Tuan Herman Berkunjung ke Rumahnya Sendiri

Kakek, Belanda itu jahat ya?” tanya gadis kecil sepuluh tahun itu.

Aku tersenyum maklum. Tidak perlu waktu lama untuk menjawab tidak, disertai berbagai macam alasan humanis. Bangsa kaukasia dari ujung dunia boleh saja menduduki tanah air ini selama ratusan tahun, menghantui hidup keluargaku turun-temurun, tapi tidak ada alasan untuk membenci satu bangsa secara utuh.

“Orang Belanda itu ada yang jahat. Ada yang pernah menjajah kita. Tapi ada juga yang tidak jahat. Ada juga yang baik. Sekarang pun kita sudah baikan sama mereka,” ujarku pada sang anak, berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.

“Ada yang baik?” tanyanya lagi.

“Iya, ada yang baik” jawabku tanpa ragu. Sekalipun ingatanku sekarang memperlihatkan adegan tentara-tentara berkulit putih membakar rumahku, memukuli keluargaku, dan membunuh istriku. Aku tidak akan meralat jawaban itu.

Gadis itu berlari-lari semangat ke ruangan lain. Hari ini aku memandunya untuk melihat koleksi-koleksi museum ini. Museum tua inilah tempatku bekerja, tempat yang menyimpan benda–benda bersejarah zaman perang kemerdekaan. Seorang veteran sepertiku beruntung bisa bekerja di tempat ini. Ingatanku yang masih segar tentang sejarah perjuangan sangat berguna sebagai pemandu museum. Banyak teman-temanku sesama veteran di luar sana yang terlantar menganggur.

“Ini senapan gede banget, kek!” seru anak itu bersemangat menunjuk sebuah senapan laras panjang lengkap dengan bayonet di ujungnya.

Aku mengangguk tersenyum. Senapan itu adalah sumbanganku pada museum ini. Dulu aku merampasnya dari salah satu gudang senjata milik Jepang. Masih cukup segar kuingat bagaimana aku merasakan sentuhan gagangnya, menarik pelatuknya, dan membuat banyak orang asing mati di negeri ini. Bukan ingatan yang indah.

AlbumArt_{75A0CC34-71AE-467B-8E99-819487061C90}_LargeMelihat senapan itu aku teringat kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat itu, museum ini kedatangan sejumlah tamu istimewa: veteran tentara Belanda. Sepuluh orang jumlahnya. Mereka adalah mantan anggota resimen Angkatan Darat Kerajaan Belanda yang melakukan invasi besar-besaran ke Indonesia setelah Proklamasi dikumandangkan.

Puluhan tahun berlalu sejak perang itu, sepuluh orang dari resimen itu kembali ke Indonesia, sebagai tamu.

“Selamat siang Pak Budi,” sapa seorang diantara mereka yang paling tinggi dengan Bahasa Indonesia yang lumayan. Usianya mungkin hampir sama denganku. Ia masih nampak gagah, hanya mukanya yang sudah keriput. “Nama saya Herman. Ini teman-teman saya. Suatu kehormatan bisa berkunjung ke sini.”

Goedendag Meneer Herman,” ujarku ramah, menggenggam hangat tangannya. “Goeden dag Heren” aku mengangguk hormat pada kesembilan pria lainnya. Mereka membalas serupa.

Basa-basi pun berlanjut. Kabar masing-masing ditanyakan. Tawa hangat dibagi. Tidak ada dendam. Tidak ada sentimen.

Aku pun menceritakan tentang diriku sendiri. Awalnya, aku hanya seorang petani di sebuah desa kecil. Namun, sejak suara lantang Bung Karno mengumumkan kemerdekaan lewat radio milik pak Lurah, aku bersama pemuda desa lainnya mengangkat senjata dan meninggalkan desa. Kaos dan celana lusuh menjadi seragam kami. Bambu dan golok menjadi senjata andalanku sebelum aku mencolong sepucuk senapan Jepang.

“Saya selalu kagum dengan gerilyawan Indonesia,” ujar Herman seraya kami berjalan melihat-lihat koleksi museum. “Tidak punya seragam. Tidak ada pangkat. Senjata minim. Berjalan kaki. Berbulan-bulan mendirikan kantong-kantong markas di hutan dan terus meneror kami padahal persenjataan kami lebih kuat. Enorme!” ia menggeleng-geleng takjub. Aku mengangguk merendah.

