Anak Dari Negeri Hujan

rain

Ada yang aneh, dalam beberapa hari, dalam beberapa babak, pikiran aku berkelana dalam beberapa zona ruang dan waktu. Secara fisik aku tidak berubah kedudukan, masih di sini, di kota pelajar dan menjalankan pekerjaan santai selama liburan. Tapi pikiran dalam kepala ini ingin menelusuri tempat dan waktu yang pernah ia lalui. Lucu, padahal aku tidak setua itu.

Apa kamu menyukai hujan? Aku suka sekali. Kebetulan memang aku tumbuh besar di kota dengan curah hujan yang tinggi.

 Hujan itu ajaib. Dia membawa kesejukan dalam terpaan airnya yang lembut. Dia indah, rintik-rintiknya yang menabrak tanah menciptakan pemandangan titik-titik yang unik. Dia juga merdu, ya, suaranya merdu dan mesra. Baik ia rintik maupun deras, suaranya yang mematuk-matuk permukaan bumi menimbulkan alunan melodi yang mistis. Melodi yang acak tidak beraturan, tapi natural dan harmonis dalam kesinambungan alam.

Suatu malam aku sedang menikmati hujan. Menurut penelitian, suara hujan memang bisa memberi efek terapis bagi kerja otak, membuat pendengarnya mengingat masa lalu. Entah itu benar atau tidak aku tidak tahu, tapi tidak ada salahnya mencoba. Dalam hujan itupun aku menghanyutkan diri di dalamnya. Pelan-pelan aku pandangi titik demi titik air dari langit, terjun ke bumi dengan kecepatan tinggi, berkali-kali, tanpa henti, dan bumi hanya dapat pasrah menerima nasibnya. Perlahan aku rasakan terpaan angin dari hujan, membawa uap air yang mengelus halus pori-pori kulitku, memberi efek nyaman yang membuaikan. Terakhir, aku pun menikmati suara merdunya. Membiarkan harmoni lagu yang dinyanyikan hujan mengisi relung-relung pikiran. Resonansi suara hujan terasa memantul-mantul di tiap koridor benak ini. Tiba-tiba semuanya mengabur. Lingkungan fisik di sekitarku menghilang, teman di sebelahku lenyap, tiba-tiba hanya tinggal aku dan lorong zona tempat dan waktu.

 Aku pun melihat diriku di tempat dan waktu yang lalu. Aku adalah anak kecil biasa saat sekolah dasar, tidak pernah menjadi siapa-siapa. Dikenal oleh teman sebaya sebagai orang yang tidak terkenal, hahaha. Aku lebih suka hidup di perpustakaan. Penjaga perpustakaan sangat hafal denganku dan tempat aku biasa duduk. Aku tidak menolak pergaulan, memang manusia yang menolak keberadaanku.

Lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya tidak jauh berbeda. Aku tetap pendiam dan tidak populis. Tapi aku mencoba untuk lebih terbuka. Aku tunjukan jati diriku sebagai pemain teater yang ekspresif. Mereka boleh saja memandangku sebelah mata di kehidupan biasa, tapi bila aku sudah bertemu panggung, aku akan berubah. Aku suka puisi, aku suka akting, main drama, aku bahkan suka membuat koreografi. Mungkin aku memang penerus ayahku yang sutradara.

Dengan tenang, masih dalam bimbingan hujan aku menonton diriku sendiri tampil di panggung.

Sekolah menengah atas aku berubah total. Aku mencoba menjadi lebih populis. Aku berorganisasi, mencari hobi dan orang yang berhobi sama. Aku suka dengan pelajaranku dan mencoba lebih aktif belajar. Apa aku mulai berkenalan dengan cinta? Tidak juga. Adajuga beberapa adegan diriku sendiri pada masa itu, yang mungkin tidak perlu kutuliskan.

Dalam mencari tempat kuliah aku mulai menampakan diriku yang sesungguhnya. Seseorang yang menghargai hidup, karena hidup memang terbatas. Aku yang tidak pernah menjadi siapapun dalam zona waktu kapanpun, kini ingin mencoba meraih cita-cita. Aku banyak mendekatkan diri pada kekuatan tidak kasatmata. Tidak lupa menikmati hujan tiap kali mengevaluasi hasil usaha dan belajarku untuk menempuh SNMPTN dulu. Meminta izin pada Dia untuk melanjutkan perjalanan terjal ini.

Dapat kuingat diriku menempuh segala proses melelahkan yang tidak terhitung. Belajar untuk UN dan SNMPTN, bangun pagi hari, sekolah, pulang ikut tambahan pelajaran, juga ikut bimbel, berjalan ke rumah jalan kaki, sambil hujan melewati jalan setapak, menginjak air genangan, basah kuyup larut maghrib, dan belajar lagi hingga jam 12 malam, untuk melanjutkan hal yang sama besok pagi.

Sekali seumur hidupku akhirnya aku memperoleh sesuatu yang berarti. Aku memulai hidup baru sendirian. Membuktikan pada dunia, bahwa aku ingin belajar menjadi lelaki.

