Sociology for Dummies

person-with-question-mark-backgrounds-wallpapers

Sosiologi itu apa ya? Ilmu seperti apakah dia? Apa saja objek dan subjek kajiannya? Mempelajari apa saja? Dan pos pekerjaan seperti apa yang dapat diisi oleh orang yang menguasai ilmu ini? Pertanyaan seperti itu tentu sangat wajar dilontarkan oleh orang awam yang baru mencoba memahami Sosiologi.  Ada ribuan buku dan literatur karangan ilmuwan-ilmuwan kondang yang akan berlomba-lomba menjelaskan pada kita tentang Sosiologi, dari sejarahnya, identitasnya, dan substansinya.

Memang akan selalu sulit memahami Sosiologi ketika kita baru mulai mempelajarinya. Apalagi ilmu ini terhitung cukup muda umurnya, dan founding fathersSosiologi adalah ilmuwan-ilmuwan interdisipliner ilmu, yang tentu memberi pengaruh pada Sosiologi dari berbagai macam perspektif ilmu. Seiring dengan perkembangan waktu, Sosiologi terus berubah dan mencoba berkembang dari waktu ke waktu. Ilmuwan Sosiologi dari masa ke masa secara kontinuitas mewarisi estafet ilmu ini dengan memberi masukkan dan koreksi di tiap masanya. Sebut saja Auguste Comte, Max Weber, Karl Marx, dan Emile Durkheim sebagai pendiri fondasi utama, dilanjutkan oleh Manheim, Simmel, Parson, Kingsley, Wright Millis, dan sekian deret seterusnya.

Layaknya sebuah ilmu sosial yang memang selalu kritis, bahkan Sosiologi pun harus kritis pada dirinya sendiri. Setelah sekian dekade berdiri, mungkin hari ini Sosiologi masih mencari definisi tepat bagi dirinya sendiri. Terlebih sebagai ilmu sosial yang mapan, ia harus menegaskan apa kegunaannya bagi masyarakat, layaknya ilmu-ilmu sosial lain seperti ekonomi, psikologi, sejarah, dan lain-lain.

Auguste_Comte

Mungkin cara yang paling mudah memahami Sosiologi adalah memahami konteks sejarah pendiriannya. Sosiologi awalnya dicetus oleh Auguste Comte,  seorang filsuf dari Perancis yang juga cendekiawan eksakta. Dia mencetus tentang perlunya sebuah ilmu yang bermodel eksakta namun mempelajari masyarakat. Awalnya Comte menyebut nama Fisika Sosial, namun ternyata nama tersebut sudah dipakai oleh ilmuwan lain. Akhirnya ia menyebut nama Sosiologi, yang merupakan gabungan dari kata Soscios (Teman) dan Logos (Ilmu). Ide utama bagi ilmu pengetahuan ini adalah menggunakan model ilmu pengetahuan alam yang ilmiah dan logis untuk mengukur dan menganalisa masyarakat. Pendekatan yang dicetuskan Comte ini disebut Positivisme.

Dalam analisanya, Comte memandang bahwa masyarakat layaknya sel makhluk hidup, akan berkembang dari sel sederhana menuju kompleks. Perkembangan masyarakat ini digambarkan Comte dalam tiga tahap masyarakat yang sistematis:

Teologis: adalah tahapan dimana masyarakat belum sepenuhnya dewasa, masih terpengaruh dogma-dogma agama dan kepercayaan tradisional. Kehidupan masyarakat masih statis.

Metafisis: Masyarakat tidak sepenuhnya terpengaruh dengan kepercayaan maupun mitos-mitos dewa-dewa tradisional. Perlahan masyarakat mulai berpikir ilmiah, namun masih mempercayai kekuatan-kekuatan abstrak di luar dirinya. Fenomena-fenomena di sekitar masyarakat tidak lagi dipahami secara dogmatis sebagai pengaruh kekuatan gaib, namun dimaknai sebagai pengaruh kekuatan abstrak.

Positivistik: Masyarakat secara penuh dan dewasa memahami segala sesuatu dengan ilmiah dan akal sehat. Segala sesuatu yang tidak mereka pahami akan dicari tahu secara ilmiah, bukannya dipercayai sebagai ulah dewa ataupun kekuatan abstrak. Kehidupan masyarakat berjalan dengan dinamis dan penuh perubahan.

Dalam tahap positivistik, Comte berargumen bahwa tahap ini adalah tahap kesempurnaan manusia. Masyarakat secara dewasa dan dinamis berkembang menjadi begitu maju dalam pengetahuan dan kompleksitas kehidupan, tidak lagi terjebak pada dogma-dogma sempit. Comte bahkan menegaskan bahwa Sosiologi adalah wujud kesempurnaan positivisme tersebut, Sosiologi baginya adalah agama humanitas yang akan dianut masyarakat positivis moderen.

Di luar kegilaannya tersebut, intinya Comte mencetus sebuah wacana tentang urgensi ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Nantinya wacana ini akan diteruskan oleh ilmuwan-ilmuwan berikutnya. Tentunya perkembangan Sosiologi tidak benar-benar menjadi “agama”, Sosiologi justru menjadi ilmu pengetahuan yang mempelajari apa yang ada pada masyarakat, agama hanya menjadi salah satu objek kajiannya.

Comte juga muncul dengan pandangan social static dan social dynamic. Karl Marx muncul setelahnya dengan analisis fenomenal tentang kapitalisme dan komunisme. Max Weber juga muncul dengan teori rasionalitas. Emile Durkheim pun demikian dengan sederet analisanya tentang kesadaran kolektif dan solidaritas. Namun itu sebatas teori-teori dari para ahli yang akan saya bahas di tulisan lain, inti dari tulisan ini adalah memberi gambaran dasar tentang apa itu Sosiologi.

Sesuai dengan yang dicetus oleh pendirinya, Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Dalam hal ini kita harus memahami objek masyarakat yang dimaksud untuk dipelajari Sosiologi. Ada dua jenis objek; objek material dan objek formal:

Objek material dalam sosiologi adalah manusia. Secara materi kita mempelajari manusia dan bukan hal lain. Objek material ini berarti persis sama dengan antropologi, psikologi, dan ilmu sosial lain, sama-sama berobjek manusia, lantas apa yang membedakan?

Objek formal dalam Sosiologi adalah interaksinya. Inilah yang membedakan antropologi yang objek formalnya adalah budaya, maupun psikologi yang objek formalnya adalah kejiwaan. Sosiologi menitikberatkan kajiannya pada interaksi antar manusia dengan segala dinamikanya. Baik itu antar individu, antar kelompok, ataupun kelompok dan individu.

Mungkin seperti itu pengertian dasar sederhana Sosiologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s