“Kamu tahu?” ia melanjutkan lagi. “Di Indonesia saat itu, Belanda nampak begitu superieur. Tank kami besar. Senjata kami senapan987 mesin. Tentara kami berbaris rapih. Sementara kalian gerilyawan kocar-kacir melihat kami datang,” Herman tersenyum, aku balas tersenyum.

“Tapi di Eropa sana, justru kami yang kocar-kacir saat Jerman menginjak tanah Hollands. Tentara kami berhamburan berlayar ke Inggris saat Belanda menyerah. Akhirnya malah rakyat sipil Belanda yang bangkit menjadi gerilyawan. Seperti kamu.” Ia menepuk bahuku lagi.

“Apakah Meneer Herman menjadi gerilyawan itu?” tanyaku. Ia hanya tersenyum dan tertawa kecil.

“Semua senapan ini, bagaimana bisa terkumpul di museum ini?” tanya Herman sambil melihat-lihat koleksi museum. Sekilas aku melihat bekas luka di tangan kirinya. Aku tersenyum senang sebelum mulai bercerita.

“Gedung ini dulunya milik pegusaha Belanda bernama Wilhelm Gustaf Wissner dan menjadi kantor usaha ekspor-impornya. Tuan-tuan pasti tahu. Saat Jepang datang, gedung ini sempat dijadikan gudang senjata. Baru saat Indonesia merdeka, kami menggagas agar gedung in dijadikan museum untuk mengenang perjuangan pejuang Indonesia, di kota ini khususnya.” Aku mulai becerita.

“Awalnya, kami mengumumkan agar mantan pejuang segera mengumpulkan semua senjata atau barang-barang lainnya yang digunakan saat berperang. Peninggalan mereka akan lebih berguna bila dititipkan ke museum. Barang-barang mereka akan aman, bahkan dapat menjadi inspirasi generasi mendatang,” tuturku. Sepuluh sesepuh bule itu mendengarkan dengan cermat.

“Orang-orang pun berbondong-bondong datang menyumbangkan barang-barang bersejarah mereka. Pistol, senapan, bayonet, seragam, koran propaganda, dan sebagainya.” Rombongan bule itu manggut-manggut. “Ada yang unik. Pernah ada yang menyumbang linggis dan sendok,” tambahku.

Bizar? Apa hubungannya linggis dan sendok dengan perang?” Salah seorang dari mereka, bukan Herman, ikut bersuara.

museum“Orang yang menyumbang itu bilang, linggis itu pernah ia gunakan untuk menusuk serdadu Belanda dari belakang. Maka itu ia rasa linggis itu barang bersejarah” aku menjelaskan.

“Dan untuk sendok, dulu, pernah ada seorang perwira Belanda sedang makan malam di sebuah villa. Kemudian, seorang pelayan pribumi datang untuk membawakan wine. Pelayan itu, yang ternyata amat dendam dengan orang Belanda, lantas mengambil sebuah sendok dan memukul perwira malang itu di kepala. Sampai berdarah.”

Seketika keheningan museum meledak dengan tawa sepuluh orang kaukasia. Beberapa sampai memegangi perutnya. Herman tertawa hingga gigi belakangnya terlihat. Aku tersenyum kikuk.

Herman pun ikut berkelakar. “Seandainya saja orang Belanda punya keberanian seperti orang Indonesia, pastilah sudah dari dulu kami menyamar menjadi pelayan Hitler. Agar saat dia sedang makan malam, kami bisa menusuk kumis jeleknya itu dengan garpunya sendiri, dan Perang Dunia kedua tidak perlu berlarut-larut!”

Di saat suasana masih penuh dengan gelak tawa, Herman menanyakan dimana sendok itu dipajang.

Aku menggeleng malu. “Kami kembalikan ke pemiliknya. Terlalu lucu untuk dipajang di museum.”

Mereka semua mengeluh kecewa, masih disertai tawa. Siang itu menjadi sangat akrab.

“Semua sama saja, manusia itu” ujar Herman ketus.