Ya, lelaki yang berjalan sendirian. Dalam hujan.

Kesadaranku kembali ke masa kini, disinilah aku yang masih menikmati hujan. Aku melangkahkan kaki dan berjalan-jalan. Aku pun mulai berlari-lari kecil menembus hujan, langsung kusadari betapa kecilnya aku. Seorang anak laki-laki kecil yang selalu kesepian. Hanya punya hujan untuk menemani dan diajak bermain.

Kembali kulihat diriku di masa lalu, saat aku sedih, hujan turun mengiringi perjalananku pulang ke rumah. Saat aku senang, hujan pun turun merayakannya bersamaku. Terakhir saat aku meninggalkan kotaku, hujan turun lagi. Dia mengucapkan selamat tinggal.

Hujan membantuku untuk beristirahat malam ini. Sejenak saja berhenti memikirkan rutinitas dan tantangan di masa depan. Berhenti meresahkan tanggung jawab dan tekanan. Sejenak saja hujan mengajakku melihat ulang langkah yang telah kuambil dan jejak yang kutinggalkan.

Sudah kemana aku berjalan selama ini? Kemana arahnya? Apa yang telah kutinggalkan pada orang-orang yang dulu kukenal? Berpikirlah diri, berpikir…

Terbayang di balik hujan wajah-wajah keluargaku. Ayah, ibu, adik. Apa kabar mereka? Aku masih harus membanggakan mereka segera.

Adik, kamu sudah besar, pergilah ke ujung dunia. Berkembanglah dengan lebih baik.

Ayah, masih kuingat pesan terakhirmu tentang menjadi laki-laki yang sesungguhnya. Menjadi lelaki dewasa yang hanya pasrah pada Tuhannya dan tidak takut pada tantangan hidup. Lelaki yang hanya meminta pada Tuhan, termasuk meminta rekan hidup.

Ibu, aku kangen dengan ibu, aku masih mau bermanja-manja dengan ibu. Menyandarkan kepala di kaki ibu, mendengarkan kata ibu apa arti menjadi hamba Tuhan, dan menjadi lelaki yang pantas dicintai perempuan.

Terbayang di balik hujan wajah teman-temanku. Teman yang lalu, teman sekarang, teman yang akan datang.

Teman dari tempat bermainku dulu, maafkan aku, aku harus pergi, bila waktu mengizinkan, kita pasti akan bermain lagi. Teman yang sekarang, maaf atas kekuranganku, maaf pula atas waktu bermain kita yang tiap hari harus aku kurangi. Teman di masa depan, aku siap menyambutmu. Siapapun kamu aku akan senang berteman, selalu senang.

Terbayang di balik hujanmuncul wajah penguasa tidak kasatmata. Dialah pemilik Bumi dan Langit, yang menciptakan segala sesuatu, dari mulai partikel hingga kosmos. Aku yang hanya ciptaan kecilnya ini hanya dapat menyerah pada-Nya. Tunduk dengan kesungguhan hati mengingat aku hanya segunduk tanah kotor yang beruntung dihembuskan nyawa oleh-Nya. Berapa kali dalam hidup ini aku melanggar janjiku pada-Nya. Maafkan aku Paduka…

Tiba-tiba sesosok wajah lain muncul di balik hujan. Sebuah wajah yang memiliki nama. Nama yang tidak sanggup aku ucapkan. Wajah yang tidak mampu aku gambarkan. Sungguh, lidah ini terlalu kotor untuk menyebut namanya. Bahasa manusia pun tidak bisa mendeskripsikan wajahnya. Betapa aku rindu pada wajah itu

Aku memikirkan itu terus-menerus, sementara hujan makin deras. Titik-titik hujan menusuk-nusuk atas kepalaku bagaikan paku-paku kecil. Aku tidak paham kenapa aku tetap merasa hampa. Apakah mungkin karena aku terus menuntut manusia? Kerap kali mengajak manusia untuk bersamaku, memaksanya untuk peduli padaku, mengancamnya untuk berkorban untukku. Betapa salah, betapa harusnya tidak seperti itu.

Harusnya aku yang menghampiri manusia, peduli pada mereka, berkorban untuk mereka. Harusnya aku mau memberikan segalanya begitu saja, tanpa perlu ada ekspektasi berikutnya. Ya, itulah jawabnya. Sekarang meski kau berada setengah pulau dari ragaku, ataupun setengah langkah dari kakiku, pengabdianku akan tetap sama. Meski aku tahu kau tidak memikirkanku, itu tidak masalah, asal kau biarkan aku memikirkan kamu.

 Aku yakin akan banyak lagi kalimat-kalimat yang lahir, bila aku bertemu hujan. Sayang, hujan sudah reda. Tidak ada lagi air dari langit yang bisa menyembunyikan setitik air hangat yang menggumpal di mata. Air itu turun menelusuri pipi secara perlahan dan sekejap hilang, bagaikan percikan air terakhir dari sungai yang akan mati.

Perkenalkan, aku anak dari negeri hujan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s