Koperasi, Dalam Pengertian Sederhana

link-exchange

Kata “koperasi” secara umum mengacu pada sebuah konsep tentang bentuk lembaga ekonomi alternatif. Sejak zaman dahulu, manusia memang memiliki kecenderungan untuk berkumpul bersama, mengerjakan pekerjaan bersama, menyumbangkan kontribusi yang mereka miliki demi menyelesaikan hajatan bersama. Begitu pula dengan koperasi, individu-individu yang sepakat mendirikan koperasi akan berkumpul bersama, menyatukan modal yang mereka miliki, untuk membangun sebuah usaha yang dikelola dan dinikmati keuntungannya bersama. Biasanya koperasi menjadi pilihan bagi masyarakat yang tidak memiliki modal besar namun ingin membangun usaha demi kesejahteraan dirinya. Koperasi juga tidak mengenal kasta dan sangat menjunjung demokrasi, artinya semua anggota dianggap sama dan sama-sama punya hak bicara dan suara yang setara. Tidak seperti perusahaan ekonomi biasa yang kekuatan suara pemiliknya ditentukkan oleh banyaknya saham yang dimiliki.

Dilihat dari konteks sejarahnya, koperasi memang berdiri sebagai sistem ekonomi alternatif atas sistem ekonomi kapitalis. Robert Owen, seorang cendekiawan dari Inggris, adalah yang pertama kali mencetus sistem ini. Ia melihat revolusi industri yang terjadi di Inggris menimbulkan ketimpangan antara pemiliki modal dan pekerja. Sistem kapitalisme yang tengah berlaku jelas sangat menguntungkan pemilik modal yang menguasai alat-alat produksi, dan memarjinalisasi buruh-buruh pabrik yang hanya dapat bekerja menjual tenaga mereka. Owen pun memiliki ide sebuah sistem ekonomi yang dibangun buruh-buruh tersebut. Dalam sistem ini, buruh-buruh yang tidak memiliki banyak uang bisa membangun usaha sendiri yang dapat menyaingi industri-industri besar. Caranya, mereka berkumpul dalam forum bersama, mengumpulkan dana, tenaga, dan ide, kemudian bekerja secara kolektif, egaliter, dan demokratis.

Konsepsi awal yang dibangun Owen ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh ahli ekonomi di masa depan. Tidak lama lahirlah International Cooperative Alliance, sebuah aliansi Koperasi tingkat internasional yang menjadi ujung tombak gerakan ekonomi koperasi dunia. Keunikan dari gerakan ekonomi Koperasi adalah ia merupakan sebuah konsep ekonomi alternatif di tengah gejolak ekonomi kapitalis di dunia. Artinya, ia memiliki nilai dan prinsip tertentu yang tidak sekedar mencari laba. Bukan berarti ia dilahirkan sebagai seteru abadi atau oposisi gerakan kapitalis. Tapi sekali lagi, ia adalah alternatif bagi gerakan perekonomian yang masih ingin memanusiakan masyarakat. Ketika tren kapitalisme bergejolak, segala sesuatu dipasarkan, segala sumber daya baik alam dan manusia dieksploitasi, demi mewujudkan akumulasi modal, Koperasi muncul untuk mempertahankan nilai murni dari ekonomi: mencari kesejahteraan bersama.