Aku menemaninya duduk minum kopi di ruang tamu museum sore ini. Kesembilan temannya sudah lama pulang ke Belanda. Berkumpul bersama anak cucu mereka. Hanya dia yang entah kenapa enggan beranjak dari negeri ini. Dari kota ini. Bahkan seharian ia bisa berjalan-jalan di museum ini dengan antusias.

“Sama apanya?” tanyaku polos.

“Bangsa ini. Bangsa itu. Penganut agama ini dan itu. Sama jahatnya. Sama brengseknya. Sama-sama berpikir bahwa orang-orang yang tidak sama dengan mereka pantas mati. Pantas tidak ada di muka bumi. Agar nanti yang tersisa hanya orang yang sama dan sependapat dengan mereka,”

Diam-diam aku kagum dengan kemampuannya berbahasa Indonesia. Dari mana dia belajar berkata retoris begitu?

coffee-cup“Ibuku sering bercerita tentang kegagahan Tentara Salib berperang merebut kota suci Yerusalem dari orang Islam. Kenapa orang Kristen tidak menginginkan keberadaan orang Islam? Di Eropa, seorang profesor ilmu sosial yang radikal pernah meyakinkanku bahwa manusia kaukasia lebih cerdas dan hebat ketimbang manusia mongoloid ataupun negroid. Maka itu, sah-sah saja bila bangsa Barat menjajah negeri Timur. Tak ayalnya singa yang selayaknya memangsa domba, karena rahang singa sudah dirancang untuk mengunyah domba, dan domba harus puas hanya mengunyah rumput.”

Herman menyeruput kopinya.

“Dalam detik-detik terakhir Slag om Netehrland, perang invasi Jerman atas Holland di Perang Dunia kedua, aku bertahan mati-matian di provinsi Zealand. Teman-temanku kabur kocar-kacir. Tapi aku dengan suka cita bergerilya. Pasukan Wermacht yang merupakan satuan elit Jerman itu tidak membuatku gentar. Seperti kamu yang bergerilya melawanku karena aku sudah menginjak-injak tanahmu,” ia berhenti sejenak seraya memandang hormat padaku.

“Namun lebih dari itu, aku merasa perjuanganku melawan Jerman adalah perjuangan yang mulia. Tentara radikal Schutzstaffel Nazi iblis itu membunuhi orang Yahudi seperti membunuh kecoak. Seolah dunia ini akan lebih baik bila berisi orang-orang ras Arya saja. Tanpa perlu ada Yahudi. Konyol sekali.”

Ia menyeruput kopinya. Seolah hanya kopi itu yang bisa membuat hatinya tenteram.

“Tapi toh saat orang Yahudi memiliki negaranya sendiri di Israel, mereka membunuhi orang Arab. Jadi sekarang menurut mereka dunia ini lebih baik bila tidak ada orang Arab?”

Herman menghela nafas panjang. Diseruputnya lagi kopi tradisional yang kubuat itu. “Javansee koffie, jauh lebih nikmat daripada cerutu Kuba,” bisiknya.

Aku memperhatikan kalung salib yang melingkari lehernya. Baru kemarin aku melihat ia memasuki Gereja Zebaoth, sebuah gereja di kota ini.

“Aku penganut agama yang taat, kalau kamu heran,” Herman berkilah cepat. “Nihilis iya, tapi tidak ateis. Agnostik pun tidak. Ini bukan tentang agama, ini tentang manusia. Aku berani melawan Jerman bukan karena aku seorang nasionalis Belanda. Justru karena aku yakin melawan Jerman adalah Perang Salib yang sesungguhnya,” ujarnya ringan.

Aku mengangguk seraya tersenyum.

“Kamu tidak bisa membuat pernyataan yang terlalu umum Herman. Kalau soal agama, aku pun sebagai muslim juga sering diajarkan untuk memandang buruk penganut agama lain. Tapi toh ada juga tokoh Islam yang pandangannya moderat. Begitu pula denganmu. Kamu paham? Jelas tidak semua…”

“Kalau maksudmu tidak semua orang Kristen jahat, tidak semua orang Jerman jahat, tidak semua Yahudi jahat, bahkan mungkin kamu mau bilang Adolf Hitler tidak sepenuhnya jahat, Ja! Aku paham! Itu memang benar! Never overgeneralized, yeah?” Potongnya dengan kesal.

