Mesiu

hitman-silhouette-236x336

Terbitnya fajar pagi itu memang tidak sanggup menghapus jejak hujan tadi malam. Tidak juga kicauan burung gereja yang riang maupun nyanyian jangkrik terakhir, tidak ada yang dapat menyembunyikan tragedi. Embun bergulir damai dalam sepucuk daun, begitu damai karena tidak berurusan dengan manusia. Kabut tipis menyelimuti sebuah gedung kosong yang telah lama ditinggalkan. Mengelusku lembut dengan butir-butir air yang melayang. Mungkin kedamaian terakhir yang akan kuterima hari ini.

Kesadaranku mulai terkumpul kembali. Dunia mimpi memudar dan dunia nyata menampakkan dirinya perlahan. Otakku mulai membangun secara perlahan fragmen-fragmen memori yang tercecer dalam sudut-sudut benak. Mengingat siapa diriku, di mana aku sekarang, kenapa aku tertidur, sedang apa aku tadi malam, dan apa yang akan kuhadapi.

Untuk pertanyaan siapa, aku adalah seorang polisi bersenjata, namaku tidak perlu kusebutkan. Negara ini menamaiku dengan sembilan digit angka sebagai nomor identitas. Untuk dimana, aku sekarang berada di sebuah gedung yang terbengkalai. Gedung ini belum selesai dibangun saat ditinggalkan. Kenapa aku tertidur di sini? Tentunya karena lelah, aku berbaring begitu saja di lantai. Apa yang kulakukan? Apa yang aku hadapi? Untuk pertanyaan itu nampaknya aku harus bertanya pada beberapa hari yang lalu.

5 hari yang lalu

            “Yak, silahkan duduk,” ujar pria setengah baya itu padaku.

            Aku pun duduk di kursi yang ia tunjuk. Basa-basi dimulai dan terus mengalir. Pria yang memang atasanku itu berbicara panjang lebar tentang segala hal. Berulang kali dia memujiku atas semua kerja keras dan prestasi yang sudah kutorehkan.

            “Kau  adalah perwira muda yang selalu saya banggakan. Konsistensimu menjanjikan, determinasimu meyakinkan. Kau telah mencapai apa yang tidak bisa diraih oleh saya saat seumuran denganmu,” ujarnya memuja.

            “Itu bukanlah apa-apa pak,” balasku sambil tertawa.

            “Karena itu nak, melihat performamu yang selalu menjanjikan, saya ingin memberimu amanah lagi, kau bersedia?,” tanyanya.

            “tentu pak, dengan senang hati,” jawabku singkat.

“Ada sebuah gerakan separatis baru belakangan ini. Mereka tidak seperti mafia yang bergerak atas nama harta atau kepercayaan. Mereka membenci negara, bergerilya melawan segala simbol pemerintahan, mengkudeta aparat penting, merusak markas dan fasilitas fisik, bergerak licin di bawah tanah dengan sangat cerdas.”

            Aku terdiam.

            “Badan Intelijen Negara berhasil melacak tempat persembunyian mereka. Susunlah strategi operasi dengan tim yang kamu pimpin. Hancurkan mereka. Besok lusa pukul 10.00 rancangan aksimu sudah ada di meja saya, paham?”

            “Siap!”

            Atasanku berdiri, memutari meja kerjanya dan menyalamiku. Menepuk hangat pundakku dan tersenyum bangga, layaknya seorang ayah melihat anak laki-lakinya memakai toga.

            “Saat kamu kembali, baret di seragam lengan kirimu akan saya tambah. Pin kehormatan pun akan tersemat di dada kemejamu,” ujarnya.

Perlahan aku mulai bangkit, mencoba untuk tidak merasakan pecahan peluru yang bersarang di betis kiriku. Tidak ada yang bisa kugunakan di sekelilingku untuk mengobatinya.

Aku berada di ruangan kecil yang tidak terurus. Temboknya masih berupa beton dan semen, menjadi ladang lumut yang subur, begitu pula dengan lantainya. Sinar matahari masuk dengan dramatis dari dua buah jendela, dalam kilatannya memperlihatkan debu-debu yang beterbangan di ruangan itu.

Di hadapanku terkapar sesosok tubuh tak bernyawa, dia mengenakan seragam yang sama denganku. Baru empat jam yang lalu dia bergerak lincah bersamaku menembaki musuh. Tiga jam yang lalu kami berdua bersembunyi di sini, dia sudah meregang nyawa. Peluru besi murahan bersarang di dadanya, hanya seinci dari jantungnya. Tidak lama, dia mati dalam pelukanku.

