawaran investasi  yang tidak masuk akal. Kasus penipuan Koperasi Simpan Pinjam menurut artikel itu, telah terjadi di suatu daerah. Saya lupa di daerah mana dan apa nama Koperasinya, silahkan dicek sendiri di Kompas edisi 6 Maret 2012. Diceritakan bahwa ada sebuah Koperasi yang telah menghimpun dana hingga milyaran rupiah dari sekian ratus nasabah. Tidak lama si  Ketua Koperasi ditemukan sudah tewas di penjara, entah bagaimana nasib dana yang telah terkumpul. Artikel itu kemudian melanjutkan diskusi tentang penipuan-penipuan yang terjadi pada lembaga pemberi kredit lainnya.

Seketika pikiran saya berkelana mencari arti sebuah Koperasi, terutama Koperasi Simpan Pinjam. Sebagai sebuah lembaga ekonomi yang berasal dari golongan menengah ke bawah, kita selalu mendengarkan jargon-jargon segar tentang Koperasi yang diharapkan dapat memantik kesejahteraan masyarakat. Jatuh bangun Koperasi di Indonesia adalah sebuah cerita yang lumayan panjang.

Cerita romansa tersebut ternyata tidak jauh konteksnya dengan Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi pertama di Indonesia, adalah sebuah Koperasi Simpan Pinjam yang lahir di Purwokerto. Awalnya memang bukan Koperasi, melainkan sebuah Bank pemberi kredit yang didirikan Patih R. Aria Wiria Atmaja, seorang Pamong Praja setempat. Bank ini diperuntukan bagi kaum Priyayi sebagai wadah penampung dana dan penyalur kredit agar para priyayi tidak melulu dicekik oleh lintah darat yang memberi pinjaman dengan bunga yang tinggi. Patih membuat lembaga kredit ini tidak lain mencontoh Koperasi kredit di Jerman.

Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. Dia menyarankan agar Bank tersebut diubah menjadi Koperasi. Dia juga menggagas pendirian lumbung-lumbung desa dan mendorong petani untuk menyimpan palawijanya di lumbung tersebut, dan memberikan pinjaman padi pada musim paceklik. Konsep Koperasi unit desa ini pun menyokong kegiatan ekonomi masyarat desa sejak saat itu.

Usaha untuk terus mengembangkan Koperasi di Indonesia terus bergulir. Di zaman Hindia Belanda memang tidak begitu berkembang karena pemerintah saat itu tidak memiliki visi yang sama dengan Patih maupun Wolffvan, sehingga kejelasan perlindungan hukum pun belum diberikan pemerintah Hindia Belanda. Namun kemudian konsep-konsep yang sama sempat dikawal oleh organisasi-organisasi pergerakan pra-kemerdekaan semacam PNI dan Syarikat Islam. Puncaknya pasca kemerdekaan, diselenggarakan Kongres Koperasi Indonesia pertama di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947, yang kemudian diperingati sebagai hari Koperasi Indonesia.

Koperasi, apalagi Koperasi Simpan Pinjam, telah menunjukan taringnya sebagai pembangkit ekonomi yang sederhana namun efektif di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tidak hanya ia memantik lahirnya Koperasi Indonesia, bahkan hingga hari ini Koperasi Simpan Pinjam adalah jenis Koperasi paling berkembang dibanding Koperasi Konsumsi dan Koperasi Produksi. Sistemnya yang relatif mudah serta kemanfaatannya yang jelas untuk anggota sebagai wadah untuk menabung dan mencari kredit tidak perlu dipertanyakan lagi. Baru-baru ini juga kita sering mendengar tentang konsep BMT (Baitul Mal wat Tamwil), sebuah koperasi pemberi kredit dengan konsep Syariah. Tentunya saya tidak berniat untuk membuat analisa yang menjurus ke Agama tertentu, karena bagaimanapun, Koperasi menurut prinsip International Cooperative Alliance (Aliansi Koperasi Intrnasional) bukanlah lembaga keagamaan. Tapi bagaimanapun fenomena menjamurnya BMT di Indonesia sudah menjadi buah bibir di kalangan ekonom, sebuah alternatif baru bagi distribusi kesejahteraan.