Aku merasa bodoh tidak bisa memahami perasaannya. Mungkin memang benar, orang Kaukasia boleh jadi lebih pintar dari bangsaku.

Mijn God! lihatlah saya!” suara Herman naik dua oktaf. “Mau tahu satu rahasia? Saya adalah anak buah Westerling! Saya membantai bangsamu seperti menyembelih kambing. Boleh jadi ada sanak-saudaramu yang mati saya tembak. Tidakkah kamu paham? Saya membenci manusia layaknya saya membenci diri saya sendiri!”

Aku tersenyum. Akhirnya harus terbuka juga. Akhirnya kuungkap juga sesuatu yang kupendam darinya beberapa hari ini.

“Saya tahu kamulah yang membunuh istri saya. Bekas luka di tangan kirimu buktinya. Saya yang menembakmu dari jauh, setelah kamu membunuh istri saya saat itu,” ucapku lancar.

Keheningan melanda kita berdua cukup lama. Herman melirik bekas luka di tangan kirinya.

“Jadi kamu penembak jitu berpakaian petani sawah itu?” bisiknya pelan, hampir-hampir tidak menggerakan bibirnya.

Ja, het was me” jawabku ringan. “Tapi aku tidak menggarap sawah. Aku berkebun singkong.”

Detik selanjutnya Herman menjatuhkan dirinya ke lantai, mencium kakiku sambil berurai air mata.

“Sejak kapan kamu menyadarinya?” Ia berkata terisak.

Aku memandang langit-langit. Kurasakan air mata juga meleleh di pipiku. Sumpah atas balas dendam sudah kuteriakkan saat menangisi mayat istriku. Setelah lama aku aku mencari pembunuh ini. Setelah puluhan tahun menunggu, setelah selama ini terpisah sejauh setegah lingkar bumi, akhirnya kita bertemu lagi.

Kini pembunuh itu bersujud di kakiku. Sangat mudah untuk menendang kepalanya atau mengambil senapanku di ruangan sebelah. Senapan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Tapi entahlah, aku tidak merasakan dendam itu menggebu lagi. Justru kini rasanya amat damai. Damai sekali. Mungkin aku sudah terlalu tua.

“Aku sudah tahu sejak pertama kali kamu ke sini. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, saudaraku.”

“Aku? saudaramu? Inlander bodoh! Aku ini iblis! Iblis!”

“Kamu menembak istriku karena ia menyerangmu dengan golok. Siapa yang iblis?”

“Aku yang iblis, dom! Aku menodongkan pistol pada anak-anakmu! Ibu mana yang tidak akan melindungi anak-anaknya? Idioot!”JapBikes

Hanya ada suara tangis Herman di ruang tamu itu dalam waktu yang cukup lama. Cukup lama sampai sepertinya museum ini sudah akan tutup.

“Kamu pikir, aku tidak pernah berbuat jahat?” kataku akhirnya. Aku masih terduduk. Herman masih berlutut memeluk kakiku.

“Apa maksudmu?”

“Setelah perang usai, aku melanjutkan karirku dalam satuan militer resmi. Dan kamu bisa menebak, seorang veteran yang tidak punya musuh lagi untuk dilawan, kehilangan istri pula, akan sangat mungkin mencari musuhnya sendiri.” Aku bercerita sementara Herman masih terisak.

“Saat itu tahun 1965, terjadi tragedi di Indonesia. Tujuh jenderal besar dibunuh oleh pemberontak komunis. Kami pun bergerak menumpas pemberontak itu sampai akar-akarnya. Aku sudah berpangkat tinggi. Kami membantai begitu banyak orang, seperti tadi kamu bilang, seperti kecoak. Tidak peduli dia memang benar milisi pemberontak atau hanya simpatisan dari partai pemberontak itu. Semua tanpa pengadilan. Kami bantai para petani, kuli bangunan, atau pedagang sayur yang kami tuduh komunis padahal mereka paham politik saja tidak. Bahkan sepupu dan ipar dari orang yang kami curigai pemberontak, juga turut kami bantai. Seperti kecoak.”

