Alasan Kami Ada Disini

Ini adalah tulisan yang saya buat dalam curahan literatur di buku musyawarah besar Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung

 

“Jangan habiskan waktumu dengan menyesali apa yang tidak kamu miliki. Tapi habiskan dengan memikirkan apa yang bisa kamu perbuat bersama apa yang kamu miliki sekarang”

-Ernest Hemingway-

PS: “I show you what a man can do, and what a man endure” –Ernest on The Old Man and The Sea-

Pernahkah kalian berpikir kenapa kalian disini? Atas motif apa? Tujuan apa?  Ya, kita pasti punya alasan masing-masing. Kita punya cita-cita, hobi, passion, apapun itu yang menggerakan kita untuk menjadi manusia yang aktif dalam belajar dan berkarya. Nah, apa hubungan cita-cita dengan curlit gak jelas ini? Hubungannya, saya berniat untuk menceritakan alasan saya menjadi orang yang kalian lihat sekarang. Menjadi anak yang malas kuliah di Balairung, kadang-kadang ikut bimbel di Sosiologi UGM, dan sangat aktif menjadi aktivis koperasi di Kopm… ups,, ya intinya gitu deh :p

Bicara tentang cita-cita, motivasi, dorongan, atau apapun itu, saya harus menceritakan ulang kejadian sekitar 11 atau 12 tahun yang lalu. Saat itu saya dan keluarga sedang bersama menelusuri jalan di kota Jakarta dengan mobil kami. Kemudian mobil kami di stop oleh lampu merah, mulailah para pengamen, pengemis, pedagang serta segala varian yang ada memburu mobil-mobil di lampu merah itu. Saya pun melirik ke luar, dari jendela mobil saya melihat ada seorang ibu yang tengah berjualan minuman. Kemudian seorang anak kecil menghampirinya, mungkin itu anaknya. Anak itu mengatakan sesuatu, sepertinya meminta suatu hal, atau mengeluhkan suatu hal. Ibu tersebut nampak bersabar, kemudian merangkul anaknya dan mendekapnya dalam pelukan. Anaknya pun memeluk sayang ibunya, saling sayang dan saling kedinginan (waktu itu lagi malem-malem, kalo gak salah abis hujan).

Aku melihat adegan itu dari mobil, tanpa ada suara percakapan mereka yang bisa kudengar. Ibuku kemudian membelai aku dan berkata “tuh liat mas, orang miskin sekalipun hidupnya susah, tapi masih bisa hidup senang dengan saling menyayangi.” Aku termenung, mobil kami pun melaju pelan. Aku masih memandangi jendela dan melihat warna-warni kota Jakarta yang berkalap-kelip malam hari. Namun pikiranku masih mengingat ibu dan anak tadi. Aku tidak menyangka bahwa adegan itu akan menghantuiku seumur hidup. Mungkin kedengarannya sederhana, tapi andai kalian melihat itu dengan mata kalian, aku tidak percaya kalian bisa tahan untuk tidak menangis.

Orang yang memiliki agama itu cirinya adalah selalu berbuat baik. Dia selalu mau berbagi dan bersedekah di saat lapang maupun sempit. Demikian ibuku selalu mengajarkanku. Ibuku sering mengajakku berjalan di malam hari membagikan nasi bungkus untuk pemulung, buruh, kuli, gelandangan, dan orang-orang miskin lainnya yang tersebar di kota kami dan selalu kelaparan di malam hari. Kata ibuku, memberi makan akan lebih membantu dan mendidik untuk mereka, ketimbang kita beri uang mentah, kita tidak tahu nanti dibelanjakan untuk apa. Kebiasaan itu aku bawa hingga kesini. Melihat dan membantu orang yang kesusahan, kadang aku berpikir, keadilan macam apa yang memperbolehkan manusia untuk hidup melarat, menggelandang, kedinginan di malam hari, kepanasan di siang hari, dan kelaparan seharian. Pantaskah manusia untuk menderita? Untuk disakiti oleh dunia? Ah entahlah.

“gua pengen banget kehidupan kayak gitu gak ada lagi,” ucap seorang teman ketika kami sedang berjalan melewati sekumpulan orang jompo yang terlantar di jalanan. “Bisa, kita pasti bisa. Asal kita mau belajar dari sekarang, bekerja untuk masa depan, membawa kebermanfaatan bagi banyak orang,” kataku mantap ”kehidupan kayak gitu gak akan ada lagi! Omong kosong kalo ada yg bilang kemiskinan itu fungsional!”

Kita hidup dalam dunia kejam yang penuh dengan darah dan air mata

Yang manusianya senang menyiksa sesama, menelantarkan anak kecil dan nenek tua

Kita melihat manusia duduk nyaman di kursi empuk, bersahaja.

Manusia melihat sesamanya duduk di jalan kotor, terhina.

Manusia mengambil makan dalam hidangan indah melimpah,

Manusia lain mengambil makan mengais dari sampah.

Kenapa?

Keadilan macam apa?

Hukum apa yang mewujudkan demikian adanya?

Apapun itu, aku akan melanggarnya.

Aku tidak peduli betapa kau mengatakan tidak atau apa

Aku akan bekerja tanpa henti,

berapa tetes peluh, darah, dan air mata yang mungkin keluar tak peduli

 Berapapun waktu dan tenaga yang harus dihabiskan tak terasa berat.

Selama itu bisa menambah jumlah mereka yang bisa makan nasi hangat dan telur yang sehat.

Itu sudah cukup, jadi jangan tunjukkan padaku lagi anak kedinginan di pinggir jalan

Yang dipeluk oleh ibunya dengan kasih sayang, di suatu malam.

551226_3747958412084_1037694800_n

Inilah tujuan saya, dan pastinya tujuan kita semua. Kita adalah generasi gerakan pembawa perubahan. Anda muak saya yakin, begitu juga dengan saya, dengan semua yang sekarang ada. Dalam tiap bidang yang kita pelajari, dalam tiap sudut pandang yang kita ambil, dalam tiap dialektika yang kita kaji, yang ada hanya kejahatan, kecacatan, dan kebohongan. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Mudah saja, anda harus panik, harus marah, marah semarah-marahnya. Melihat manusia yang hina dan kejam. Jijik melihat apa yang tidak seharusnya terlihat. Mungkin memang sudah takdir bagi seorang pejuang untuk tidak melihat hasil perjuangannya. Tapi bukan berarti tidak berarti. B21 adalah rumah kecil bagi para pejuang itu. Bukan pejuang yang mengangkat senjata dan berperang, bukan juga pemuda vandalis yang membentuk masa dan merusak sana-sini, tapi kita adalah intelektual. Kita membangun peradaban dengan batu bata pengetahuan dan kerangka kemanusiaan. Kita mengkritik, bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memberi saran dan menyuarakan. Menulis untuk memberitahu orang-orang, memberi wadah bagi ruang diskusi dan intelektualitas. Kita tidak membenci siapapun, ya untuk apa? Kita hanya mau mengingatkan yang di bawah agar selalu menaati keteraturan, dan mengingatkan yang diatas tentang kewajiban mereka atas yang di bawah, siapa tahu di bawah sana masih ada ibu dan anak yang kedinginan di pinggir jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s