Ada banyak manfaat yang dapat dirasakan masyarakat ketika mulai berkoperasi. Pertama, Koperasi bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya. Beragam kegiatan dilakukan, aktivitas bisnis yang dapat dilakukan anggota, pelatihan dan pendidikan bagi anggota, hingga kajian untuk menyokong gerakan koperasi itu sendiri. Kedua, kepemilikan dalam koperasi selalu setara antar anggota, tidak peduli berapapun anggota menyetorkan modalnya. Ini menyuratkan bahwa penanaman investasi tidak meninggikan derajad kepemilikan seorang anggota. Aspek humanitas seolah masih dipertahankan oleh Koperasi. Menghitung manusia sebagai manusia, bukan seberapa besar modal yang dimiliki. Ketiga, Koperasi secara unik menempatkan anggotanya sebagai pemiliknya, dan sebagai pelanggan abadinya. Seorang anggota Koperasi yang loyal diharapkan dapat memanfaatkan Koperasi miliknya sendiri sebagai tempatnya berbelanja. Potongan harga dan bonus pun harus diberikan oleh Koperasi bagi anggotanya yang berbelanja di koperasinya sendiri. Belanja anggota ini pun akan menjadi perhitungan bagi pembagian sisa hasil usaha yang akan diterima. Keempat, sebagai sarana pembagi kesejahteraan lainnya, Koperasi akan membagikan Sisa Hasil Usahanya selama setahun kepada anggotanya. Ini membuktikan kembali identitas Koperasi yang melakukan kegiatan bisnis dari anggotanya, dan keuntungannya dibagikan kembali ke anggota.

Membaca gerakan Koperasi hari ini, baik dalam lingkup dunia maupun Indonesia, jelas masih belum terlalu dekat menuju ekspektasi. Korporasi raksasa non-koperasi masih merajai pasar dan sirkulasi modal. Tidak bisa disalahkan karena nyatanya korporasi masih menjadi yang paling berjasa dalam penyediaan lapangan kerja dan distribusi kesejahteraan. Tapi nyatanya Koperasi tidak mau kalah untuk menggeliat. Taktik Koperasi mungkin cukup unik, seringkali Koperasi menempatkan korporasi besar sebagai mitranya, baik untuk bekerjasama maupun meredam persaingan tidak sehat. Hasilnya, koperasi-koperasi besar mulai tumbuh di beberapa bagian dunia. Di Finlandia ada Koperasi yang bergerak dalam bidang produksi alat komunikasi, kita mengenalnya sebagai Nokia. Di Jepang muncul Koperasi dalam bidang automotif, kita mengenalnya sebagai Nissan. Koperasi dengan konsep ekonomi kerakyatan demokratisnya tumbuh subur di negara Eropa skandinavia, seperti Swiss, Finlandia, Norwgia, Denmark, dan lain-lain. Di Asia juga berkembang Koperasi di Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia.

Sementara itu gerakan Koperasi di Indonesia masih harus melalui jalan panjang. Minimnya wawasan sumber daya manusia tentang esensi Koperasi membuat koperasi sebatas dimaknai sebagai lembaga pencari laba. Koperasi Indonesia kerap kali berfokus dalam ekspansi bisnisnya, akumulasi modal diutamakan tanpa memperhitungkan aspek kebutuhan anggota. Padahal, Koperasi di Indonesia menyimpan banyak potensi. Koperasi-koperasi yang kerap lahir dalam konteks kebutuhan masyarakat selalu dapat tumbuh menjadi koperasi yang mandiri. Seperti Koperasi pegawai, Koperasi TNI/Polri, Koperasi Simpan Pinjam Unit Desa, Koperasi Tani, dan lain-lain. Secara tematik koperasi Indonesia lahir menurut identitas pendirinya. Ini menjadi potensi yang sangat besar mengingat Koperasi digunakan oleh masyarakat anggotanya sesuai dengan profesinya, misalnya Koperasi Tani yang bergerak dalam bidang agribisnis, dapat menjadi wadah bagi anggotanya yang petani untuk menjual hasil palawija dan membeli pupuk maupun fasilitas pertanian.

Tentunya tidak pula bisa disalahkan bila Koperasi di Indonesia belum bisa sebesar Koperasi di Finlandia, Jepang, atau bahkan Malaysia. Selama koperasi Indonesia masih mau menjaga identitas dan prinsipnya, bekerja atas nama anggotanya, itu akan lebih baik ketimbang sekedar membuat ekspansi bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s