Herman mengangkat mukanya. Menatapku dengan mata sembab. Tiba-tiba kutarik kerah bajunya, kudekatkan dengan mukaku.

“Aku dan kamu sama-sama pria dengan tangan berlumur darah. Api di neraka sudah disiapkan untuk membakar jiwa kita dalam waktu dekat. Berapa sisa umurmu? Tidak lama lagi saya rasa,” aku berkata dengan nada rendah dan menekan. Herman bergetar.

“Tapi menyesal sekarang tidak ada gunanya. Tidak ada yang bisa kamu ubah dari masa lalu. Semoga dengan melawan Jerman bisa menghapus dosamu dari membantai istriku. Aku melawan kalian yang telah membantai bangsaku, dan berdoa semoga itu dapat menghapus dosaku dari membantai bangsaku sendiri.”

Herman tersenyum, “saling membantai dan menyembelih, hanya itukah yang bisa diperbuat manusia?” katanya sinis.

“Tidak, bila kau menyadari kesalahanmu. Bayarlah dengan perbuatan baik pada manusia lain. Siapa tahu itu bisa mengobati luka kemanusiaan yang kita sebabkan.”

Herman tersenyum tipis. “Budi, bisa bantu aku untuk mendapat pekerjaan di museum ini? Aku bisa menjadi pemandu yang baik”

“Herman, kenapa kamu tidak ingin pulang ke Belanda?” tanyaku suatu sore, kami berdua sedang membereskan barang-barang di kantor sebelum tutup.

“Sebagian besar hidupku kuhabiskan di Hindia Belanda. Dinas di negeri tropis sangat menantang bagi Herman muda setengah abad silam. Sampai-sampai aku lupa mencari istri hingga tua. Kembali ke Belanda hanya membuatku asing. Pasporku boleh saja menerangkan kalau asalku dari sana. Tapi aku sungguh asing dengan tanah itu. Aku tidak menyukai makanannya. Tidak nyaman dengan pekerjaannya. Tidak ada juga saudara yang aku kenal dekat.” Herman bercerita.

“Tapi tempat ini,” Herman menerawang dinding dan etalase museum. “Rasanya amat familiar. Aku kenal tempat ini. Negeri ini. Rasanya seperti di rumah.”

“Aku ingin sekali ke Belanda,” kataku. “Konon manuskrip dan peninggalan sejarah dan seni Indonesia banyak yang tersimpan di Belanda. Dan aku ingin melihat aksi sepak bola Ajax Amsterdam dari dekat. Sekalian menguji bahasa Belandaku,” kataku antusias.

“Ya, kuantar kau kapan-kapan. Oh iya Budi, aku masih tidak percaya kau sungguh membunuh orang tidak bersalah di tahun 1965. Rasanya tidak mungkin.”

Aku tertawa maklum. “Memang bukan tanganku yang selalu melakukannya. Aku bahkan menolak perintah atasanku bila harus imagesmembunuh orang tidak bersenjata. Tapi ketika anak buahku mulai melakukan pembunuhan tanpa perintahku, aku diam saja. Takut berbuat apapun. Kamu harus paham, berdiam di saat kamu bisa mencegah pembunuhan sama saja dengan melakukan pembunuhan itu sendiri.”

Herman mengangguk paham. “Apa nama museum ini, sekali lagi?”

“Museum Perjuangan Bogor.”

Boger itu dari nama kota ini kan? Apa namanya? Booger?”

“Ya, itu nama kota ini. Belanda dulu menamakannya Buitenzorg, kami menamainya ulang menjadi Bogor. Mungkin kamu lebih enak menyebutnya Buitenzorg.”

Ja, Buitenzorg. Kota tanpa kecemasan. Aman dan tenteram. Nama yang sangat tepat,” Herman berbisik untuk dirinya sendiri.

“Jadi, Belanda itu gak semuanya jahat kan, kek?” tanya gadis itu lagi. Kali ini ia datang bersama kakak laki-lakinya. Orang tua mereka hanya menunggu di depan pintu. Tidak terlalu suka datang ke museum dan heran kenapa gadis kecil mereka suka sekali.

