Konstruksi?

10503774-brain-lobe-sections-made-of-cogs-and-gears-representing-intelligence-and-divisions-of-mental-neurolo

Alkisah ada seorang dosen, well, gak usah disebut namanya, dosen yang cukup kompleks pemikirannya. Hmm, dalam beberapa dialektika aku sering tidak sependapat dengannya. Pikirannya radikal, keras, begitu mengejutkan, dan lain-lain, tapi sangat menarik untuk dipelajari. Salah satu analisisnya yang mungkin selalu kuingat, adalah bahwa menurutnya pikiran manusia sangat mudah terkonstruksi. Konsepsi pikiran seorang pribadi dapat dibangun secara sengaja oleh kepribadian lain, atau oleh dirinya sendiri. Misalnya begini (ini contoh dari dia sendiri), ketika misalnya ada sebuah perusahaan hiburan ingin melakukan penjualan besar-besaran ke pasar. Ya sudah, mari pikirkan sebuah bentuk hiburan yang akan dijual. Misalnya apa? Keroncong? Oke, para pengusaha besar siap dengan keroncongnya, dibuatlah musik keroncong, dan dikonstruksilah masyarakat untuk mau mengkonsumsi keroncong. Iklan dan media menampilkan keroncong dimana-mana, keroncong dibuat sebagai tren baru yang semua orang harus tahu. Dengan repetisi doktrin-doktrin keroncong ini, masyarakat pun terkonstruksi pikirannya, dipenuhi dengan kegilaan pada keroncong. Mereka mau membeli segala jenis produk keroncong, musiknya, albumnya, poster-poster artis keroncong, dan seterusnya.

Hmm, jadi teringat ketika dosenku ini menulis tentang analisanya mengenai demam KPOP yang pernah meledak di Indonesia beberapa waktu dulu. Ini mungkin dasar teori yang ia pakai, ketika mengkritisi demam KPOP yang menyebar di kalangan muda-mudi.

Jadi intinya, pikiran manusia dapat dikonstruksi, dan realitas yang dilihat manusia adalah konstruksi manusia lain untuk mempengaruhi sesamanya. Ketika aku bertanya dengan polosnya, orang kan juga punya selera, dia bisa saja suka keroncong atau tidak? Dosenku pun tertawa, memang seharusnya masyarakat itu punya daya kritis semacam itu, tapi nyatanya tidak. Tidak ada yang benar-benar kebebasan selera dalam hidup masyarakat, semuanya konstruksi.

Oke, mari kita berbelok sebentar. Dari pembahasan yang menarik ini, sebenarnya bukan konspirasi ini yang ingin aku bahas. Jadi kita buang dulu imajinasi kita tentang teori hegemoni kontemporer yang keren ini. Kita bisa membahasnya nanti di segmen Sosiologi. Hmm, ngomong-ngomong soal konstruksi, aku heran dengan konstruksi yang diciptakan pikiranku sendiri. Maksudku, coba kalian ingat-ingat seorang sahabat kalian, tentu sekarang di mata kalian dia adalah orang yang bla bla bla, best friend ever, and some shit. Tapi bagaimana kalian memandangnya dulu saat pertama bertemu? Pasti kita mengomentarinya secara lain, memandangnya dan berpraduga. Kemudian setelah kita  sudah bersahabat lama dengannya, coba ingat-ingat kembali pandangan pertama dan awal-awal kita tentangnya, dan tertawalah.

Kalau bingung, langsung ke intinya saja. Coba bayangkan seseorang yang sedang kamu sukai. Gebetan, taksiran, apalah kamu menyebutnya, oke aku yakin kamu memikirkan sebuah nama sekarang, dan sebuah muka. Sudah berapa lama kamu menyukainya? Sekedar suka atau sedemikian jatuh hati? Hahaha, apapun itu, coba kalian baca ulang pandangan kamu terhadapnya selama ini. Dari mulai pertama bertemu, pertama menyukai, sampai hari ini. Lucu sekali melihat pandanganmu terhadap dirinya memang dapat berubah-ubah. Pikiranmu mengkonstruksi pikiranmu sendiri.

yo dawg

Bagaimana ceritanya seorang anak lelaki gendut berkulit kusam hari ini dapat terlihat seperti pangeran tampan? Bagaimana seorang gadis cebol berjerawat dapat terlihat seperti bidadari dari surga? Semuanya tentang persepsi, dan konstruksi. Aku sendiri sebagai laki-laki punya pandangan yang agak jual mahal mengenai arti cantik. Ketika ada perempuan yang kata teman-temanku tidak cantik, aku akan bilang memang tidak cantik. Ketika ada perempuan yang kata temanku biasa saja, aku akan bilang sangat tidak cantik. Bahkan ketika temanku memandang cantik seorang perempuan tertentu, wew, aku masih memandangnya jelek. Bukan karena aku punya nilai perfeksionis, bukan pula karena aku, haihh, tidak suka perempuan -__-“ tapi karena aku tidak menyukai atau bahkan mengenal perempuan itu.

Hmm, berarti sebenarnya ini bisa kusimpulkan dengan sangat menarik. Ketika aku membayangkan sekarang tentang orang yang kusuka, aku ingat sekali betapa aku memandangnya sebelah mata saat pertama bertemu. Bahkan berbulan-bulan setelahnya, kurasa dia bukan siapa-siapa. Tapi dengan repetisi pertemuan yang terjadi, obrolan-obrolan yang interaktif, hmm, dia jadi terlihat berbeda. Damn, bahkan lebih dari itu. Bagaimana ceritanya sekarang wajahnya selalu menutupi pandanganku kemanapun aku menengok? Namanya selalu membuat telingaku berdiri? Melihat dirinya bisa menyembuhkanku dari beragam penyakit kronis depresi dan frustasi. Kenapa begitu? Menarik. Mungkinkah memang aku menyukai seseorang bukan karena menurutku dia cantik (karena tidak penah ada orang yang kuakui cantik pada pandangan pertama), tapi justru karena aku menyukainya, dia terlihat sangat cantik.

Hmm, konstruksi, fantastis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s