Sebaik apapun optimisme bergulir, seperti yang diungkapkan di awal, ternyata perjalanan Koperasi Simpan Pinjam tidak selalu mulus. Layaknya lembaga pemberi kredit lain, Koperasi Simpan Pinjam dihantui berbagai persoalan, dari macetnya kredit hingga penipuan. Dari sisi Koperasi sendiri, selalu ada kekhawatiran kredit yang diberikan tidak dikembalikan nasabah secara tertib, bahkan tidak dikembalikan sama sekali. Ini tentu mengacaukan sirkulasi uang yang terjadi. Dari sisi nasabah juga ada kekhawatiran penipuan yang nyata. Sejumlah dana yang disetor nasabah, setelah sebelumnya di ninabobokan oleh janji bunga yang menggiurkan, bisa saja tidak dibalas oleh Koperasi secara setimpal. Belum lagi bila terjadi penipuan oleh pengurus Koperasi.

Dulu guru ekonomi saya pernah bercerita tentang mengapa Koperasi tidak bisa berkembang di Indonesia layaknya BUMN dan swasta. Penyebab utamanya menurut dia, adalah sikap pegiat Koperasi yang menyalahartikan asas “kekeluargaan”. Atas nama kekeluargaan, seringkali nasabah penerima kredit yang tidak mampu mengembalikan uang yang dipinjam, dimaafkan oleh Koperasi. Entah cerita itu benar atau tidak, tapi saya rasa itu bukan hal yang bisa ditolerir. Asas kekeluargaan dalam Koperasi tidak berarti memanjakan, tidak juga berarti mengabaikan sebuah tanggung jawab. Koperasi boleh saja berideologi manusiawi, tapi bukan berarti menyingkirkan aspek profesionalisme. Hal kecil semacam ini bukan saja menghambat perkembangan Koperasi yang harusnya tumbuh profesional, tapi juga tidak mendidik masyarakat dan jauh dari asas kekeluargaan itu sendiri.

Djabarudin Djohan dalam bukunya, “Wajah Koperasi Indonesia”, juga menerangkan bahwa Koperasi Simpan Pinjam yang ada di Indonesia, kendati tidak menipu sekalipun, seringkali melencengkan jati dirinya sebagai Koperasi. Koperasi Simpan Pinjam sejatinya menjadi wadah mengumpulkan dana dan meminjam kredit untuk anggotanya semata, sebagai wujud pemberi kesejahteraan. Namun kini Koperasi Simpan Pinjam dengan bebas membuka kreditnya bagi masyarakat umum untuk menyimpan dan meminjam. Meski bukan kegiatan haram, namun Koperasi Simpan Pinjam seolah melupakan kontekstual pendiriannya sebagai Koperasi pemenuh kebutuhan anggotanya untuk menabung dan meminjam kredit. Hal ideologis yang nampaknya sepele ini, sebenarnya merupakan hal yang penting karena menyangkut jati diri Koperasi. Bila tidak ada pembedaan antara anggota Koperasi dan yang bukan, lantas apa bedanya Koperasi dengan badan usaha biasa?

Koperasi Simpan Pinjam di Indonesia menyimpan potensi luar biasa yang tidak perlu dibantah. Bank Standard Chartered sendiri mengakui, bertumbuhnya angkatan kerja muda di Indonesia memunculkan permintaan kredit yang berlimpah untuk berbagai sektor. Kesempatan semacam ini harus ditangkap dengan cerdas oleh Koperasi Simpan Pinjam. Permasalahan internal dan tantangan eksternal jelas akan menghadang, evaluasi dan perbaikan harus dilakukan dalam berbagai lapisan serta berbagai tataran, baik itu teknis maupun ideologis. Tentunya ini bukan pekerjaan bagi pegiat Koperasi semata, tapi juga tanggung jawab masyarakat yang memang berminat melihat kesejahteraan yang adil dan merata di tanah air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s