“Iya, itu sudah jelas. Belanda ada yang baik, ada yang jahat,” jawabku.

“Tapi kata guru sejarahku, Belanda itu penjajah bangsa kita. Jadi mereka jahat,” kata kakak laki-lakinya polos. Mungkin ia masih SMP.

Aku menghela nafas sabar. Kujelaskan pada mereka sekali lagi.

“Orang Belanda itu ada yang jahat. Ada yang menjajah kita. Menjarah tanah kita. Tapi ada juga yang baik. Yang mendidik kita supaya bisa baca-tulis. Nah, orang Indonesia kan ada juga yang baik. Yang suka menolong suka membantu. Tapi ada juga yang jahat. Yang suka mencuri. Suka mengambil hak orang lain,” paparku.

Diam-diam aku melirik Herman di dalam kantornya, sibuk mengerjakan laporan berlembar-lembar. Ia telah menjadi pemandu museum yang hebat. Jelas saja, dia pembaca buku sejarah yang cepat dan seperti aku, dia sendiri adalah aktor dalam sejarah. Dia berada di pihak “jahat” dalam kurikulum sejarah yang diceritakan museum ini. Gajinya di sini pun amat menyedihkan. Tapi aku dan para pengurus museum lainnya sangat menyukainya. Dia pun senang di sini. Seperti di rumah.

“Bahkan ada orang yang meskipun jahat, tapi di dalam hatinya bersemayam hati yang baik.” Aku melanjutkan. “Ada banyak orang jahat yang menyesali perbuatannya. Yang ingin berubah menjadi orang baik. Sama halnya orang baik yang diam-diam juga punya niat yang jahat,” kataku lagi.

Kedua kakak-beradik itu bertatapan. Sama-sama tidak paham. Aku lupa bahwa aku bicara dengan anak kecil. Ah, senangnya menjadi anak kecil polos yang tidak paham banyak hal. Seandainya saja pertumbuhan manusia berhenti di usia mereka, mungkin dunia ini tidak akan mengenal perang dan kesedihan.

Hamzah Zhafiri Dicky

Berusaha menulis tentang kemanusiaan dalam perspektifnya sendiri yang sangat dangkal

Berpangku tangan

black silhouette man think

“Kau merasa sakit Hannah?”

“Tidak tuanku”

“Kamu yakin? mukamu hancur seperti itu”

“Benda mati hanya bisa rusak tuanku, tapi kami tidak merasa sakit.”

Tuanku menghela nafas. Dipandanginya aku yang tidak lagi berfungsi dengan baik ini. Mukaku pecah. Aku malu sekali.

Dia pun merebahkan dirinya di kasur. Mencoba untuk tetap bernafas tenang. Entah sudah ada berapa pikiran di kepalanya. Continue reading

Pembicaraan Invalid

young man silhouette sitting computing laptop

Langit sudah mulai gelap ketika tuanku dengan amat bersemangat menuliskan sebuah surat. Meski bukan yang pertama kali, tapi tidak setiap hari aku melihat tuanku semangat semacam itu. Dia tuliskan kata-kata yang sangat indah itu, dirangkainya satu-per-satu, huruf per huruf, kata per kata, menjadi kalimat, menjadi paragraf. Ia gerayangi tubuhku untuk menuliskan itu, bahkan terkadang ia gerayangi aku dengan kasar. Menekan-nekan tubuhku dengan keras dan memandangi mukaku dengan garang. Tapi aku tahu, sudah kewajibanku untuk melayaninya. Continue reading

Sang Veteran

nq4DpUi

Bukan pertama kalinya aku berkunjung ke tempat ini, sebuah bangunan tua renta di tengah kota yang lumayan bersejarah. Masih kuingat saat pertama kali ke sini dua tahun yang lalu. Saat itu guru SMA menugaskanku untuk mengunjungi sebuah situs kota dan membuat ulasan tentangnya. Jadilah aku mengunjungi Museum Perdjoangan Bogor, sebuah sudut kecil di kota ini yang mengumpulkan bukti bahwa dulu kota ini punya sejarah berjuang melawan penjajah. Continue reading

Tanda Cinta?