Aku memungut pistol terakhirku, sebuah Baretta, tinggal beberapa klip peluru yang tersisa. Bahkan bila tiap-tiap butir peluru ini dapat membunuh seorang musuh, tidak akan cukup mengatasi mereka semua. Aku memandangi mayat di hadapanku. Apakah aku akan pergi menyusul juga? Aku memang sudah pamit dengan istriku, tapi itu hanya pamit pergi bekerja, bukan pergi selamanya.

3 hari yang lalu

“jadi gak bakal honeymoon lagi weekend ini?” Ujar Kamila kecewa.

“Iya mil, maaf ya. Tapi dinas sekarang bener-bener penting. Komandan sendiri yang ngasih tugas,” aku berusaha untuk terlihat menyesal.

Rencana kami untuk berbulan madu di akhir pekan bertepatan dengan hari operasiku. Tentu saja dia kecewa, perempuan mana yang tidak?

“Istrimu itu aku atau komandan kamu itu sih?” katanya ketus seraya mengiris daging untuk makan malam kami.

“Istriku itu, adalah cewek beken paling eksis di SMA 12 Pagi,” aku berkata seraya mendekati punggungnya. “Dia bisa membuat lelaki bebas menjadi budak cinta, membuat lelaki suci rela berbuat dosa,” aku memegang bahunya, lalu membelai lembut lengannya. “Dia lebih memabukkan daripada mariyuana,” aku mencium rambutnya, menghirup wanginya dalam-dalam. Dengan sentakan dramatis aku membalikkan tubuhnya, membuatnya berhadapan denganku.

“Betapa cantik istriku itu, mukanya yang indah diukir sendiri oleh Tuhan, bercahaya bagai rembulan di tengah malam,” aku mengambil tangannya dan menciumnya mesra. ”Pernahkah kamu melihat tangan istriku? Begitu lembut bagai sutera, telapak tangan dan punggung tangannya berwarna sama, putih terang bersahaja.” Aku menutup kata-kata romantisku.

“Oh, kayak gitu istrimu? Pernah liat suamiku gak kayak gimana?” kata istriku, masih ketus.

“Kayak gimana? Tampan dan rupawan?.” Kataku antusias

“Enggak, dia jelek banget dan jago gombal kalo ada maunya,” kata istriku manja.

Aku pun tertawa. Malam itu menjadi sangat cerah.

Letusan tembakan memecah keheningan. Aku menggeser tanganku yang sepersekian detik yang lalu berada dalam lintasan sebuah peluru.

“Dia disini!” teriak sang penembak yang sudah berdiri di depan pintu ruangan tempat aku berada. Langsung kubungkam dia selamanya dengan terjangan peluruku.

Dengan cepat aku keluar dari ruangan itu dan mendaki tangga ke lantai atas. Derap-derap langkah dan teriakan bandit-bandit itu bersahutan di segala penjuru tempat, mencari keberadaanku. Aku terus berlari menjauh, melewati liku-liku gedung, ruangan demi ruangan.

Mereka terus memburuku, sial, padahal harusnya aku yang memburu mereka. Aku terus berlari, melanjutkan maraton tadi malam. Awalnya aku dan pasukanku begitu bersemangat ketika mendobrak tempat ini. Namun musuh begitu cerdas membalas serangan kami dan balik mendesak. Pasukanku tercerai-berai, banyak yang terbunuh, sisanya kocar-kacir dikejar musuh seperti anjing kalah.

Pandanganku mengabur, waktu yang berhasil kucuri untuk tidur sekilas tadi tentu tidak cukup membayar kelelahanku. Sebelum aku sempat memikirkan cara untuk keluar, sebutir peluru menangkap paha kananku. Aku terjatuh, kepalaku terjerembab menyamping. Dengan kepala di bawah aku melihat kaki-kaki menginjak-injak lantai di sekitarku, disertai sorakan keberhasilan. Selanjutnya semua gelap.

Saat aku sadar aku sudah terduduk di sebuah kursi. Tanganku terikat ke belakang oleh borgol, aku berada di tengah ruangan dengan satu pintu di hadapanku. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Seorang pria tinggi berkulit hitam masuk ke dalam ruangan. Diikuti dua orang pria berbadan tegap yang nampaknya pengawalnya.

