Para Penguasa Dunia (Review dokumenter “New Rulers of the World”)

labor

Isu-isu mengenai pembangunan, ketimpangan, perburuhan, dan eksploitasi selalu menjadi bahasan yang hangat, bahkan sejak Revolusi Industri. Secara sederhana, bayangkan sebuah zaman di masa lalu dengan peradaban manusia pra-industrialisasi yang stagnan. Segala bentuk pekerjaan, produksi barang, pengolahan barang mentah, jual-beli serta konsumsi pada masa itu dilakukan dengan sewajarnya, menurut kebutuhan masing-masing. Kemudian terjadi perubahan radikal di masa revolusi industri. Mesin uap ditemukan oleh James Watt untuk menggantikan tenaga manusia di pabrik dan tambang-tambang. Niat mulia tersebut telah membebaskan banyak pekerja anak yang dipekerjakan secara tidak layak, namun kemudian juga ikut merubah tren produksi pada masa itu. Proses produksi barang maupun pengolahan barang mentah menjadi berkali-kali lipat lebih efektif dan efisien. Biaya produksi yang dapat ditekan serta hasil produksi yang jauh lebih banyak dan berkualitas telah merevolusi pola produksi industri Eropa pada masa itu.

Dampak dan efek samping Revolusi Industri secara sosiologis tidak dapat dielakkan. Mungkin justru fenomena sosial yang terjadi pada masa itu telah menjadi fondasi bagi teori dan frasa-frasa awal Sosiologi. Dilihat dari perspektif pembangunan misalnya, nampak jelas adanya ledakan pembangunan luar biasa di daerah pusat-pusat Eropa yang menjadi pusat industrialisasi. Produksi yang begitu membeludak telah memicu perkembangan, pembangunan, dan akumulasi modal dalam kegiatan perekonomian di kota-kota pusat. Sementara itu, daerah pinggiran yang bukan merupakan daerah industri, mengalami ketimpangan pembangunan yang nyata. Penduduk daerah pedesaan pun melakukan urbanisasi untuk ikut mencicipi kue ekonomi yang tengah populer. Dilihat dari perspektif perburuhan, muncul pemisahan yang nyata antara para pemilik modal dan pekerja. Dalam kacamata Marx, kaum kapitalis muncul dan menunjukkan kekuasaannya sebagai penguasa baru. Kapitalis menurut Marx adalah para pemilik alat-alat produksi, mereka menguasai modal-modal penentu kegiatan produksi, dan konsekuensi logisnya mereka yang menguasai alur produksi. Sementara di sisi lain, Marx melihat adanya kaum pekerja. Secara sederhana, mereka adalah orang yang tidak memiliki alat produksi maupun modal penentu kegiatan produksi. Secara logis, mereka hanya dapat menjual tenaga mereka untuk bekerja mengoperasikan alat produksi kaum kapitalis. Relasi antara kaum kapitalis dan pekerja ini menurut Marx bersifat eksploitatif. Kaum kapitalis mendapat keuntungan yang luar biasa dari proses produksi yang dilakukan pekerja, sementara pekerja mendapat timbal-balik yang tidak seimbang. Upah mereka dianggap tidak seberapa dengan tenaga yang mereka keluarkan. Belum lagi fenomena alienasi atau pengasingan, ketika pekerja diasingkan dari kegiatan kerja mereka. Bekerja dan berkarya yang seharusnya menjadi wujud ekspresi para pekerja, dirombak oleh sistem kapitalisme menjadi berorientasi profit menguntungkan kaum kapitalis

.Karl-Marx

Lebih lanjut lagi, dikotomi kapitalis dan pekerja ini tidak menjadi sekedar relasi pekerjaan industrial, namun berkembang menjadi kelas sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Marx menyoroti bagaimana kaum kapitalis telah menjadi sebuah kelas sosial borjuis, kelas sosial yang memonopoli alat produksi yang dimiliki, mempekerjakan dan mengeksploitasi tenaga buruh, serta melakukan penumpukan modal secara akumulatif, membuatnya kokoh sebagai pemuncak kelas sosial. Sementara para pekerja atau buruh tergabung sebagai kelas proletar. Kelas sosial yang cenderung lebih mayoritas, namun sangat marjinal. Minimnya modal ataupun alat produksi yang mereka miliki membuat daya tawar mereka dalam ekonomi menjadi lemah. Tenaga kerja menjadi satu-satunya yang dapat mereka tukar untuk menyambung hidup. Mereka pun berada dalam posisi bawah di kelas sosial yang ada, dengan kekayaan dan kekuasaan yang minim dan relatif dieksploitasi oleh kaum borjuis, sekaligus memiliki ketergantungan terhadap mereka.