love-emo-question-intimate-31000

Panggung Teater Gadjah Mada terpapar di hadapan penontonnya, dikelilingi kain-kain kelambu hitam, tanpa cahaya, tanpa penerangan. Perlahan tapi pasti lampu sorot mulai menerangi tengah panggung, sebuah meja biasa menampakan dirinya, tidak lupa taplak sederhana menyelimuti, lengkap dengan vas bunga diatasnya. Dua kursi di meja itu turut terpapar oleh cahaya lampu, melengkapi suasana sederhana sebuah ruang tengah keluarga. Continue reading

Majikan

anjing

Sontak aku terbangun, dan dengan gerakan lincah aku berlari meninggalkan kandangku, menyusuri ruangan demi ruangan, melewati perabotan, hingga menembus lubang di bagian bawah pintu keluar yang disediakan untukku. Dengan sigap aku berada di luar rumah dan menggigit setumpuk kertas yang ada di depan pintu. Tumpukan keras itu datang tepat waktu, dilemparkan oleh manusia berseragam aneh tiap pagi. Dengan tumpukan kertas di mulut, aku kembali masuk ke dalam rumah, berlari dengan empat kaki menuju kamar majikanku. Setibanya di depan pintu aku berhenti dan meletakan tumpukan kertas itu. Pintu kamar majikanku tetap tertutup dan terkunci, sengaja tidak ada lubang di pintu itu agar kamar ini menjadi satu-satunya kamar yang hanya bisa kumasuki dengan seizin majikanku. Continue reading

Mesiu

hitman-silhouette-236x336

Terbitnya fajar pagi itu memang tidak sanggup menghapus jejak hujan tadi malam. Tidak juga kicauan burung gereja yang riang maupun nyanyian jangkrik terakhir, tidak ada yang dapat menyembunyikan tragedi. Embun bergulir damai dalam sepucuk daun, begitu damai karena tidak berurusan dengan manusia. Kabut tipis menyelimuti sebuah gedung kosong yang telah lama ditinggalkan. Mengelusku lembut dengan butir-butir air yang melayang. Mungkin kedamaian terakhir yang akan kuterima hari ini. Continue reading

Pagi Ini

birds

 

Bangun pagi dengan perasaan aneh hari ini.

Tidak seperti pagi-pagi biasanya dimana aku bisa menggeliat segar karena malam sebelumnya telah bermandikan cahaya bulan.

Pagi ini adalah hampa. Tanpa ada perasaan, tanpa ada pemikiran. Semua seolah larut begitu saja.

Selintas demi selintas bersama dengan pulihnya kesadaranku, bermunculan kembali pikiran-pikiran.

Pikiran yang tidak sama dengan yang kupikirkan pada pagi biasanya. Aku memikirkan pertanda, memikirkan kata dan frasa yang perlu diucapkan pada manusia, memikirkan kewajiban dan ambisi, memikirkan wajah yang tidak mau tersenyum. Ingatanku pun membawaku pada keindahan tertentu. Pada beningnya cahaya dan wangi harum yang menyerbak memabukkan. Pada canda tawa dan bentuk wajah yang manis jenaka. Semua bermain-main dalam kepala.

Semua kemudian kabur begitu saja.

Sungguh, memikirkan akan manusia adalah suatu yang mambuat lena. Membuat seorang manusia bebas menjadi budak hina. Merubah pria terhormat menjadi banci gila. Kini sang kacung perasaan telah dilempar ke ujung ruangan, layaknya kain pel yang sudah lama terpakai.

Maafkan, karena tidak pernah menjadi berarti. Tidak pernah menjadi dia yang akan dibanggakan karena telah mengenalnya. Tidak pernah berbuat suatu apa yang dapat meringankan beban di pundakmu. Bahkan kain pel masih lebih mulia dari aku.

Pagi ini mulai beranjak lalu dalam lesu. Embun sejuk pagi menghibur bagai hujan malam itu. Burung-burung bersapaan, pria-pria mendengkur, sedikit yang menggeliat. Burung hantu pun berangkat tidur, takut dibakar matahari. Tapi meski memang matahari akan membakarnya, dia akan tetap sabar menunggu malam, di mana purnama akan memandikannya.

Pungguk pun masih ingin mencintai rembulan…