“Selamat siang pak polisi,” sapa pria berkulit hitam itu ramah, dengan senyum yang sinis. “Perlu lihat SIM dan STNK saya pak? nih mari,” dia mengeluarkan dompet dari sakunya dan mengeluarkan kedua identitas diri itu. Aku diam bergeming.

“Tidak perlu pak? Oh ya sudah saya bakar aja ya pak kalo gitu?”

Aku mengira dia bercanda, tapi dia benar-benar menyalakan geretan dan membakar SIM dan STNK itu. “Kenapa saya membakar ini pak? Karena persetan dengan hukum negara bapak!” Dia berteriak sambil melemparkan SIM yang terbakar itu. Aku tetap bergeming.

“Boleh saya bertanya pak? Kenapa sih bapak mau-mau aja jadi polisi? Udah gajinya kecil, kerjanya berat, dibenci orang-orang pula, ya iyalah! Bapak korupsi mulu sih!,” ejek pria itu.

“Saya tidak mencari uang, saya memang rela bekerja berat untuk melayani masyarakat, mengabdi pada negara,” ujarku ringan.

“Oh ya? Mulia sekali ya polisi itu? Kenapa saya gak jadi polisi aja ya dulu?” kata pria itu sambil mengangguk-angguk. “Bisa ngambil pungutan liar, nyalo pembuatan SIM ama STNK, kalo udah dapet duit banyak ya nyogok buat naik pangkat,” katanya berdecak, seolah mengagumi.

“Tidak semua polisi bisa sebusuk anda!” seruku.

“Berarti gak semua polisi bisa semulia saya kan?” balasnya. “Memang pak polisi tahu saya dan teman-teman saya ngapain?,” teriaknya. “Kami ini pembela kebenaran yang membenci kalian, spesies makhluk Negara! Kami bosan dirampas haknya oleh kalian! Dibatasi kebebasannya, diperas keringatnya, dicecerkan darahnya, untuk apa? Mengisi lembaran kertas di dompet kalian!”

“Kami tidak pernah mau menyakiti kalian. Bila kalian tidak menyukai negara, bergeraklah dengan damai, suarakan aspirasi kalian dalam lembaga masyarakat dan politik yang ada. Bukannya melakukan teror dan merusak fasilitas umum,” kataku tenang.

“Persetan dengan jargonmu pak polisi!” serunya keras. Pria itu termenung sejenak, kemudian duduk bersila di lantai, mulai menyalakan rokoknya di depanku.

“Saya juga mau menjadi polisi dulu,” dia bicara santai, seolah aku adalah teman baiknya. “tapi ya, mahal nyogoknya, kalo punya relasi di dalem mungkin lebih murah.” Asap rokok disemburkan kencang dari dalam mulutnya. “Saya juga pengen punya rumah yang bagus,” asap mulai melayang-layang di udara. “Tapi, baru punya gubuk kecil aja, udah digusur pemda,” mukanya terlihat lemas. “Punya keluarga biasa yang nyaman juga sebenernya cukup buat saya,” ujarnya lagi. “Tapi kayak gitu juga gak dikasih. Istri mau melahirkan, gak diterima di rumah sakit karena gak ada biaya.” Kali ini dia menghembuskan asap perlahan. “Melahirkan di jalanan, pendarahan banyak, gak ketolong, mati. Gendong anak juga gak bisa lama. Baru setahun udah kurang gizi, mati lagi.” Dia menutup ceritanya. “Hidup anda pasti bahagia ya? Pasti kerjaan pak polisi bagus. Istri pak polisi cantik. Temen-temen pak polisi juga banyak dan sayang ama bapak.” Ujarnya lagi sinis.

“Saya cukup beruntung memiliki kelebihan, tapi bukan berarti tidak pernah punya hambatan, bukan berarti gak pernah ngerasain susah,” kataku mencoba sabar.

“Ngerasain susah? Pernah pak polisi hidup susah? Apa memang susahnya? Orang tua bapak mati pas bapak masih SMP? Terus bapak diasuh oleh kakeknya bapak? Itu hidup susah?,” dia mencibir.

“Darimana kamu bisa…” aku terbata.