Bertahun-tahun perspektif dan analogi Sosiologi dalam fenomena masyarakat industri tumbuh dan berkembang dengan dasar tradisi Marx seperti diatas. Beberapa pengembangan dilakukan oleh Dahrendorf, Wright Millis, Friedmann, Peter Oakley, Paul, Ritzer, ahli-ahli Neo-Marxian, dan lain-lain, namun pola eksploitasi dan ketimpangan seolah tidak banyak melenceng. Dalam konteks kontemporer, analogi Marx yang paling klasik sekalipun masih bisa menunjukkan kecocokannya. Namun kini cakupannya telah bergeser dalam lingkup yang lebih luas. Praktik perindustrian kapitalistik telah melingkupi masyarakat internasional. Ketika awalnya kapitalisme berada dalam relasi internal masyarakat Eropa, kaum borjuis Eropa vis a vis buruh proletar Eropa, kini meluas mewarnai relasi antar negara. Negara maju yang sudah terlebih dahulu baik industrinya, berposisi sebagai kaum kapitalis. Sementara negara berkembang yang sedang mengalami masa pasca kolonial, masih kesulitan melakukan pembangunannya, sehingga masih terbelit dengan masalah kemiskinan dan minimnya kesejahteraan. Kurangnya kegiatan industri dalam negeri membuat masyarakat negara berkembang terposisikan sebagai pekerja proletar. Dengan kondisi negara berkembang yang belum mapan semacam itu, ditambah lagi ledakan populasi yang kerap dialami, serta pendidikan yang belum mampu menciptakan tenaga terampil, membuat pekerja-pekerja di negara yang bersangkutan tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Para pekerja itu dapat begitu mudah dipekerjakan dengan upah rendah. Industri-industri raksasa di negara maju pun bergerak menginfiltrasi negara berkembang, mereka memindahkan pabrik-pabriknya di daerah negara-negara semacam itu. Dengan begitu, industri dapat menyerap buruh murah untuk mengoperasikan alat produksi dan menghasilkan keuntungan maksimal bagi pemilik modal di negara maju.

Film dokumenter “New Rulers of the World” menceritakan praktik empiris industri negara maju dalam mengeksploitasi buruh di negara berkembang, yaitu Indonesia. Diceritakan secara sistematis bagaimana korporasi brand terkenal dari negara barat memiliki taktik untuk melakukan produksi dengan biaya seminim mungkin. Dipilihlah Indonesia, sebuah negara berkembang yang memiliki populasi penduduk yang besar dan padat, tingkat pengangguran yang tinggi, dan tingkat pendidikan yang rendah. Ini membuat buruh Indonesia tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Melihat kesempatan ini, produk industri Barat pun merelokasi pabriknya ke Indonesia, dengan harapan dapat mempekerjakan buruh yang murah. Uniknya, pemerintah Indonesia justru tidak memiliki pilihan lain kecuali menyambut baik kedatangan industri ini. Bagaimana tidak, industri lokal jelas belum mampu menopang kesejahteraan populasi tenaga kerja yang meledak.

Tentu kondisi ini menunjukkan secara gamblang dejavu atas analisis Marx di masa silam. Betapa tidak, atas dasar memperoleh keuntungan maksimum dengan meminimalkan biaya produksi, korporasi dapat dengan seenaknya menghapus nilai-nilai humanitas. Korporasi dapat dengan mudah mendirikan industrinya di daerah penuh pekerja upah rendah, mengeksploitasi tenaga kerja tersebut untuk bekerja, dan mengupah mereka tentunya dengan sangat rendah. Film ini juga membuktikan praktik eksploitasi yang dilakukan korporasi dengan mempekerjakan buruh secara tidak wajar. Fasilitas tempat kerja yang bersuhu sekian derajat dan waktu kerja yang melampaui delapan jam, untuk itu semua mereka diupah 500 rupiah untuk tiap sepatu yang dibuat (dalam film ini dicontohkan produk merek Nike yang disorot). Bandingkan ketika Nike menjual sepatu itu ke pasar dengan harga diatas 500 ribu rupiah. Ketimpangan terms of trade tersebut menjadi bukti eksploitasi yang nyata, pekerja jelas teralineasi, tersiksa malah, oleh kerjanya sendiri. Ditambah lagi imbalan yang diterima pekerja tidak sebanding dengan kerjanya.

Mungkin studi kasus dari eksploitasi buruh di pabrik Nike ini hanya salah satu gejala mikro dari pemetaan alur kapitalisme internasional. Bila ditarik lebih luas dan makro, ini adalah hasil dari bentuk utama piramida kapitalistik multinasional. Seperti yang dijelaskan di atas, negara-negara maju yang menguasai kepemilikan modal menghegemoni negara berkembang yang diposisikan proletar. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah relasi antar pemerintah negara maju mengeksploitasi pemerintah negara berkembang. Sesungguhnya, seperti yang biasa terjadi di negara maju, korporasi raksasa dan lembaga finansial internasional memiliki pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang pemerintah. Bahkan mungkin pemerintah dapat dengan mudah dipengaruhi oleh korporasi. Kemudian, muncul pula lembaga finansial seperti IMF maupun Bank Dunia, yang seolah memberi banyak bantuan kepada negara berkembang melalui pinjaman. Pada kenyataannya, negara yang terlibat hutang dengan lembaga tersebut justru semakin melarat karena harus membayar hutang dengan bunga yang terus bermekaran. Hari ini tidak ada lagi negara (states) maupun masyarakat sipil (Civil Society).

Tidak ada negara Amerika, atau Indonesia, atau Inggris, atau Etiopia, atau Thailand. Apa yang ada hari ini adalah Nike, Exxon, IMF, World Bank, Chevron, Adidas, British Petraoleum, dan sebagainya. Merekalah negara-negara di dunia ini.

greed-327

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s