“Lalu bapak lulus SMA masuk akademi militer. Menjadi tentara teladan, pahlawan perang di Aceh dan Papua, sampai bapak dipindahtugaskan ke…” dia menarik kasar kerah seragamku dan melihat apa yang tersemat di sana “Detasemen Khusus 88 anti-teror, yang lambangnya kartun burung hantu cemen.” Dia mendorongku dengan jijik, hampir membuatku terjengkal. “Kenapa saya bisa tahu? Gak cuma itu, saya juga tahu bagaimana pak polisi masuk rumah kami secara gak sopan!,” dia membanting setumpuk kertas di kakiku. Tumpukan kertas itu, adalah tulisan strategi yang kubuat untuk menyerang tempat ini, yang telah kukumpulkan di meja komandanku.

“Komandan bapak memang menghormati bapak. Tapi bapak terlalu berprestasi hingga dia jengkel. Banyak aksi bapak yang seharusnya gagal, malah bapak buat berhasil,” tuturnya.

“Seharusnya gagal?” aku tidak paham.

“Ya, negara ini tidak ingin bapak selalu berhasil. Selalu ada konspirasi,” ia bercerita santai. “Terorisme itu nguntungin negara pak, buat ngontrol rakyat dan buat bisnis” katanya, sambil menyalakan rokok lain. “Aksi polisi itu tergantung negaranya, lagi merestui atau tidak. Kadang polisi dibuat kalah, biar nama baik negara kecoreng, lantas harga-harga jadi goncang. Terus polisi dibikin menang, udah deh harga-harga normal lagi, nah penjudi yang udah tahu arah dadu bergulir pasti untung besar.” Dia tertawa sambil melanjutkan “Masalahnya, bapak terlalu serakah membuat polisi menang terus. Bapak dicintai pembela kebenaran, tapi dibenci penjudi.”

“Saya tidak melihat manfaat utnuk mendengarkan anda lagi,” kataku ketus.

“Oh ya? Gak cukup kalau komandan bapak pengkhianat? Nih ambil,” dia melemparkan sebuah cincin ke pangkuanku. Cincin yang berlumuran darah, cincin perkawinan yang biasanya melekat pada jari istriku.

“i… ini,”

“Cincin istri bapak. Dia cantik sekali, sayang uang yang di tawarkan negara untuk memenggal kepalanya lebih cantik. Kalau bapak masih hidup, negara ingin bapak mati hatinya juga, dan Negara harus menggaji teroris buat ngelakuin tugas kotor.” ujarnya ringan, seolah sedang membicarakan bisnis rutin.

“Kamu…” badanku gemetar, ototku mengejang, tapi tidak bisa berbicara apapun.

“Dan setahu saya, bapak tidak punya apa-apa lagi. Ketiak komandan tidak bisa lagi bapak gunakan buat ngumpet, istri bapak mati, anak buah bapak yang setia juga mati!”

“Diam!”

“Saya gak memuji, bapak pikir bapak mulia? Memang saya gak tahu kelakuan bapak di Aceh nembakin orang shalat? Di Papua nyiksa penduduk setempat kalo interogasi?”

“Tahu apa kamu!” teriakku. Sementara itu, tangan di belakang punggungku sudah hampir selesai melakukan tugasnya. Trik mudah yang diajarkan di akademi militer, melepaskan diri dari borgol murahan.

Sementara dia berceloteh, tanganku sudah bebas. Tanpa berpikir lagi, dikuasai dan dibutakan oleh emosi, aku langsung berdiri menerjangnya. Dia pun kaget, kurampas pistol di pinggangnya, kutembak kepalanya, juga dengan kedua pengawalnya.

Semua terjatuh, aku tersisa. Darah membanjiri lantai, daging-daging manusia terkapar lemas. Moncong pistol di tanganku meniupkan asapnya, aroma mesiu bercampur dengan asap rokok yang telah memenuhi ruangan itu. Diikuti pula nanti oleh bau darah segar.

Aku berjalan pincang ke arah jendela, memandang ke luar, aku berada di lantai dua. Mudah sekali untuk lompat keluar dan mencari tempat aman, apalagi aku mulai mendengar gerombolan musuh berlari ke arah sini. Tapi aku berpikir lagi, dengan kini aku menjadi musuh bagi segenap isi bumi, apa memang perlu aku bertahan hidup lagi. Semua hidup yang kukira sudah sempurna, hingga lebih indah dari surga, semua sirna, bahkan rekayasa.

Aku tetap melihat keluar jendela, nampak pagi menyingsing dan siang menjelang. Masihkah dunia di luar sana punya tempat untuk aku hadir lagi? Sementara langkah-langkah musuh makin dekat, dan bau mesiu makin pekat.

Hamzah Zhafiri Dicky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s